Skies.

Hi someone there! Please look at the sky right now. There a moon shining brightly, just like your smile. I love it.

Bulannya berbeda ternyata ketika dilihat dari Jakarta. Sewaktu di Bandung, bulannya terlihat kecil pada saat ‘supermoon’ seperti saat ini, meskipun aku mengamati dari ketinggian lantai tiga.

Selain itu, masih ada hal yang berbeda. Sampai sekarang ada banyak hal yang hilang. Apakah karena tertinggal di Bandung? Apakah karena aku tidak menyelesaikannya? Ataukah, karena memang Jakarta selalu hambar ketika dipeluk lama?

Tidak. Aku rasa satu-satunya penyebab adalah karena aku kehilangan konektivitas berhargaku. Di sini, aku benar-benar tidak merasakan kesyahduan walaupun sedang sendirian.  Apakah yang sedang terjadi padaku saat ini?

Oh iya. Ini sih out of the topic. Tapi, aku ingin ceritakan (maaf, kalau sekiranya tidak dapat dipahami). Jadi, sebelum peristiwa beberapa waktu lalu yang menurutku sangat memalukan itu terjadi, aku merasakan sensasi berbeda. Aku menyesali kecorobohanku. Aku kehilangan sensasi itu sekarang. Tapi, yaudah sih ya…. Hikmahnya adalah semua jadi lebih jelas sekarang dan nantinya. Yah meskipun aku tidak bisa membayangkan bagaimana efek kedepannya :/

Hi someone there! Kalau kamu lihat bulan saat ini, sesungguhnya wajah kita sedang bertatap. Barangkalo kau di sana juga asyik menikmati cahayanya. Aku selalu berdoa agar suatu saat nanti aku bisa berkesempatan ditemani olehmu menikmati rembulan sampai pagi..sampai kerlip-kerlip gemintang samar dilapisi cahaya keemasan matahari.

Advertisements

Menjangkaumu lewat huruf-huruf yang usang.

Aku tidak akan bertanya bagaimana kabarmu saat ini. Aku selalu percaya bahwa engkau akan selalu baik-baik saja, bahkan dalam keadaan yang sulit sekalipun. Itulah keahlian istimewamu, dan mungkin engkau tidak sadar.

“Siapakah ‘engkau’?”, tanya mereka.

“Inilah engkau”, jawabku.

Aku memuji diriku sendiri karena terlalu pandai melakukan kesalahan dengan berkali-kali. Aku selalu menuliskan tentang engkau yang mereka tidak perlu tahu–dan tidak perlu mengira-ngira siapa, yaitu sejak ada rindu kepadamu yang mengisi hati. Rindu itu bagai tinta yang menetes terus-menerus mengisi sebuah pena sehingga harus dialirkan untuk dituliskan lewat cerita, jika tidak akan tumpah berantakan.

Hari ini kerinduan itu tidak jua berubah bentuk. Akan tetapi, aku mulai ragu untuk menuliskannya. Iya, benar…rindu itu kini tumpah berantakan. Apa yang hari ini aku lakukan adalah membaca setiap cerita yang pernah aku tuliskan sewaktu dulu.

“Mengapa tertawa?”, tanya mereka lagi.

“Aku malu. Sampai saat ini semuanya sia-sia belaka”, jawabku.

Hhm…baiklah, aku akan berusaha menepati janjiku. Aku akan mengumpulkan semua yang sia-sia ini. Hei, apakah engkau ada ide bagaimana menyusun ulang alurnya?

You Go Ahead (:

Kita sebetulnya kompak. Minimal, kita pernah begitu. Lalu, ada angin lewat & kita terpisah masing2. Aku salah tak mencoba menyelamatkan dgn serius. Kemudian, kita benar2 hilang.Waktu bergulir hingga kamu menghubungiku lagi. Ini lucu, haha.

Bukankah terakhir kali dirimu tidak menanggapi beberapa pesan yg sengaja kukirim? Aku senang, terlebih lagi merasa bingung. Ada hal penting apakah gerangan? Tapi, aku tidak merisaukan kebingunganku. Aku berharap kita bisa kompak seperti dulu. Beberapa kali kita berbincang, bertukar pendapat, dan bernostalgia.

