Setujukah?

Hari ini aku menjalani ujian akhir semester mata kuliah agama Islam. Ada sebuah soal yang sampai detik ini menggelayut di dalam benakku. Intinya, pertanyaan tersebut merujuk pada bagaimana anggapan kita mengenai free sex, pergaulan bebas, KKN, dll yang disebut sebagai “kebudayaan” di dalam masyarakat dan mengapa hal demikian bisa terjadi.

Biarkan aku berpikir sejenak apa jawaban yang aku tulis di selembar kertas folio bergaris tadi. Hhm, begini kira-kira tanggapan yang aku berikan:
“Free sex, pergaulan bebas, KKN, dll bukan merupakan suatu kebudayaan, melainkan suatu penyimpangan social, khususnya di negara Indonesia. Dalam hal ini, masyarakat Indonesia memiliki dan memegang adat/norma ketimuran dimana perbuatan menyimpang tersebut tidak diperkenankan sama sekali. Dapat dilihat terdapat sanksi-sanksi social maupun hokum yang diberikan kepada pelaku perbuatan menyimpangan tersebut. Adapun perbuatan menyimpang itu (free sex, pergaulan bebas, KKN, dll) sudah menyebar di dalam masyarakat seolah menjadi suatu budaya adalah karena kurang berfungsinya system pengendalian social di dalam masyarakat itu sendiri. Selain itu, menyebarnya penyimpangan itu seolah menjadi kebudayaan adalah terciptanya anomie di dalam masyarakat tersebut. Dimana anomi disini berarti kondisi dimana masyarakat kehilangan kaidah-kaidah atau norma yang bisa dipegang.”

Kemudian, kututup jawabanku dengan sebuah kesimpulan:
“secara garis besar, fre sex, pergaulan bebas, KKN, dll bukan kebudayaan, melainkan penyimpangan social. Dan fenomena ini terus tejadi karena kurang berfungsinya pengendalian social di masyarakat.”

Lucu memang. Entah siapa pula yang berpikir bahwa perbuatan menyimpang di atas termasuk sebuah “kebudayaan” di Indonesia. Bukan bermaksud berprasangka rendah kepada dosen yang bersangkutan, tetapi setelah dipikir-pikir memang opini semacam itu ada di dalam tubuh masyarakat. Untuk kalangan awwam-begitu temantemanku menyebutnya di dalam jawaban merekabanyak yang beranggapan demikian karena tidak mengetahui makna atau pengertian dari penyimpangan social. Ya, memang…hampir seluruh teman sekelasku memberi tanggapan sama denganku mengenai opini yang tedapat dalam pertanyaan UAS tadi. Artinya, kami sepakat bahwa ada sebuah optimisme ketika perbuatan-perbuatan menyimpang di atas dianggap sudah mengakar atau bahkan “membudaya” masih dapat ditangani dan diluruskan kembali. Tentu, permasalahan penyimpangan social memiliki seperangkat jalan keluar atau solusi yang di dalam ilmu sosiologi biasa disebut dengan pengendalian social. Apa itu pengendalian social? Pengertian paling sederhana diberikan oleh Berger (1978) yang menyatakan bahwa pengendalian sosial adalah berbagai cara yang digunakan masyarakat untuk menertibkan anggotanya yang membangkang. Tujuan yang hendak dicapai dari pengendalian social secara intinya adalah menciptakan atau mengembalikan kondisi yang serasi antara norma masyarakat dengan perilaku masyarakat itu sendiri. Ada berbagai cara dan sifat yang digunakan dalam melakukan pengendalian social. Dalam pengendalian social juga terdapat lembaga yang bertugas untuk melakukan pengendalian tersebut, yaitu keluarga, tokoh adat/masyarakat, kepolisian, pengadilan, sekolah, atau instasi lainnya yang berhubungan langsung dan memiliki wewenang lebih dalam masyarakat itu sendiri. Nah, pertanyaan selanjutnya, mengapa penyimpangan masih tetap terus terjadi? Yang pertama dan utama adalah kurang berfungsinya system maupun lembaga pengendalian social secara maksimal, seperti yang sudah dijabarkan sebelumnya. Salah satu solusi agar system dan lembaga pengendalian social dapat brefungsi secara optimal adalah dengan menegakkan kembali hukum-hukum beserta dengan sanksinya agar menimbulkan efek jera.

