Melaju sajalah, Kawan.

Dan pada tiap jiwa mempunyai nafas perjalanannya masing-masing. Tak akan tertukar meski hanya sehelaan saja. Juga pada perjumpaan/perpisahan ada doa yang menghantarkan. Langkahkan saja kemana kauingin pergi, semoga kakimu tetap berjalan berarah. Tak perlu ragu, karena sesal adalah satu cara demi mengingatkanmu agar selalu berjuang. Setiap jalan yang terlalui, yakini saja itulah jalur kehidupanmu. Saat tembok selapis satu benua, sedalam cengkeraman gunung di dalam tanah, atau setinggi ruang angkasa, dan selebar panjangnya bumi……tetaplah berjuang. Seekor semut tak pernah tahu seberapa besar benda yang dipanjat dan dipijaknya. Anggap saja ketika kau mendaki tembok itu adalah juga jalur di dalam peta kehidupanmu. Kutahu kau manusia, bisa apa kau memanjat tembok berwujudkan seperti itu? Tapi, aku tahu kau lebih kuat dari semut. Kau lebih perkasa untuk tetap melaju daripada harus berbalik, bukan?

Ragu? Kau bisa mematahkan dengan selalu berlatih. Tempa jiwamu untuk pantang menyerah. Ya, kutahu kau manusia. Akupun sama. Paling tidak, itu lebih baik jika harus terus tercekik kata sesal, sesal, dan sesal. Dengan begitu, masa lalumu akan memahami bahwa kau pemuda tangguh, tidak lembek begitu saja.

Jan 25th 2015, Ahad.
*) Selamat melanjutkan perjalanan dan perjuangan! πŸ™‚

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s