‘Perang Lima Tahunan’

Ini tentang kondisi dimana terjadi banyak kompetisi dan senggol-menyenggol saat tiba musim yang mereka sebut adalah Pemilu. Hehee. Ini lucu. Aku sama sekali nggak paham tentang politik dan kawanannya. Yang kutahu, kata guru mata pelajaran sejarahku sewaktu SMA, politik itu busuk dan uang itu kotor-atau entah sebaliknya.

Jelas bahwa siapapun itu yang mencalonkan atau dicalonkan menjadi capres dan cawapres adalah orang-orang yang terkualifikasi dan kompatibel. Ini menjadi titik sulitnya menjadi seorang pemilih. Pemilih akan dihadapkan pada pilihan yang menyulitkan. Ini bukan hanya menyoal coblos-mencoblos atau contreng-menyontreng, melainkan menyoal nasib negara-paling tidak-lima tahun selanjutnya. Ada banyak pertimbangan yang akan didapat berdasarkan informasi yang masuk tentang profil sang para calon pemimpin. Terlebih informasi itu bersumber dari segala lubang berita. Atau belum lagi tentang adanya politik suap yang sesungguhnya membodohi sekaligus merugikan pemilih. Okelah, akan kita tulis tentang itu lain kali.

Saat ini, aku ingin sekali membahas tentang si “RI 1”. Sejauh ini, Indonesia sudah silih berganti dipimpin oleh enam kepala negara. Soekarno, Soeharto, B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan SBY. Beliau-beliau inilah yang turut menggoreskan cerita sejarah perjalanan Indonesia, tokoh superpenting dalam kenegaraan Indonesia. Masing-masing memiliki catatan-catatan baik maupun buruk selama periode kekuasaannya. Itu hal yang wajar. Bahkan urusan rumah tangga saja penuh lika-liku, apalagi urusan negara yang wilayahnya bukan hanya 1.500m2. Well, urusan ini emang superpenting sih. Nah! Hhhmm…eh, jadi bingung sendiri mau ngomong apa nih.

Oke. Mungkin ini loncat banget dari pokok bahasan di atas. Hhaah..yaudahlah. Kita bicarakan soal PEMIMPIN or some people named it as QIYADAH. Waktu dulu aku sering banget denger istilah ini. Pernah juga dapet materinya, tapi beberapa menit yang lalu kucari, eh, gak ada. Tapi aku punya kopian artikel yang membahas ini. Sumbernya: http://edukasi.kompasiana.com/2010/02/14/al-qiyadah-wal-jundiyah-ringkasan/  (Sok mangga diklik aja untuk intip serba-serbi penilaian/kriteria atas seorang pemimpin.)

Dilihat dari struktur hurufnya sih, selintas itu adalah bahasan pelajaran tentang Islam. Padahal, menurutku enggak. Inget kisah mahsyur tentang seorang Khalifah-yang juga sahabat Rasulullah-yang setiap malam menapaki jalan-jalan kota demi memastikan rakyatnya bak-baik saja? Akhirnya, pada suatu malam beliau menemukan seorang ibu yang kelaparan bersama anaknya yang masih kecil. Kemudian, beliau sendiri yang langsung memberikan sekarung makanan untuk ibu itu. Beliaupun menangis mendapati keluhan langsung tentang sang Khalifah. Kisah ini sudah tentu banyak diketahui orang-orang. Ibrohnya? Pemimpin itu care! Tulus, peduli, dan amanah. Satu lagi, nggak gengsi melayani langsung rakyatnya dan nggak marah mendengar keluh kesah derita rakyatnya. Hhm, mungkin cara yang digunakan sang Khalifah dalam cerita ini disebut blusukan, ya? Ituloh, cara kerja Gubernur Ibukota, Pak Jokowi. Hehee..atau mungkin sebenarnya beliau juga terinspirasi dari kisah ini? Atau memang secara naluriah, beliau merasa begitulah seharunya pemimpin bekerja? Nggak masalah, yang penting dengan begitu, rakyat merasa disentuh. J

Bagaimana dengan teladan yang dicontohkan Rasulullah saat menjadi pemimpin? Wah, banyak yang bisa dipelajari. Rasulullah sendiri memang seorang suri teladan yang baik, kan? Tapi, beberapa yang dicontohkan adalah sikap ketaatan, kasih sayang, kepedulian, ketegasan, kelihaian menyampaikan gagasan, dan…kejujuran! Kenapa akhir kalimatku digaris bawah dan pakai tanda seru? Indonesia masih belum menemukan sosok pemimpin dengan kejujuran level maksimal. Yang ada? Korup di mana-mana. Emang nggak cuma pemimpin, sih, emang udah dari bibitnya aja udah banyak, yaa…kita-kita ini.