Kemudian, ada yang disebut dengan anomie. Menurut Emile Durkheim, anomie berarti pudarnya pegangan pada kaidah-kaidah yang menimbulkan keadaan tidak stabil dan keadaan tanpa kaidah. Dengan pengertian yang demikian dapat disimpulkan solusinya adalah mengembalikan kembali kaidah-kaidah yang hilang itu. Bagaimana caranya? Memberfungsikan lagi peran pengendalian social adalah salah satu caranya, karena di dalamnya terdapat cara-cara untuk menanamkan dan mengembalikan norma pada seseorang atau masyarakat. Lalu, jika boleh aku berpendapat, menanamkan norma pada seseorang lebih mudah dibandingkan dengan mengembalikannya. Dalam hal ini, keluarga menjadi lembaga yang berperan paling utama karena di dalam keluargalah sosialisasi primer terjadi. Setiap anggota keluargayang normalbiasanya memiliki ketaatan terhadap peraturan yang ada. Hal ini terjadi karena adanya penanaman norma kepada anggota keluarga secara terus-menerus atau di dalam ilmu sosiologi dikenal juga dengan pervasi (pervation). Cara pengendalian ini kemudian dapat menimbulkan suatu pola atau kebiasaan yang mendalam para anggota keluarga dalam lingkungan keluarga, atau disebut dengan keteraturan sosial. Tentunya, dibutuhkan keluarga yang kondusif untuk menciptakan kondisi yang demikian. Maka dari itu, setiap individu harus mempersiapkan dirinya sedini mungkin dan sebaik mungkin untuk membangun keluarga yang kondusif kelak. Hal ini berlaku terutama untuk para wanita karena wanita adalah calon ibu dari peradaban dunia. Dari didikan seorang ibu yang baiklah anak-anaknya akan tumbuh baik pula. Al Ummu Madrosatul Ula. Mari persiapkan diri!

Haahh..rasanya cukup untuk membahas soal yang satu ini. Mari beralih kepada satu pertanyaan lainnya yang juga masih menggelayut di dalam benakku saat ini.

Pertanyaan ini sepertinya pertanyaan kedua-akhir dari UAS mata kuliah agama Islam tadi. Intinya, bagaimana tanggapan kita mengenai orang yang hanya berpasrah diri sementara dirinya masih jauh dari kesejahteraan dan menanggap hal itu adalah sebuah takdir Ilahi semata. Lalu, aku ingat akan kalimat terakhir dari jawabankuyang kuambil dari ayat Al-Quran yang kuingatterhadap pertanyaan ini yang membuatku juga tersentak sendiri.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya. Dan tidak ada satu halpun yang dapat membatalkan takdir Allah, kecuali doa. Maka bekerja dan berdoalah!”

