Akulah pengemis (2)

Tuan juragan, bolehkanlah hamba mengetuk pintumu waktu demi waktu. Hidupku hanya bergantung dari tanganmu. Malu. Pintumu bagai cermin bagiku yang membuat malu. Kutahu kau maharaja yang tiada habis harta, kuasa, tahta, puji dan puja. Hanya di dalam malam yang memekatkan gelap, aku selalu berdoa moga2 esok pagi pintumu masih lebar terbuka menjamu pengemis2 yang haus akan penghidupan sepertiku. Wajah ini memang coreng-cemoreng, tapi kau yang bisa tahu segala apa yang ada dibalik itu. Maafkanlah daya lemahku. Bolehkanlah aku tetap mengetuk pintumu sekali lagi, sekali lagi, sekali lagi, dan tak berhenti sampai nanti datang palang pemisah antara dua kehidupanku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s