Satu momentum, dua kehilangan beradu

Ketika aku kehilangan Pak’e yang sudah kuanggap orang tua, di saat yang sama aku menyadari ada rasa lama yang sedang menghilang. Lekuk wajahnya menyadarkan hatiku untuk mengakui bahwa dia hanya sekadar masa lalu. Tatap mata yang kucuri kepadanya disela-sela isak tangis takkan membawanya sampai ke waktu yang sama denganku. Kedua matanya tak mungkin akan menatap kepadaku. Ada batas tak tertembus di antara dia dan aku. Darinya aku belajar mengagumi tanpa kuasa mengurai pengakuan. Tersembunyi. Terselubung. Terpisah.

Hari itu adalah kesempatan lain milikku untuk berlama-lama menatapnya. Saat itu aku mengharapkan kedua matanya juga mencari-cari sosokku, laiknya aku terhadapnya. Akan tetapi, perjumpaan kedua mata tanpa rasa darinya yang sekelebat sudah cukup membayar jeda rinduku.

Malam ini wajahnya terbayang, bola matanya kembali menari-nari. Jika dahulu dia mampu mendesak harapanku untuk tetap mengejar bayangnya, kini aku biarkan saja. Meskipun demikian, ada rasa yang menusuk-nusuk tajam di dalam dada. Menolak antara kepasrahan dan perlawanan.

Hai, izinkan aku berhenti menyimpanmu sebagai harapan. Aku akan berjalan maju. Jika kelak kita bertemu, biarlah angin yang bercerita tentang kisah kita yang tak menjadi serangkai paragraf yang menyambung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s