Hidup Itu Kudu Berjuang!

“Aku membenci perspektif Owen yang melihat bahwa hidup ini sungguhan seperti air mengalir. Sering sekali aku ingin membedah otaknya dan membenarkan cara berpikirnya yang membuat dirinya semakin tak acuh.” 

β€” Jana, di malam hari tepat setelah cahaya matahari tersapu sinar redup sepotong rembulan.

Advertisements

Jatuh cinta.

“Karena tersadar bahwa aku lebih dari mengharapkanmu, maka aku diam. Aku sudah jatuh cinta dengan cara yang tak terduga, dan juga dengan jalan yang tak pernah kukira. Adapun bagaimana akhirnya, aku tak ingin menerka-nerka. Bersamamu atau tidak, kini bukan lagi perihal genting. Menyaksikan engkau berbahagia dengan pilihanmu, itu adalah final perasaanku. Aku jatuh cinta padamu, juga pada pilihan mencintai pilihanmu.”

β€” Owen, di pagi hari menuju siang yang tak begitu terik seperti biasanya.

Welcome back!

Selamat datang kembali, wahai penulis yang tak kunjung mahir menulis! Mari kita ramaikan lagi jagat maya di wordpress ini. Oiya, Alhamdulillah….saya sekarang sudah kembali lagi ke Cibubur, Jakarta. Empat tahun terasa begitu cepat dilalui saat semua berhasil diakhiri dengan rasa syukur dan suka-cita pada tanggal 3 Oktober yang lalu.

Baiklah, mulai dari sini kita kembali bercerita soal apa saja tentang kepulanganku. Semoga saya bisa lebih konsisten menuliskannya di sini. Maaf kalau ada beberapa bagian tulisan bersambung yang belum berlanjut, ehehehehe. 😜

</3

Siapa yang tidak akan jatuh cinta kepada jalan dakwah dan orang-orang yang menekuninya? Bahkan dari orang yang paling keras hati atau keras pikiran juga bisa merasakannya. Lalu, kenapa aku berhenti?

Katanya, duduklah bersama orang-orang yang banyak menyebut Asma’ Allah. Katanya, duduklah bersama orang shalih. Katanya, tukang minyak wangi seperti orang shalih yang mudah menyebarkan bekas harumnya.

Iya, katanya.

Akan tetapi, entah apa yang aku lakukan. 😦 😦

Aneh.

Saya merasa aneh ketika ada laki-laki yang mengatakan, “Sabar aja, nanti juga dapet jodohnya”. Heeeiii! Apalagi kesalahan saya di medsos yang bikin kakak laki-laki saya itu berkata demikian? Rasanya saya tidak lagi banyak mengumbar like atau unggahan berbau pernikahan, jodoh, suami, dsb. =_= 

Yhaa okey lah, kalau sesekali sih mungkin.

Aneh rasanya ketika yang meledek saya adalah laki-laki dibandingkan perempuan. Sepertinya, jika laki-laki yang meledek menampakkan kesan pada saya rasa iba dirinya. Padahal, saya enjoy aja not so much worries. Yha…saya juga percaya jodoh akan datang dengan waktu yang sudah dikehendaki πŸ™‚

Oh, yes! Saya baru menyadari bahwa belakangan ini saya suka sekali like unggahan foto keluarga yang sangat terlihat bahagia. Lalu, berhubung saya sedang ‘liburan’ di rumah maka saya sering bermain dengan adik keponakan yang masih balita. Yha, mungkin saja dua hal ini mengesankan saya yang terlihat ‘ngebet’ nikah. Padahal mah enggak, ENGGAK DAH. 

Fakta sebaliknya, sepertinya dalam prinadi saya mulai tumbuh ‘commitment issues’. Jadi, saya merasa menikah itu bukan suatu hal yang saya ingin-inginkan seperti dahulu. Setelah saya berkontemplasi, menjalani kehidupan mandiri sepertinya cocok untuk kepribadian saya. *saking lamanya ngejomblo kali yha jadinya terbayang enakan sendiri

Begitulah. Belum lagi ditambah  experiences sebagai anak terakhir yang mengalami dinamika kehidupan rumah tangga kakak-kakaknya semakin membuat keraguan untuk menikah. Insecure.

