Genangan Nostalgia di Lorong Pasar

“Ma…beli ini, boleh ngga?”
Kamu udah punya banyak, ah”.
“Ma…mau yang itu”.
“Emangnya kamu perlu? Paling kamu cuma maunya aja, nanti nggak dipakai”.

Dan akhirnya Si Anak cemberut. Si Mama akhirnya juga hanya membelikan buah potongan atau seplastik es teh manis untuk mengobati kekecewaan Si Anak. Begitulah kira-kira pemandangan yang terjadi setiap Mamak-Anak itu pergi ke pasar. Sesekali ada Ma’e yang menggantikan posisi Mamak, justru kadang sekaligus jadi malaikat yang mengabulkan permintaan.

Manis sekali rasanya mengingat itu semua. Tepatnya, ingatanku kembali bangun saat siang tadi mengunjungi Pasar Tradisional Munjul bersama Mama. Letaknya tak jauh dari rumah. Hanya dengan mengendarai motor akan sampai di tujuan sekitar 10-15 menit. Kalau dulu, sewaktu masih kecil pasar yang sering kukunjungi Pasar Tradisional Cibubur, sesuai dengan wilayah tempat tinggalku. Letaknya juga lebih sedikit jauh dari yang di Munjul.

Dulu ada banyak hal sederhana di pasar tradisional yang jadi istimewa buat anak kecil sepertiku. Kios pedagang ikan hidup jadi tontonan paling asyik kalau Mama sedang membeli ayam potong atau ikan. Dulu, aku sering berharap Mama akan memilah-milah ayam potong lebih lama hanya demi bisa melihat ikan besar yang hidup di akuarium lusuh punya pedagangnya. Kadang juga yang lebih menarik justru bukan ikan yang hidup di akuarium, tapi ikan yang ditaruh di kolam bak ukuran sedang di lantai. Pemandangan waktu si pedagang menjaring satu per satu ikannya membuat mataku berbinar-binar, sambil di dalam hati teriak-teriak, “Ayo Bang! Yang itu saja yang paling besar! Cepat, nanti keburu lepas!”. Haha padahal yang beli pun bukan Mamaku.

Ada lagi kios parut kelapa. Setiap Mama beli kelapa diparut, aku antara deg-degan tapi penasaran buat liat prosesnya. Bayangin! Mesinnya sih kecil, tapi suaranya bising sekali dan bisa menghancurkan kelapa yang keras. Asal setiap kali abangnya masukin kelapa, pikiranku terbayang-bayang bagaimana kalau jari abangnya ikut terparut. Hiiiy….!! Tapi, yang bikin penasaran adalah bagaimana mesinnya bisa menghancurkan kelapa sampai jadi serutan-serutan kecil. Dan perasaan yang sama juga berlaku kalau Mama sedang membeli kopi giling.

Dulu juga sempat bingung sama pedangang yang menjual bumbu halus. “Itu gimana ya nguleknya? Kok bisa halus banget gitu? Kok bisa sampe banyak banget gitu hasilnya? Berapa lama nguleknya? Kan capek…” Eh ternyata kan bukan diulek, tapi diblender. Wkwk. Suka geli ingetnya.

Hal lain yang bikin aku fantastis sewaktu kecil adalah ngelihat abang penjual daging. Pasti banyak darah berceceran, becek, golok besar-besar, gantungan daging raksasa di mana-mana, bau amis, celemek/bajunya ternoda merah darah, dan yang pasti pedagangnya kelihatan sangar banget. Kalau masuk area penjual daging, pasti deh hawanya beda. Aku sering berdoa supaya ngga diajak ke sana, atau kalaupun iya, Mama nggak berlama-lama di sana.

Nah, kalau tempat yang paling diimpikan sama anak-anak sewaktu di pasar adalah kios mainan. Dulu, kios mainan plastik, kios masak-masakan, kios yang jual perahu otok-otok, kios jajanan pasar, kios sepatu keren, dan kios perlengkapan/seragam anak adalah tempat-tempat yang aku doain bakal Mama lewati. Nggak apa-apa lewat doang, cuma ngelihat aja udah bikin seneng. Kadang justru modusnya bisik-bisik gitu minta supaya Mama berbaik hati mau membelikan. Tapi jarang sih, atau perbandingannya 2 dari 10 kali rengekan. Haha.

Memang zaman dulu mainan masakan dan perahu otok-otok tuh bergengsi banget, loh! Atau kalau makan jajanan pasar rasanya udah afdhol, dan kalau engga tuh nggak afdhol. Heheee

Dulu, asal pulang membawa banyak kantong plastik besar isi penuh, rasanya bahagia banget. Sepanjang di angkot pun berbunga-bunga, nggak sabar untuk segera sampai di rumah. Sesampainya di rumah pun, buru-buru dibongkar cari barang punya kita. Kadang Mama sampai kesel karena jadi berantakan dan nggak dibereskan. Tapi, hati tetap bahagia dan nggak terpengaruh omelan Mama. Bonusnya, kalau dari pasar Mama suka masak besar, atau minimal aku dibelikan bakso–makanan kesukaanku.

Biasanya sih, dulu memang selalu naik angkot kalau ke pasar. Bapak hanya sesekali saja mengantarkan. Sekalinyapun diantar bertiga sama Bapak, rasanya…..lengkap banget!

Nggak perlu harus ke Dufan, ke mall besar, atau ke tempat rekreasi lain buat ngerasain bahagia. Cukup merasakan pergi ke pasar di anter-jemput Bapak naik motor dan keliling 7 putaran sama Mama. Rasa bahagianya sama, nggak kalah hebat. Seistimewa  pasar tradisional yang sederhana itu deh pokoknya.

Sekarang, pasar tradisional sudah kalah pamor dibandingkan dengan mall atau minimarket. Anak-anak zaman sekarang mungkin nggak bisa ngerasain serunya nontonin ikan di pasar, dengerin berisiknya mesin parut kelapa, gregetnya minta mainan plastik atau perahu otok-otok (dulu aku baru bisa dapet setelah 3 kali minta setiap ke pasar), istimewanya jajanan pasar, dan capeknya ngintip-ngintip barang-barang bagus produksi pasaran. Dulu, kalau pergi ke pasar pun sekitar satu atau dua pekan sekali. Sekarang, bisa setiap saat ke minimarket, deket pula.
Sekali lagi, kini aku baru sadar bahwa pasar tradisional yg sederhana itu begitu istimewa di hati.

Kemarin, 16.27

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s