Dia (perempuan)

Dia (perempuan) sedang terpaku pada layar laptop, bunyi playlist musik, dan bunyi hujan.

“Aku ingin sekali mengumpat. Tapi entah kepada siapa”, dia (perempuan) berkata tidak kepada siapa-siapa. Ia kemudian berbaring di lantai dengan posisi telungkup. Ada bantal kesayangannya yang menumpu wajah dengan kening lebarnya.

“Hei, hujan! Aku hanya ingin kau tahu satu hal. Aku masih ingin pergi. Tapi, aku masih ingin menetap. Aku tak tahu bahkan di mana sepantasnya tempatku berada. Tidakkah aku bisa sepertimu saja, hujan? Kau selalu tepat menghadirkan diri”, dia (perempuan) menghirup nafas panjang dan tercium olehnya wangi petrikor. Dia (perempuan) tersenyum. “Setidaknya, kehadiranmu membahagiakan.”

Hujan yang justeru dia (perempuan) tujukan pembicaraan kepadanya itu malah perlahan mereda. Dia (perempuan) hanya memandang jauh ke luar kamar yang menggambarkan pemandangan malam nan gelap. Dia (perempuan) memilih menikmati kembali petrikor yang tersisa di sela-sela alunan playlist musik dari laptopnya, lalu melupakan apa yang barusan telah dikatakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s