keindahan punya waktunya

fireflies

[ FIKSI ]

Alkisah suatu hari bersahabatlah dua orang muda-mudi bernama Wendi dan Wanda. Mereka memang sudah sangat dekat layaknya kakak yang menjadi adiknya. Wendi berumur 18 tahun dan Wanda setahun lebih tua dari Wendi.

Bersahabat selama 3 tahun membuat mereka saling memahami satu sama lain. Bertukar pikiran, mencurahkan kejenuhan, berbagi ceria dan kesedihan bersama. Suatu malam, Wanda merasa jenuh dengan tugas-tugas kuliahnya yang menumpuk dan juga segudang urusan organisasi yang ia tekuni sejak lama. Wanda ingin berjalan-jalan di malam hari dan mengajak Wendi untuk menemaninya.
“Wen…temenin gue ke…kemana ya enaknya?”, pinta Wanda melalui telepon seluler.
“Malem-malem gini? Nggak ah, udah jam 9. Gile aja lo cewe keluar malem di atas jam 9.”, balas Wendi agak malas.
“Peeliiiiisss…gue lagi stress banget nih. banyak tugas, banyak acara. Gue mau jalan-jalan. Ayook temenin gue..”, bujuk Wanda
“Nggak.”
“Cuma sebentar. Nggak jauh-jauh deh, ke taman kompleks depan aja.”
“Nggak. Alay banget sih ngajak nongkrong ke taman kompleks.”
“Yaudah deh. Gue keluar aja sendiri. Kalo nyokap gue nanyain gue bilang aja gue jalan sama lo. Dah.”, Wanda menutup teleponnya dengan kesal.
“Dasar…bocah banget sih jadi anak.”, gumam Wendi di seberang.

Malam itu langit sedang mendungseperti hati Wanda. Tak ada sebinarpun cahaya bintang dan rembulanpun tampak sendu. Wanda yang sedang duduk-duduk di bangku taman jadi enggan memandang ke atas.
“Ah, emang sial banget gue. Langit aja lagi nggak berpihak ke gue malem ini. Perasaan malem sebelumnya banyak banget bintangnya.”
“Kadang yang lo butuhin untuk melihat keindahan adalah berjalan, bukan mengejar.”
“Iiiihh….ngapain lo tiba-tba di sini?”, Wanda terkejut dengan kehadiran Wendi yang tiba-tiba dan tanpa suara.
“Hhhmm.”, Wendi menarik napas dalam menahan emosi,”Denger ya bocah, lo tuh cewe! Selain rawan kejahatan, udara malem tuh nggak baik, nah sekarang gue jemput lo buat pulang.”
“Nggak. Pulang aja sendiri. Gue bisa jaga diri sendiri.”, balas Wanda dingin
Keduanya terdiam beberapa detik. Wendi akhirnya ikut duduk di samping Wanda.
“Yaudah, gue izinin lo di sini 15 menit lagi sampe jam 9.45”
“Nggak. Gue nggak butuh elo”
Wendi hanya bersila dengan tenang, tak menjawab. Suasana menjadi semakin hening. Angin malam juga berhembus kian kencang menerpa tubuh. Dan, semakin hening..
“Kunang-kunang!!”, seru Wanda dengan setengah berteriak
Satu kunang-kunang, lalu dua, tiga, lima, dan….
“Waaahhh…jadi banyak kunang-kunangnya. Ween, liat keren banget.”
“Nih.”, Wendi mengulurkan tangannya perlahan, “Sssstt. Liat. Ada yang nempel satu di lengan gue nih.”
“Waaahh…”, Wanda mendekatkan wajahnya ke arah lengan Wendi perlahan, “Eh, kayak…kok, kayak kecoa sih bentuknya”
“Hhm?”, Wendi ikut memperhatikan
“Tapi, bagus cahayanya”
“Norak.”
“Yah, terbang. Ah, lo gerak sih..”,
“Kata lo kayak kecoa..”
“Tapi, baguuuuss…”
“Kalo satu doang nggak bagus. Biarin terbang. Kan jadi tambah rame, tuh. Bagus.”
“Iya..”
“Liat kan. Lo nggak perlu mengejar keindahan. Sekarang lo udah ngeliat kunang-kunang yang kayak bintang di depan mata lo. Biarpun nggak di langit, tapi lebih bagus”
“Iya..”, kali ini Wanda mengiyakan, walaupun ia kurang mengerti artinya.
“Tapi…keidahan yang lo liat sekarang ini juga sementara.”
“Hah?”, Wanda kembali bingung mendengar kata-kata Wendi.
“Kalo siang hari, lo nggak pernah kan liat yang kayak begini?”
“….”
“Jadi, keindahan juga punya waktunya. Kunang-kunang indah waktu malem, kalo siang cuma keliatan jadi kayak kecoa. Bintang juga gitu.Bulan juga. Elo juga.”
“Gue??”, Wanda tambah bingung.
“Iya! Sekarang mungkin belum saatnya lo merasakan keidahan hidup lo, tapi nanti. Jadi, jalanin dulu aja. Anggap lo adalah kunang-kunang yang berada di siang hari. Menunggu malam dateng dan bersinar…”
“Ahh, apa maksudnya? Nggak ngerti gue”
Wendi meninggalkan duduknya dan berbalik.
“Sekarang kita pulang, udah malem banget, jalanin aja dulu masa-masa yang belum indah dengan sebaik-baiknya, nggak usah ngeluh, dan tunggu saat semuanya menjadi indah. Tunjukkin bahwa kita lebih hebat dari kunang-kunang dan akan lebih indah dari dia suatu hari.”
“Iya”, Wanda mengikuti Wendi berjalan di belakangnya.

Suasana kompleks sudah sepi. Hanya ada satu-dua suara jangkrik dan terdengar atau suara satpam-satpam yang sedang menonton bola.
“Eh, Wen, makasih ya.”
“Hhm.”
“Tapi, kok kayaknya baru ini ada kunang-kunang di taman.”
“Ohya? Nggak tau deh. Mungkin karena mau hujan.”
“Emang gitu?”
“Mana gue tau..kan cuma mungkin.”
“Wen…”
Wendi menoleh
“Menurut lo gue bisa jadi kunang-kunang?”
Wendi terkejut, lalu tertawa keras
“Apa yang lucu??? Gue serius. Kan tadi lo yang bilang.”
Wendi masih tertawa
“Ah, males gue…”
Wendi meredakan tawanya, kemudian berhenti, “Hhhm. Lo bisa jadi apapun yang lo mau.”
Wanda hanya menatap Wendi bingung. Keduanya berhenti di persimpangan jalan.
“Iya deh..lo bisa jadi kunang-kunang. Tapi kalo lo jadi kunang-kunang beneran dan nggak balik lagi jadi manusia jangan salahin gue ya. Kan gue cuma asal ngomong. Hahaa.”
“Ah.. lo mah. Males gue ama lo.”
“Sori deh. Jangan dengerin kata-kata gue tadi. Dah, sekarang lo pulang, jangan ngabur lagi.”
“Hhhhmm.”
Wanda langsung jalan berbelok menuju rumahnya.
“Ati-ati!”, seru Wendi kemudian langsung berjalan pulang berlawanan arah dengan Wanda.

Malam itu, Wanda masih belum bisa tidur di kamarnya. Padahal, besok pagi ia ada kuliah dan harus mengurus acara organisasinya.
“Boong atau nggak, tapi kata-kata Wendi ada benernya. Keindahan punya waktunya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s