Different Ability People—Mereka Sama Sempurna, Kok

Hai! Hari ini akan saya sampaikan tentang suatu gagasan mengenai “ketunaan”. Sebetulnya, hal ini tiba-tiba terlintas ketika menjelang tidur. Setelah menonton suatu acara televisi—yang sebenarnya acara stand up comedy—akhirnya saya tahu arti kata “difabel”. Oke, mungkin bahasan yang ini telalu loncat dari bahasan sebelumnya, tapi nggak apa, ini penting juga untuk saya.

Kita tahu bahwa setiap individu terlahir dengan kelebihan dan kekurangan yang berbeda satu sama lain. Kelebihan dan kekurangan tersebut sama saja dengan siang dan malam atau laki-laki dan perempuan. Keduanya diciptakan bukan tanpa arti, melainkan untuk saling melengkapi. Kelebihan dan kekurangan individu bisa berbentuk fisik dan nonfisik. Biasanya hal ini menimbulkan sikap diskriminatif terhadap kekurangan orang lain, terutama jika sudah masuk kategori fisik. Tentu saja, sikap ini tidak seharusnya muncul.

Difabel atau dalam Bahasa Inggrisnya, yaitu difable adalah akronim dari Different Ability People. Kata ini adalah salah satu pilihan kata yang merujuk pada kondisi seseorang dengan anggota fisik tubuh yang berbeda dari orang-orang pada umumnya—tidak lengkap. Gitu kira-kira informasi dari Mbah Google. Agak terasa berat jika harus menyebut mereka yang memiliki kondisi tubuh demikian dengan kata cacat maupun disabilitas. Disini, disabilitas sendiri juga berasal dari Bahasa Inggris, yaitu disability yang berarti ketidakmampuan. Dengan ini, saya mengasumsikan bahwa mereka yang berbeda bukan berarti tidak memiliki kemampuan yang sama. Mungkin, arti sesungguhnya tidak demikian, tapi inilah yang membuat saya merasa keberatan dengan istilah disabilitas, walaupun kata inilah yang telah baku dan lebih sering dipergunakan di Indonesia. Entah, seberapa penting hal ini bagi orang lain, akan tetapi bagi diri saya pribadi, ini salah satu upaya penting untuk menghilangkan sikap diskriminatif dari orang-orang terhadap mereka.

Saya sering memperhatikan orang-orang difabel di sekeliling saya dan merasa takjub dengan kondisi mereka. Sungguh, dibandingkan harus menyebut mereka ‘terbatas’, saya lebih memilih untuk menyebut mereka ‘sempurna’. Lihatlah betapa banyak di antara kita dengan kondisi difabel, tapi mereka masih mampu melakukan hal-hal yang dilakukan oleh orang normal. Dalam hal ini, bukan berarti saya menganggap mereka yang difabel adalah tidak normal, hanya saja sebagai istilah yang saya rasa bisa cukup menggambarkan perbedaan kondisi keduanya.

Betapa mulia hidup mereka yang dalam ‘keterbatasan’ fisik, tapi tetap tabah dan semangat menjalani hidup dengan syukur. Sekali waktu, saya membayangkan hidup tanpa penglihatan atau pendengaran atau anggota tubuh yang lengkap. Sungguh, tak terbayangkan bagaimana rasanya hidup tanpa bisa melihat rupa orang tercinta, tanpa bisa berkata-kata dengan orang tercinta, tanpa bisa menyentuh dan membelai orang tercinta, tanpa bisa merasakan hidup bahagia dengan orang tercinta seutuhnya, tanpa bisa berkarya dan bekerja dengan kesetaraan akses seperti yang didapatkan oleh orang normal pada umumnya.

Tanpa riset ataupun survei, kita bisa melihat bahwa banyak para difabel yang tidak diberikan kesempatan untuk memberdayakan diri atau mengembangkan kemampuannya. Dalam hal ini, pihak yang bersangkutan adalah orang-orang sekitar, seperti orang tua, pasangan hidup, keluarga, dan bahkan lingkungan yang lebih luas, seperti masyarakat, lembaga pendidikan, lembaga lapangan pekerjaan, bahkan mungkin negara.

Mungkin saja bisa terjadi demikian dikarenakan pola anggapan masyarakat yang sudah terbentuk untuk menjadikan perbedaan mereka sebagai ‘sekat’. Akhirnya, menjadikan mereka sosok yang tidak terlihat, atau justeru sengaja tidak ‘diperlihatkan’. Mereka dibiarkan berada dalam kondisi ‘bergantung’, tersingkir, bahkan terlantar. Ini tak beda dengan perlakuan diskriminasi. Padahal, hakikatnya, jika kita bicara tentang hak asasi manusia, merekapun semestinya memiliki pengakuan dan kesempatan yang sama dari orang lain.

Secara umum, saya merasa salut dan kagum dengan orang-orang difabel yang berada di sekeliling kita. Mereka hebat! Dan kita, khususnya saya, harusnya merasa malu dengan mereka. Sudah semestinya tidak ada alasan untuk berputus asa dan tidak semangat dalam menjalani kehidupan. Disadari juga bahwa kehidupan ini sangat berarti sehingga bukan saatnya lagi bermain-main. *tarik napas berat, “huff…denger tuh”, sambil ngomong ke diri sendiri*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s