Dia (perempuan) – 2

Dia (perempuan) sedang menelan ludah. Wajahnya terlihat berkerut dengan lipatan sebab tertahan meringis. Sesekali ia merasakan hempasan angin lembut. Sesekali ia mendengar isak samar-samar. Dia (perempuan) mencoba tak menghiraukan.

“Kita semestinya paham sesuatu. Tangis seorang perempuan adalah hal sederhana yang mampu mengiris perasaan. Airmatanya adalah bahasa istimewa. Dan kita masih tega saja menyakitinya”.

Dia (perempuan) menyentuh ujung kayu berbentuk persegi yang membingkaikan foto perempuan tua di dalamnya. Perempuan dalam foto itu terlihat tersenyum di samping anak perempuan kecil berkuncir dua yang lugu.

“Tak ada yang ingin sengaja diabadikan airmatanya. Bahkan dia, kau, aku, kita lebih bahagia menyembunyikannya. Tersenyum tak akan jadi seberapa sulit. Aku tahu, surga memang pantas terbingkai dalam bakti kepadamu”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s