persaudaraan, brotherhood, ukhuwah, brüderlichkeit, shǒuzú qíngyì (1st)

ukhuwah

Kali pertama aku mengenakan kerudung adalah saat aku sedang duduk di kelas 1 SMP. Saat itu aku masih jauh dari kata paham akan Islam meski simbol kehormatan muslimah itu telah tersandang pula padaku. Aku ingat betul saat itu aku belum terbiasa untuk menjaga hati atas lawan jenis, masih belum terbiasa untuk menjaga nafsu, dan masih belum terbiasa pula untu memperbaiki amalan. Saat itu aku benar-benar masih ABG.

Layaknya seorang ABG, aku bagaikan seorang anak kecil yang mengintip dunia nyata saat terbangun dari mimpi-mimpi fiksinya, banyak sekali hal-hal baru dan asing yang ingin ku ketahui. Mengintip sedikit demi sedikit dari celah sempit pintu yang terbuka. Berharap aku akan menemui sesuatu yang indah.

Terkadang apa yang kulihat tak seperti kenyataan yang sesungguhnya. Hal itu karena celahnya terlalu sempit untuk melihat keseluruhan dari dunia yang kuintip itu. So, kesalahan-kesalahan dalam mengartikan dunia tersebut tak dapat kuhindari. Sehingga terkadang aku terjerumus dalam dosa maupun khilaf yang nyata. Kemudian, keingintahuan yang timbul mendorong aku perlahan menggeser celah itu agar lebih lebar.

Saat aku sampai pada usia SMA, sedikit demi sedikit celah pintu yang terbuka itu tergeser semakin melebar. Aku melihat lebih banyak lagi hal-hal baru yang asing di mata. Hal-hal yang membuatku semakin semangat mengenali dunia nyata itu.
ISLAM.

Tak ada yang mampu kuucap atas kata itu, kecuali bahwa ia adalah INDAH.

Aku mulai jatuh cinta kepada Allah, kepada Rasulullah dan kepada Agama ini semenjak hatiku tergerak untuk menelisik ISLAM lebih dalam. Dan akhirnya Allah sampaikan aku melalui jalan ISLAM kepada sesuatu yang amat indah, yaitu UKHUWAH.

Berawal dari mendaftar ekskul Rohis di SMA-ku, kini aku mendapatkan sesuatu yang sangat berharga yang nilainya tak terhargakan oleh berapapun angka yang ada. Inilah ukhuwah.

Saat aku merasakan keputusasaan yang teramat dalam, saat aku berpikir untuk giving-up, saat aku mendapati kaki yang terlalu lemah untuk berjalan lagi, saat aku terbungkuk dari tegak-bahuku dalam memikul hidup, ukhuwah inilah yang menarikku kembali ke puncak tebing, yang men-sugesst-ku untuk keep-spirit, yang memapahku untuk kembali berjalan, yang merangkul bahuku untuk tegak memikul hidupku kembali.

Di dalam ukhuwah ini kurasakan begitu derasnya rasa kasih sayang yang tercurah dari Allah melalui wanita-wanita shalihah ciptaanNYA. Sehingga menjadikan ia menjadi tempat ternyaman untuk berbagi segalanya. Dan menjadi tempat paling tepat untukku saling mengeratkan genggaman, saling merapatkan barisan, saling mengisi kekosongan, saling mengingatkan dalam menetapi kesabaran, saling rangkul-merangkul dalam kepedulian, dan saling mengingatkan dalam kebaikan.

Aku memang berbeda dari akhwat-akhwat Rohis seangkatanku. Entah mengapa aku menjadi yang paling diam di antara mereka semua, menjadi yang paling bodoh bidang akademisnya di antara mereka semua dan menjadi yang paling enggan untuk menyampaikan kritik-kritik atau opini-opini di antara mereka. Hal ini kadang membuatku rendah diri. Hmm..bukan hanya kadang-kadang, sih, tapi mungkin lebih tepatnya sering.

Akhwat-akhwat Rohis angkatanku membuatku minder dengan segala kelebihan-kelebihan mereka. Misalnya, sebut saja namanya Ukhti Aisyah. Akhwat yang satu ini memiliki postur tubuh yang tinggi-semampai, sangat pintar dan berprestasi, rajin beribadah sunnah juga, cantik, lembut, polos, simple, dan optimistis. Ukhti Aisyah salah satu teman sekelasku yang termasuk dalam jajaran anak-anak paling pintar. Kali pertama aku kenal akhwat yang satu ini, aku beranggapan sangat positif kepadanya. Kata-katanya yang optimistis sangat manjur dalam membantuku agar berdiri lebih tegak.