Eh tapi, kalau jodohnya ternyata emang dateng pada suatu hari, saya berdoa semoga dia bisa tangguh dan sabar. Ehehe. Hidup saya penuh keraguan……….

Beauty

Globalisasi membuat setiap informasi jadi mudah diakses banyak orang. Informasinya bisa dalam bentuk yang bervariasi, mulai dari gambar, gambar bergerak/video, rekaman suara, film, tulisan, atau juga siaran langsung. Saya termasuk sering mengakses informasi berbentuk gambar, video, dan tulisan. Salah satunya nih yang sedang banyak dilihat dan banyak tersebar adalah beauty tutorial. 

Saya menyadari kalau saya ngga berbakat melukis, apalagi melukis wajah a.k.a bikin make up. Tapi, saya senang melihat (untuk menambah wawasan sebagai perempuan, wkwkwk) video make up tutorial. Aku akui bahwa mereka beauty blogger/vloggerβ€”sebutannyaβ€” sangat sangat sangat cantikk! Mereka cantik bahkan sejak sebelum melakukan make up! Kadang terpikirkan, ngapain ya mereka pakai make up kalau polos aja cantiknya udah parah begitu. 

Belum lagi mereka sering mempromosikan lulur, masker, maupun krim. Lalu saya terpikirkan lagi, heeuu, efeknya sebelah mana ya….perasaan nggak ada bedanya sebelum pake sesudahnya, sama-sama cantik dan kinclong banget. Tapi, yaaa bebas aja namanya juga orang cantik. Hahaha. Saya malah lebih fokus mengagumi sebelum mereka pakai make up. Yampun ada yaa orang dilahirin cantik kaya gitu, masyaaAllah hidungnya, bulu matanya, senyumnya, giginya, kulitnya, dll. Sambil menyadari saya yang hahahaha cuma bisa ketawain diri sendiri aja.

Ada hal lain yang akhirnya saya sadari. Di Indonesia ukuran kecantikan tuh putih-langsing-tinggi-rambut lurus-imut dengan dibuktikan dari setiap iklan dan sinetron/film isinya adalah perempuan-perempuan dengan kriteria cantik tsb. Terkadang saya agak terganggu dengan hal itu karena merasa minder. Tapi, saya juga memikirkan hal lain.

Kenapa kita ngga bisa percaya diri aja dengan tubuh kita sendiri? Kenapa harus wajib kudu ahli make up untuk bisa dikategorikan cantik? Kenapa saya lebih bisa memuji orang lain yang tanpa make up dan selalu minder thd tubuh saya yang dengan atau tanpa make up? Apakah yang sedang ada di dalam pikiran kita semua di dunia ini tentang definisi cantik, sebenarnya? Kenapa televisi tidak memulai untuk menampilkan perbedaan itu sebagai kecantikan yang sebenarnya?

Banyak sekali pertanyaan saya tentang hal ini. Saya cukup terpengaruh dengan suatu karya tulis Tere Liye di dalam sebuah bukunya yang saya lupa apa judulnya. Katanya yang saya pahami adalah bahwa uatu saat kalau akhirnya semua perempuan menjadi cantik dalam satu definisi maka yang terjadi semuanya akan nampak biasa-biasa saja. Lalu, Tere Liye mengilustrasikan kembali yang lainnya, kira-kira begini: “lalu, muncul seorang perempuan berkulit gelap, pendek, gemuk berisi, dan berambut keriting di antara perempuan cantik tsb. Akhirnya, laki-laki pun mulai tertarik dengan si perempuan aneh itu. Kemudian, definisi kecantikan berubah kembali. Begitu seterusnya.”

Yep, menjadi tubuh kita seperti seseorang lain tak menjadikan kita cantik.