Tunas Harapan.

Kita yang kini sedang tumbuh dewasa pernah atau masih menjadi tunas harapan. Adakah kita ingat dulu kita mengucap 1001 bermacam cita-cita? Dokter, Polisi, Tentara, Perawat, Bidan, Guru, Insinyur, dan lain-lain. Pasti kita pernah menyebut satu atau bahkan semua nama profesi tersebut karena memang sedari dini kita selalu ditanyakan, “Kalau sudah besar ingin menjadi apa, Nak?”. Artinya, sedari dini kita diharapkan bisa mulai melihat suatu masa secara jauh ke depan.

Tapi, apakah semata-mata kemudian ‘kita cilik’ akan meraih apa yang kita cita-citakan disebabkan usaha kita sendirian? Kenyataannya, justru peran orang tua akan membentuk bagaimana ‘kita cilik’ di masa dewasa. Apa yang akan ‘kita cilik’ raih di masa dewasa adalah hasil yang cukup bisa mempresentasikan proses bagaimana orang tua kita ‘menumbuhkan harapan’. Sebab, kitalah sebenarnya tunas harapan itu, dan yang merawat kita bukanlah sesiapa lain melainkan orang tua kita. 

image

Kartini Muda Cibuntu

Apakah kita kini berpijak mendalami ilmu kesehatan karena pernah diajarkan orang tua untuk menolong orang lain yang kesakitan?

Apakah kita kini berpijak mendalami ilmu militer karena pernah diajarkan orang tua untuk melindungi orang lain yang tidak mendapat keamanan?

Apakah kita kini berpijak mendalami ilmu sosial karena pernah diajarkan untuk membantu kesusahan hidup seseorang di dalam lingkungannya?

Pada akhirnya, kita ini adalah tunas harapan yang telah ditumbuhkan dan dirawat sedemikian rupa oleh orang tua. Kita tidak dengan serta-merta tumbuh begitu saja tanpa rawatan dan perhatian dari luar diri kita sebagai individu. Dan akan menjadi sangat lucu saat akhirnya orang tua tidak mendapatkan apa yang ia inginkan dari tunas yang telah ia besarkan. Inilah fenomena yang umum terjadi, iya bukan?

Lalu, apakah salah saat dulu orang tua mengharapkan kelak dewasa kita harus bisa membantu orang lain yang kesusahan dan akhirnya kita tumbuh menjadi ‘pribadi ulur tangan’ dibandingkan ‘pribadi ulur dana’? Dan kita memilih hal berbeda; mungkin menjadi relawan pro tak berbayar atau akuntan pro selangit berbayar. Meskipun keduanya bisa satu makna, yaitu mampu membantu orang susah, namun jalan tempuh yang dipilih berbeda. Sehingga aku memaknai, sesungguhnya cita-cita terletak bukan pada bentuk profesi melainkan pada tujuan dibalik profesi yang dijalankan tersebut. Dan bisa saja ternyata selama ini kita hanya salah melihat untuk kemudian menyimpulkan bahwa ‘tunas harapan’ ini gagal terbentuk hanya karena profesi yang berbeda. Sekiranya orang tua perlu memahami ini sehingga tidak menghukum ‘tunas harapan’ dengan memberikan cap ‘gagal’.

@Butas361, 01.27 WIB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s