persaudaraan, brotherhood, ukhuwah, brüderlichkeit, shǒuzú qíngyì (2nd)

ukhuwah

Yap. Rohis memang pengalaman kebanggaan dan pengalaman berhargaku. Entah di mata teman-teman aku seburuk atau sebaik apa, akan tetapi buatku tak masalah. Nyatanya, aku mencintai mereka. Walau kemampuanku berbatas,, akan tetapi aku berjuang untuk memberikan usaha terbaikku dan menyelaraskan langkah dengan teman-teman. Memang untuk manusia awam sepertiku, tak mudah rasanya. Tapi kemudian aku anggap itu mudah-mudahan sebagai bukti kesungguhanku berada dalam ukhuwah ini. Karena aku merasakan kehangatan yang memeluk mesra hari-hariku. Karena aku merasakan kesejukkan yang membasahi keringnya jiwaku. Karena aku merasakan kekuatan yang menopang sendi-sendiku. Karena aku merasakan kebersamaan yang mewarnai hitam-putih catatanku. Karena aku merasakan semua itu sebab Allah menganugerahiku ukhuwah ini.

Anugerah.

Memang, tak selamanya ukhuwah itu manis rasanya. Terkadang perbedaan menjadi serpih-serpih kaca yang menusuk-nusuk rasa. Kala hati tak kuasa berjumpa untuk saling berbicara, maka keduanya menjadi merenggang. Kala kesempatan tak berpihak untuk mendekat, maka jadilah keduanya berpisah. Akan tetapi, kala hati dengan lapang saling berbincang hangat, maka keduanya menjadi merapat. Dan kala kesempatan berpihak pula, maka jadilah keduanya terikat. Maka ketika perbedaan itu hinggap, hati yang lapang dan terbukalah menjadi penawarnya. Oleh karena semua tahu bahwa perbedaan itu tak mampu untuk dihindari. Sehingga badan-badan yang penuh serpih kaca harus berkumpul dan saling mencabutinya satu persatu. Hingga serpih itu terlepas dari badan-badan dan kita dapat lembut berpelukan kembali tanpa rasa sakit akibat serpih perbedaan yang sempat tertanam. Itulah salah satu anugerahnya.

Ketika hati bertemu dalam kasih sayang, maka masing-masing hati dari kita telah berlembut laku terhadap saudaranya, melapangkan sebagian hatinya untuk saudaranya. Membantu meluruskan yang sempat membengkok. Memaafkan khilaf yang sempat merobek selimut ukhuwah kita, kemudian menjahitnya kembali agar dapat menghangatkan di antara kita.

Yang kurasakan bahwa ukhuwah adalah kepercayaan. Meski saling mengetahui kekurangan dan kelebihan di antara kita, tapi kita percaya. Kita percaya meski kekurangan itu terlalu menyusahkan ketika digenggam sendiri, tapi tidak saat kita menggenggamnya bersama.

Sama seperti saat aku menyatakan bersedia menerima amanah untuk menjaga keluarga akhwat Rohis ini. Kalian seakan sangat mempercayaiku walau kekuranganku yang rombeng sana-sini. Kalian sungguh mengetahui apa yang menjadi kelemahanku lebih dari mata pribadiku sendiri. Akan tetapi, kalian juga sungguh yang mempercayaiku lebih dari pikiranku sendiri. Sehingga kemudian aku menerimanya sebagai rasa cinta kasihku terhadap teman-teman.

Aku pikir menduduki posisi yang lebih ringan dari teman-teman dapat kujalani dengan baik. Nyatanya nggak. Terlalu banyak hal yang harus kupelajari. Sedangkan hal-hal tersebut kebanyakan terlalu prinsipil dan sensitif, sehingga aku membutuhkan waktu yang teramat panjang untuk memahaminya.

Yaah, akupun mengerti bahwa kebodohanku ini sangat menjengkelkan bagi teman-teman, padahal posisiku bisa dikatakan penting. Entahlah. Pernah terpikir untuk menyerah, bahkan terlalu sering. Aku merasakan tekanan dari segala arah hingga menghimpit hati dan pikiraku.

Ketakutan untuk mencoba dan memulai menjadi penghambat kinerjaku. Aku memang sudah merasa telah menjalankan posisiku dengan baik, tapi nggak pada kenyataannya. Sikapku dalam menjalani posisi ini malah sungguh menyusahkan teman-teman. Menyadari hal itu, aku hanya dapat mengutuk diri diam-diam dan memohon ampun kepada-Nya. Berharap Allah membuka jalan agar aku dapat menjalani amanah ini dengan baik. Karena aku tahu Allah lebih tahu apa yang sudah kuusahakan.

Seiring waktu berlalu aku merasakan banyak kritik-kritik pedas, cemooh-cemooh tersembunyi/nyata, atau sikap-sikap yang sedikit banyak merobek perasaanku. Kasar kedengarannya memang, tetapi aku tahu mereka melakukan itu demi kebaikanku sendiri. Memang caranya membuatku ‘sakit’. Tetapi, meskipun demikian sakitnya, aku mencoba untuk tidak menghiraukannya dan menjadikannya masukan. Aku selalu mendengarkan dan mencoba menjalani amanah ini sebaik yang kubisa usahakan. Aku menyadari bahwa meskipun aku ingin marah dan berbalik, aku selalu teringat bahwa aku ingin menjaga teman-teman. Aku sepertinya sangat menyayangi kalian.

Satu bulan, dua, tiga bulan seperti angin yang berlalu dengan sekejap. Tiba dipenghujung tugas, muncul kekuatan yang entah berasal darimana. Kemudian aku berani untuk memulai berubah dan mencoba mengambil peranku yang terlalu lama terserak. Tak kusangka, teman-teman tersenyum. Ya! Aku berhasil. Sedikit. Aku berpikir, “Mengapa tak dari dulu kau berbuat demikian. Bukankah sekarang kau tidak merasakan sesulit apa yang pernah kau bayangkan?”

Tak kusangka pula teman-teman mampu bersabar. Ya, aku tahu sebenarnya kita sedang sama-sama bersabar, aku dan kalian. Akhirnya, setidaknya amanah ini terlaksana dengan cukup baik.

Begitulah..

Berulang kali menghadapi pedang futur yang mahatajam, berulang kali tameng kesabaran mematahkannya. Berulang kali terjadi, kemudian mereda kembali. Maka futur juga hal yang biasa ketika kekuatan menjadi lemah dan tak ada yang menguatkan. Hingga sabar mampu membawa kita saling bergandengan tangan, saling membangunkan hingga punggung menjadi tegak kembali.

Karena sabar menuntun kepada yang lebih indah. Sama seperti ketika ia menunjukkanku betapa kalian sangat pantas untuk dicintai. Ya. Aku cinta kalian karena Allah yang menyisipkannya di antara kita. Aku cinta kalian karena Allah yang menghadirkannya sebagai perekat di antara kesabaran kita. Kesabaran dalam memahami kekurangan dan kelebihan masing-masing.

Begitulah anugerahnya.

Ya! Terima kasih, Ya Allah..

Terima kasih, teman-temanku, saudaraku..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s