Dekade Kedua

Hari ini aku sedang menyesali diriku sendiri. Aku merasa payah karena tak mampu menemukan mood untuk memaksimalkan praktikum ini. Padahal, Alloh sudah melancarkan jalan dan kesempatan kepadaku. Artinya, aku sadar bahwa ini memang ujian dari Alloh.

Semua makhluk Alloh ujikan.

Astagfirulloh al adziim…aku sungguh harus segera menemukan mood dan mulai aplikatif. What should i do?? 😫

In other hand, aku sedang galau sekali akibat aku sudah semakin tua. Orang-orang lain sudah punya rencana jangka panjang untuk masa depannya. Sementara itu, aku di sini masih saja asyik berimprovisasi; enggan berencana. Aku banyak berkaca pada teman-teman bahwa hidup ini panjang untuk dibuat singkat dan sebaliknya, terlalu singkat untuk dibuat panjang. Ada yang bisa mengerti maksudku?

Sesingkat apapun hidup ini, peta masa depan perlu paten direncanakan. Sepanjang apapun hidup ini, realitas akan tetap berhenti pada satu titik.

Tidakkah sejauh ini kalian pahami?
Aku sudah terlalu banyak membuang resiko dan mengambil sikap terlalu nyaman. Kurasa kalian setuju dengan hal ini. Sejujurnya, aku sadar terlalu terlambat untuk memulai menjadi konsekuen dengan resiko dan peluang.

Sudah lewat dua dekade aku lari tidak dari apa-apa. Hanya berlari dikejar ketakutan dan tidak juga menuju apa-apa. Mencari keberanian pun tak kunjung menjadi agenda. Lalu, kini bisakah aku coba menjadi sebenar-benarnya berubah?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s