Guys…bayangin kalo Gayus, Anas, Wawan, dan kawanan tikus itu adalah kita yang hidup di zaman dahulu, percaya nggak? Kemungkinan, kita-kita yang di zaman sekarang hidup dengan perilaku buruk-curang, culas, korup, nggak jujur-adalah anak-anak atau cucu-cucu atau cicit-cicit tikus yang ketika kemudian hari menjabat, kita nggak beda jauh dengan kawanan tikus yang belakangan banyak tertangkap KPK itu. Dengan kata lain yang lebih sederhana, kita-kita yang sekarang suka curang, suka membohongi dan menindas orang lain, suka nyontek, suka menyalahi janji, dll adalah bakal tikus kemudian hari. Mau? Ih, liat aja itu bintang koruptor ternama beberapa tahun ini melejit. Gara-gara ulah mereka suka makan uang negara, rakyat dan negara sengsara. Masih tega? Think again. Pikir ya, nanti kita diakhirat bakal jadi apa jadinya? Hih. Serem banget kalo kita masuk neraka, kan? Ini bukan ceramah agama. Tapi aku yakin, kita orang beragama.

Gimana kalo soal ketaatan? Ya mestilah! Apalagi yang kurang dari Rasulullah soal ketaatan? Nol. Nggak ada. Beliau nggak menyombongkan diri walaupun sudah dijadikan manusia yang ma’sum-bebas dosa. Beliau masih nangis memohon ampun kepada Allah, kepada Tuhan. Lihatlah kebanyakan pemimpin kita? Yang banyak terlihat cuma pencitraan aja. Bukan su’udzon, tapi yang terlihat mata ya seperti iu. Atau kita? Duh, jarang banget kan kita nangis inget dosa, takut azab? Bagaimana pula kita ini? Duh, jangan-jangan kemudian hari ketika ada diantara kita yang menjabat, kelakuan kita nggak beda dengan kebanyakan pemimpin kita yang sekarang? Hiii…serem! Kita bakal jadi pemimpin yang suka foya-foya, hedon, nggak inget dosa, nggak takut bikin salah. Bakal gimana nasib rakyat kalo pemimpin kayak gitu? Sedih. Astagfirullah….

Kasih sayang Rasulullah terhadap ummat? Jangan ditanya, deh! Beliau merasa lapar dua kali lipat dibanding yang lain saat semua merasakan lelahnya menggali parit saat Perang Khandaq. Beliau terlebih dahulu menyilakan tetangga dan sahabat dengan semangkuk susu terakhirnya sebagai wujud berbagi rasa kasih. Aku memang nggak mahir soal sejarah Islam, ini berarti ada banyak kisah lain-yang aku nggak tahu- yang mencerminkan hal serupa atau lebih. Dahsyatnya, sampai menjelang wafat, beliau masih menyebut-nyebut kita, umatnya, “..ummati..ummati..ummati..”. Mengharukan :’)

Menyoal kepedulian Rasulullah-pada khususnya dan semua teladan pada umumnya-ini sangat menyentuh hati, membuat aku malu terhadap diriku sendiri. Kepedulian beliau dalam bersedekah yang superhebat dan yang lainnya. Tapi, dari cerita Perang Khandaq yang pernah kudengar dan kubaca, beliau juga peduli dengan masukan atau saran orang lain. Saat terhimpit, diadakanlah semacam rapat atau musyawarah darurat gitu, dan ada seorang sahabat yang mencetuskan ide untuk menggali parit untuk menahan dan memukul mundur musuh. Kemudian, Rasulullah menerima pendapat itu dan mengeksekusinya bersama dengan susah payah bersama. Ini berarti, pemimpin itu mendengarkan! Peduli dengan suara orang lain. Walaupun demikian, kisah ini tidak merendahkan wibawa kepemimpinan beliau sedikitpun. Dalam hal ini menggambarkan bahwa pemimpin itu juga tidak boleh arogan! Arogan berbeda dengan tegas, ya. Rasulullah adalah pemimpin perang yang canggih dalam merencanakan strategi. Sekali saja perintah atau intruksi diabaikan, maka kalian bisa mengingat kekalahan pasukan muslim saat Perang Uhud.

Begitulah. Paling tidak, pemimpin negera kita harus meniru sikap kepemimpinan Rasulullah. Setuju, kan?

Omong-omong, sebenarnya tadi bukan ingin membahas tentang ini. Tapi, kurang lebih begitulah yang ingin kusampaikan. Jangan sampai memilih pemimpin yang salah! Carilah pemimpin dengan track record yang bagus dan kualifikasi yang lebih dari memadai (unggul). Kalau mau tahu beberapa criteria lain seorang pemimpin bisa diklik di link yang ada di atas.

 

 

 

Oya, maaf ya, judul dan isinya tabrak lari ;p mohon maaf juga jika ada kata-kata yang tidak berkenan, terima kasih! 😀

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s