Berkhianat dengan kata.

Seperti pejabat yang mengurai seribu sekian janji untuk menawan perhatian rakyat, lalu berkhianat. Membodohi telinga rakyat dengan pengingkaran, padahal telinga hanya bisa ditulikan bukan dibodohi. Akal dan ingatan masih segar membayang-bayangi indahnya scenes saat bapak pejabat merayu bujuk dengan permata kalimat. Aih, siapa pula yang akan melupakan pinangan mesra untuk setia dalam memilih figur? Kurasa orang pada level pendidikan manapun tak kuasa melupakannya.

Sementara, aku di sini seringkali bertindak sok sebagai ibu pejabat. Berkata seenak jidat dan esoknya enteng mengatakan “sudah lupa, tuh”. Aku paham, penyimak dan pendengar takkan bisa disamakan dengan penonton iklan obat sakit kepala yang percaya kata-kata “sudah lupa, tuh”.

Kita berkhianat dengan kata-kata. Kita melumat majas-majas hanya demi mengenyangkan emosi. Kita hanya menyolek paragraf untuk menjadi sajak berbaris. Kita hanya sering teliti pada titik dan koma demi menjauhkan dr kecacatan ambiguitas. Dibalik kesempurnaan yang terwujud itu, kuyakin, hanya sedikit darinya yang membuahkan hikmah dan amal. Dan aku salah seorang pelakunya.

Bermanis kata tanpa aksi. Astagfirullah. Semoga setiap tulisanku menjadi pengingat bagi diriku sendiri. Allahu’alam bishowwab.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s