Sebenarnya aku tidak terlalu mempedulikan apakah ada alasan khusus yang membuat dirimu menghubungiku pertama kali dengan sedemikian ramah dan luwes (seperti layaknya baru satu hari tidak berkabar). Spekulasiku masih belum terbukti hingga saat ini. Tapi, aku yakin itulah alasan terbesarmu. 

Bagaimana aku yakin, katamu?

Tentu saja itu karena aku merunut2 apa yang sekiranya bersambung dan berpotongan di antara alur kisah kita masing2. Entah mengapa aku yakin dengan pengamatanku ini. Angkanya mencapau sebesar 75%. Meskipun demikian, aku tidak masalah jika spekulasiku kenyataannya tidak te– eh, kurang tepat.

Satu hal yang ingin aku kabarkan kepadamu bahwa aku tidak akan berupaya mengambil kebahagiaan orang lain, walaupun aku sendiri ingin memilikinya. Aku ingin kmu melihatku sama seperti pertama kali kita berkenalan; kmu terlihat mempercayaiku krn kita punya beberapa kesukaan yg serupa. Hal ini berharga bagiku. Kamu tahu, aku lebih mmpercayaimu untuk memiliki kebahagiaan itu dibandingkan jika aku yg memilikinya. Di dalam bayangan pikiranku saja hal itu mustahil pantas aku miliki. Standar kelayakanku tidak sebanding dgn levelmu yg lbh tinggi. Terlebih lagi, kalian berdua sudah cocok!

Jadi, tolong jangan hiraukan saja aku. Aku akan lebih tenang jika berjalan demikian. Aku mendukungmu sebagai mantan partner perjuangan yg dulu penuh gejolak 😁😁😁.

Ada yang pernah ada.

Ada yang pernah ada, namun kini hilang. Kita dengar kesulitan seseorang yang amat pelik. Lalu, hanya sebuah komentar yang terlontar: “Apakah presiden kita tahu hal ini? Tidak ada yang peduli dengannya.”  

Ya. Barangkali aku masih belum merasakan hidup yang sebenarnya, yaitu penuh onak dan duri. Tapi, aku ingin sekali berkhayal…andaikata kita semua kembali kepada prinsip gotong royong, apakah komentar ini akan tetap terlontar?

Hidup Itu Kudu Berjuang!

“Aku membenci perspektif Owen yang melihat bahwa hidup ini sungguhan seperti air mengalir. Sering sekali aku ingin membedah otaknya dan membenarkan cara berpikirnya yang membuat dirinya semakin tak acuh.” 

— Jana, di malam hari tepat setelah cahaya matahari tersapu sinar redup sepotong rembulan.

Jatuh cinta.

“Karena tersadar bahwa aku lebih dari mengharapkanmu, maka aku diam. Aku sudah jatuh cinta dengan cara yang tak terduga, dan juga dengan jalan yang tak pernah kukira. Adapun bagaimana akhirnya, aku tak ingin menerka-nerka. Bersamamu atau tidak, kini bukan lagi perihal genting. Menyaksikan engkau berbahagia dengan pilihanmu, itu adalah final perasaanku. Aku jatuh cinta padamu, juga pada pilihan mencintai pilihanmu.”

— Owen, di pagi hari menuju siang yang tak begitu terik seperti biasanya.

Welcome back!

Selamat datang kembali, wahai penulis yang tak kunjung mahir menulis! Mari kita ramaikan lagi jagat maya di wordpress ini. Oiya, Alhamdulillah….saya sekarang sudah kembali lagi ke Cibubur, Jakarta. Empat tahun terasa begitu cepat dilalui saat semua berhasil diakhiri dengan rasa syukur dan suka-cita pada tanggal 3 Oktober yang lalu.

Baiklah, mulai dari sini kita kembali bercerita soal apa saja tentang kepulanganku. Semoga saya bisa lebih konsisten menuliskannya di sini. Maaf kalau ada beberapa bagian tulisan bersambung yang belum berlanjut, ehehehehe. 😜