Hitam.

Untuk beberapa orang di dunia ini, mereka kunamai hitam. Tak berarti rasis, tak berarti negatif, tak berarti opresif. Kunamai hitam karena mereka tak tembus pandang; misterius. Lagi-lagi pun tak berarti mereka adalah hantu, bukan. Mereka begitu misterius saat sekali berjumpa. Kau tak tahu mereka serupa apa perilakunya, kau tak tahu mereka serupa apa perangainya.

Seperti mereka yg berdiri di balik payung hitam; tak dapat diterka apakah ia bersedih atau apakah ia hanya menyederhanakan bahagia

Kita tak tahu hitam.

Sementara, kita butuh waktu untuk dua kali, tiga kali, empat sepuluh seribu kali untuk menyelami warna pekatnya. Kenyataannya, hitam selalu menyerap cahaya. Bukankah paradoks ketika hitam yg pekat selalu menjadi hitam padahal ia selalu menyerap cahaya? Kita pasti terdorong asumsi, mengapa ia tetap pekat? Sedangkan akupun percaya, mereka adalah hitam bukan karena rasis, negatif, dan opresif, melainkan karena mereka menjaga dan terjaga. Aku mengagumi mereka. Aku suka meneladani sikap mereka. Tapi aku takkan menjadi hitam. Aku hanyalah abu-abu.

Untukmu, hitam..tetaplah seperti itu.

Butas 361, 08.52 WIB.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s