ANAKMU BUKAN MESIN PENCETAK UANG!

anak-anak jalanan

Banyak orang mengatakan bahwa Indonesia adalah negara kaya. Memiliki laut yang luas, tanah yang subur, dan juga letak geografis yang strategis. Bahkan, kekayaan Indonesia tak hanya sebatas sumber daya alam yang tersebar di seluruh tanah air, melainkan juga kekayaan budaya dan jumlah penduduk yang banyak. Hal ini sangat menguntungkan. Didukung dengan keadaan Indonesia tersebut, seharusnya Indonesia bisa menjadi negara yang maju. Akan tetapi, jumlah penduduk yang banyak belum menjadikan penduduk kita menjadi SDM berkualitas memadai untuk mengoptimalkan SDA yang tersedia. Kondisi ini memunculkan keadaan yang timpang sehingga menjadikan kita kurang mampu memanfaatkan potensi negeri dan bergantung pada negara lain. Salah satu akibat dari ketimpangan ini adalah kemiskinan.

Kemiskinan boleh dikatakan sebagai gerbang menuju berbagai permasalahan negara, seperti kriminalitas dan permasalahan sosial. Bisa dilihat bahwa hamper setiap hari ada berita mengenai kejahatan perampokan, pencurian, dan pembunuhan, serta tak jarang dijumpai berita tentang human trafficking dan pengekspoitasian anak. Kejahatan-kejahatan itu hamper selalu dilakukan pelaku dengan motif kekurangan ekonomi.
Dalam kasus pengeksploitasian anak, kita bisa saksikan kasus ini secara gamblang di jalanan kota, terutama kota besar. Anak-anak kecil berusia 6-10 tahun beradu dengan debu jalanan dan sengatan matahari demi mencari keping-keping rupiah dari mengemis dan mengamen. Bahkan, belakangan ini anak balitapun dapat dijumpai melakukan hal yang sama. Entah itu didampingi oleh kakaknya yang besar atau digendong ibunya. Realitas demikian terkadang tak hanya berlangsung pada pagi atau siang hari, tapi juga ketika petang hingga malam hari. Mungkin banyak dari masyarakat bertanya bagaimana bisa kondisi yang memprihatinkan ini terjadi seperti tiada putusnya.

Seperti sudah menjadi siklus kehidupan perkotaan, pemandangan ini seolah dibiarkan dan dimaklumi meskipun sudah ada upaya dalam menanganinya. Sudah ada undang-undang khusus, seperti UU No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dan perda yang mengatur tentang larangan memberi uang kepada pengemis. Bahkan, ada UUD 1945 pasal 34 dalam Bab Perekonomian Nasional dan Kesejahteraan Sosial yang memayungi keberadaan fakir miskin dan anak jalanan itu sendiri. Selain itu, bukan hanya pemerintah dengan undang-undangnya, ada pula LSM, yayasan, dan beberapa komunitas yang berkontribusi langsung untuk menangani kasus ini. Akan tetapi, entah mengapa kondisi ini terus terjadi.

Lagi-lagi, kurang tegasnya sanksi dari peraturan yang telah dibuat menjadi salah satu alasan mendasar. Selain itu, jika ditelaah lebih mendalam, ada salah satu alasan dari sisi psikologis yang mempengaruhi, yaitu’mental tempe’. Mengapa demikian?

Meski bukan satu-satunya jalan untuk memenuhi kebutuhan hidup, kaum ekonomi lemah lebih memilih untuk mengemis, mengharapkan belas kasih orang. Disamping tidak harus membutuhkan keterampilan khusus, mengemis juga dapat mendatangkan uang dalam waktu yang bisa dikatakan singkat. Hanya bermodalkan pakaian lusuh, kaleng atau plastik bekas, dan wajah memelas, kemudian duduk di pojok keramaian atau lampu merah, maka tak lama kemudian rupiah pun datang. Begitu juga dengan mengamen, apalagi jika semua itu dilakukan oleh seorang anak kecil. Tentu akan mendatangkan sikap iba yang lebih dari lalu-lalang orang. Lalu, kemanakah sebenarnya orang yang bertanggung jawab atas anak-anak itu?

Tak semua anak-anak yang disebut sebagai anak jalanan itu benar-benar tak memiliki siapapun. Banyak dari mereka yang sengaja dipekerjakan oleh orang yang seharusnya bertanggung jawab atas hidup mereka, yaitu orang tua atau kerabat dekat. Sebagian lagi adalah anak-anak yang sebatang kara yang kemudian dipekerjakan oleh preman atau komplotan tertentu. Dan sebagian kecil lainnya memang anak-anak yang sebatang kara yang harus memenuhi hidup dirinya seorang diri. Jika ditanyakan kepada mereka, tentunya mereka tidaklah ingin menjalani keadaan demikian.

Keadaan ekonomi yang sedemikian buruknya seharusnya bukan menjadi alasan untuk memperkerjakan seorang anak kecil. Minim keterampilan dan lapangan pekerjaan terbatas juga bukan bagian dari alasan tersebut. Sudah banyak tersebar lembaga pelatihan keterampilan yang disediakan pemerintah untuk dimanfaatkan secara gratis. Sudah banyak koperasi daerah yang bisa meminjamkan modal untuk memanfaatkan keterampilan yang didapatkan dari mengikuti pelatihan keterampilan dari pemerintah. Berwirausahapun bisa menjadi pekerjaan lebih layak dan bermartabat untuk mereka geluti.

Anak-anak memang aset untuk mendapatkan masa depan yang lebih baik dalam segi ekonomi maupun strata social, tapi bukan dengan menjadikannya sebagai mesin pencetak uang. Anak-anak tersebut harus diberikan pendidikan yang layak, baik formal ataupun nonformal. Mereka harus dipupuk dengan mental baja agar dapat meneruskan kehidupan lebih tangguh, bukan hanya menjadi pengemis dan pengamen. Mereka butuh kasih sayang, keceriaan, dan perlindungan.

Lalu, apa yang bisa masyarakat lakukan? Sudah seharusnya masyarakat mendukung upaya pemerintah untuk menangani kasus pengeksploitasian anak ini dengan ikut berpartisipasi menaati peraturan yang ada. Tidak memberi uang kepada pengemis ataupun anak jalanan dan jika ingin beramal maka datang serahkan amal itu ke yayasan, komunitas, dan lembaga yang terlibat atau dengan memberi mereka makanan. Dengan demikian diharapkan dapat mengodisikan orang tua dari anak-anak itu untuk tidak menyuruh mereka mengemis atau mengamen lagi. Dan diharapkan pemerintah dapat memberikan perlindungan dan pembinaan kepada orang tua-orang tua anak jalanan di setiap daerah serta melakukan upaya lebih efektif selain dari penertiban dan menegakkan undang-undang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s