Berdbeda lagi dengan Ukhti Humaira. Kalo akhwat yang ini satu-satunya akhwat paling top seangkatanku, bahkan mungkin paling top dua angkatan terakhir. Coz, akhwat yang satu ini bener-bener tinggi ilmunya. Satu-satunya akhwat kelas 10 di SMA-ku yang berjilbab lebar, bahkan mungkin juga satu-satunya di kelas 10 sampai kelas 12. Aku banyak belajar dari akhwat yang sangat kritis ini. Si akhwat koleris ini kesehariannya membawa Mushaf Qur’an kemana-mana. Prestasi akademisnya juga nggak usah ditanyakan lagi. Jilbabnya yang menjuntai lebar membuat dirinya semakin anggun dan kuat. Sifatnya keras, tetapi humoris.

Kemudian ada Ukhti Khadijah. Ia adalah teman sekelasku juga. Akhwat melankolis ini paling professional banget kalo berhadapan dengan tugas-tugas sekolah. Segala macam PR selalu selesai tepat pada waktunya. Nilainya juga nggak usah diragukan lagi! Tanggung jawabnya juga besar banget. Dan Ukhti Khadijah ini salah satu akhwat yang paling dekat denganku disbanding yang lain. Selain karena kepribadian kami yang sama, yaitu introvert dan melankolis, aku juga merasa lebih nyambung sama Ukhti Khadijah ini.

Satu lagi adalah Ukhti Fatimah. Akhwat imut-imut nan lucu ini kunilai yang paling fashionable di antara yang lain. Sifatnya yang polos, kritis, dan apa adanya ini punya gaya bicara yang khas yang bias memecahkan tawa seketika. Ia juga optimistis, dilihat dari nilai akademisnya maupun syi’arnya yang semakin hai semakin meningkat.

Ukhti Maryam salah seorang akhwat yang sangat pintar juga. Ia juga salah seorang akhwat yang sangat tegar dengan segala cobaan hidupnya, tetapi dengan tabah dan tawakkal ia hadapi. Yang terakhir yang ingin kuceritakan adalah Ukhti Shafa dan Ukhti Marwah.

Ukhti Shafa dan Ukhti Marwah ini terkenal soulmate banget dari pertama kali kenal. Sifat keduanya yang asyik, humoris, dan berani membuat mereka terlihat kompak. Dalam bidang prestasi keduanya juga nggak bisa diragukan lagi..

Mereka adalah sebagian akhwat yang aktif mengibarkan dakwah melalui Rohis ini, termasuk aku. Namun, aku terhitung bebeda dari mereka dari segala segi yang terlihat.

Kami saling bahu-membahu dalam menguatkan pertahanan dakwah Rohis ini, saling topang-menopang dalam meninggikan dakwah ini, dan saling teguh-meneguhkan dalam mengibarkan lafadz Kebesaran Allah beserta kemuliaan Rasulullah. Berharap ISLAM kian berkibar di SMA kami dan Allah kian mencurahkan rahmatNYA kepada siapa saja yang membela Agama Allah.

Begitulah ukhuwah..

Dalam sehat saling mengingatkan, dalam sakit saling menguatkan.

Aku percaya bahwa ukhuwah tiada ‘kan hancur karena tipuan dari bisikan syeitan. Aku percaya bahwa Allah-lah yang menjaga setiap ukhuwah yang terjalin di muka bumi ini.

Hanya saja, cobaan itu pasti ada. Entah bagaiamana bentuk dan caranya ia datang. Seperi saat belakangan ini, sepertinya kurasakan cobaan itu datang mengampiriku.

Aku merasakan kehangatan mereka pudar dari nafasku akhir-akhir ini. Aku merasakan kejauhan saat kami duduk bersama dalam halaqah. Tidakkah itu berupa cobaan padaku? Sehingga aku merasa tidak nyaman lagi ada di tengah-tengah mereka. Sehingga aku merasa tiada sanggup lagi aku bertahan memikul hidup ini, karena selama ini bahu mereka pulalah yang membantuku memikul beratnya hidup ini.

Terbesit kata untuk berbalik mudur. Namun, aku tak bisa!

Tertunduk aku dalam duduk, mendamaikan riuh-pikuk keresahan yang berdesir di batin. Futur..
Tak berapa lama, senyum mereka kembali hadir memekarkan hati yang sempat layu karena terlalu lemah. Entah mengapa, tapi, mungkin itu haya perasaanku semata. Mungkin sebagai cobaanku seberapa kuat aku menggenggam ukhuwah yang indah ini. 🙂

Advertisements

One thought on “persaudaraan, brotherhood, ukhuwah, brüderlichkeit, shǒuzú qíngyì (1st)

  1. Meskipun gue bukan anak Rohis waktu SMA, tapi terkadang terbersit rasa iri kepada teman2 Rohis yg setiap Sabtu Minggu di Masjid sementara diriku harus PERSAMI sebagai Anggota Pramuka, dan disibukkan dengan tugas sebagai Wakil Ketua OSIS.

    Dan ISLAM, diriku menemukan indahnya ketika merasakan Ukhuwah di KAMMI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s