Titik final keimanan

“Sok alim lu pake kerudung! Dasar kerdus; kerudung dusta! Woo…bu hajjah!”

Menyakitkan ya denger kata-kata di atas 😦 Sampe banyak yang bilang begini:

“Aku benci jilbab ini! Dia membebankanku seribu cela dan cemooh manusia. Aku jengah mendengar dan menanggapi semuanya. Terasa tiada hentinya mereka memuntahkan kata-kata yang menyilet sukma. Izinkan aku tanggalkan hijabku! Dengan begitu semua terasa menjadi jauh lebih ringan.”

Tapi, baiklah. Instead of had a thought like that, I prefer to digest it on my mind properly. Here we are..

Alhamdulillah kalo gitu. Semisal saya ngga alim atau sok alim, saya sekarang adanya di jalanan bertelanjang bulat, berkata sembarangan, berteriak tidak jelas, menakut2i orang, menjarah, dll. Karena aku sudah dibekali otak, maka aku gunakan. Aku mencari ilmu, aku mendapat ilmu, alhamdulillah dengannya aku jd orang berilmu; alim. Kamu juga. Dengan kamu pakai baju yg nggak syari aja bisa dibilang kamu juga berilmu kan? Hanya bedanya, ilmu yang kita sedang kejar berbeda sedikit. Aku pakai hijab karena aku memiliki ilmu bagaimana hukumnya hijab bagiku, bagaimana aturan memakai hijab bagiku, dan bagaimana aku bertanggung jawab atas diriki dengan hijabku.

Well then, bukannya aneh kalo kamu menolak untuk dibilang sok alim? Alhamdulillah, bukan? Apalagi Allah yang menurunkannya untuk kamu. Atau ada yang bahagia dibilang sok bego (jahil)? Pilih mana? Syukuri saja cemoohan tdk berlandas mereka. Adapun engkau yg belum sempurna dalam beribadah, itu soal lain.

Apakah yang dilakukan bayi sebelum berlari? Ia berjalan. Jauh sebelumnya bahkan ia lebih dahulu merambat, merangkak, berjalan patah-patah. Apakah dengan hijabmu adalah titik final keimananmu? Sama sekali bukan. Bahkan ia hanya sebagai titik awal dari segalanya.

Jangan bandingkan temanmu yang hebat tanpa berhijab dengan yang tidak. Bagimu ia hebat, ya dia memang hebat meskipun tanpa hijab. Tapi, untuk jangka waktu sampai kapan ia terlihat hebat bagimu? Bagi dirinya sendiri?

Tolong jauhi sangkaan bahwa hijab menjadikan engkau sempurna terhadap orang-orang lain. Dia manusia dengan hijab atau Tuhan? Lancang sekali orang yang menganggapnya begitu. Maafkanlah satu-dua kekurangannya, nasihatilah satu-dua khilafnya, luruskanlah satu-dua kebengkokannya. Sebab Tuhan yang menciptakan manusia demikian adanya. Adakah engkau sang Tuhan yang berhak menghakimi kesalahan perempuan berhijab sebagai kesalahan tak termaafkan? No no no.

Lalu, apa sebab engkau masih berkehendak menanggalkan kewajibanmu–berhijab–terhadap Tuhanmu yg menciptakanmu? Jika kita masih merasakan beratnya beban dari berhijab, lebih baik kita luruskan kembali niat kita. Untuk manusiakah kita berhijab? Tentu bukan. Semua hanya lillahi ta’ala.

Ada kalimat bijak dari anonim yang sungguh sangat benar adanya, “kau hanya punya dua tangan yang tidak bisa menutup mulut seluruh orang yang mencemooh, tapi dua tanganmu bisa kaugunakan untuk menutup kedua telingamu.” Dan satu hal yang harus ditekankan, jika kita kembali untuk Tuhan, lantas mengapa sekarang kita menghamba kepada selain Tuhan?

Allahu’alam. Astagfirullah al adziim :’) semoga Allah mengampuniku. Aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s