Buatku, ini cukup membuatku tersadar. Mengingat kalimat-kalimat pada jawabanku sebelumnya aku menyatakan bahwa berpasrah diri tanpa ikhtiar adalah tidak dibenarkan, walaupun berpasrah diri (tawakkal) adalah hal yang harus dimiliki oleh seorang muslim. Kemudian, aku juga mengutip kata-kata Aa Gym (Ust. Abdullah Gymnastiar) yang pernah kudengar di radio MQ kelolaannya bahwa sesungguhnya berserah diri (tawakkal) adalah puncak dari usaha seorang manusia. Di dalam kepasrahan diri kita itu, kita harus berdoa dan melakukan hal-hal baik sembari menunggu ketetapan Allah atas usaha yang kita lakukan. Ya, apa yang diungkapkan oleh Aa Gym juga pernah menjadi keadaran diriku pribadi jauh sebelumnya sewaktu aku masih menjalani masa-masa usaha dan penantian. Dan, ya! Akupun kembali berpikir, ungkapan yang kami berdua sampaikan benar adanya, tawakkal harus diiringi dengan usaha melakukan hal-hal baik demi merayu atau meyakinkan Allah bahwa kita bisa bertanggung jawab jika Allah mengabulkan tujuan dari usaha kita. Atau dengan kata lain, kita meyakinkan Allah bahwa kia telah bersungguh-sungguh dan “berhak” mendapatkan hasil yang sesuai. Dalam tahap tawakkal ini, optmisme harus tetap dijaga hingga Allah menetapkan ketentuan-Nya terhadap usaha kita, terlepas sesuai atau tidaknya itu. Bedanya, dulu, aku belum memahami pemikiran ini. Aku hanya menganggap tawakkal adalah puncak usaha yang apapun hasilnya ya, ya sudah. Husnudzan. Kembali lagi, ketika sudah ada ketentuan itu, sungguh, Allah Mahatahu atas apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Selanjutnya, kita harus tetap bersabar akan hasil itu entah itu sesuai atau tidak. 

Jadi, kita harus tetap bermujahadah!!! Optimis!!! Berdoa!!!

Allah pasti menyediakan hasil yang sepadan dengan semua itu dalam bentuk yang didambakan atau dalam bentuk lainnya yang lebih sesuai untukmu.

Lalu bagaimana dengan peminta-minta? Mereka terlihat seakan lebih banyak pasrahnya dibandingkan usahanya. Itulah tugas kita! Memang tak mudah. Akan tetapi, sekali lagi, ciptakan keadaan yang memaksa mereka untuk mau berubah. Kondisikan mereka, giring mereka, arahkan mereka untuk menilai pekerjaan meminta-minta dengan perspektif yang berbeda. Salah satunya dengan TIDAK MEMBERI MEREKA UANG. Berikan dana bantuan kita kepada lembaga yang jelas-jelas bisa mengakomodir donasi kita dan menyalurkannya kepada orang yang tepat. Atau, jika memang repot, kita bisa saja secara mandiri atau bersama-sama mengambil seorang dari mereka untuk berkesinambungan disantuni dan dilatih untuk memberdayakan diri mereka sendiri hingga mampu mencukupi hidupnya sendiri.

Nah, setujukah?

Hhmm..aku jadi teringat, mungkin inilah salah satu fungsi seorang Pekerja Sosial. Di Indonesia masih banyak dibutuhkan tenaga peksos. Tetapi, yang terdata belakangan ini jumlah peksos dengan PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) masih timpang (baca: http://www.pikiran-rakyat.com/node/256002 ) . Padahal idealnya, satu orang peksos menangani seorang PMKS yang menjadi client-nya. Hal ini mungkin berhubungan dengan rendahnya minat para pemuda untuk bidang yang satu ini karena peksos sendiri dinilai masih mendapatkan porsi perhatian yang kurang dari pemerintah. Di samping itu, masih sedikit lulusan dari peksos yang memiliki sertifikasi untuk membuka praktik sendiri.

Mudah-mudahan kedepannya bidang ini mendapatkan perhatian yang lebih dari pemerintah dan sertifikasi para lulusan peksos segera direalisasikan.

Loh kok aku jadi melebar kemana-mana gini ya? Ahaha..nggak apa-apa ya, mudah-mudahan bisa memberi sedikit informasi. Berhubung aku sendiri adalah mahasiswi dari sekolah tinggi yang mempelajari tentang kesejahteraan social yang ketika lulus akan menjadi peksos. 😛

Wah, banyak juga tulisan kali ini, yaudah, diakhirkan saja dulu ya. Sebelum itu, mohon maaf jika banyak salah di dalam tulisan ini. Terima kasih 

Advertisements