Belajar 

Pada suatu hari, sambil menunggu bimbingan dengan dosen tercantik dan terbaik sejagat STKS Bandung, aku tergugah kembali mengunggah tulisan. Seorang kawan lama, membuatku terpanggil lewat tulisan sederhananya. Akan kuceritakan kepadamu, berikut ini tentang fase belajar yang selalu kunikmati meski tidak menyenangkan dilalui.

Aku mengenal diriku sebagai pribadi yang terlalu santai dan tak acuh, tapi terkadang aku juga menjadi orang yang paling riweuh dan sensitif. Aku seringkali kebingungan bagaimana menempatkannya dengan tepat. Selalu demikian.

Beberapa waktu belakangan ini, tiba-tiba aku menemui diriku mendapatkan perilaku yang baru. Dari manakah? Dari proses belajar. 

Praktikum III bagi mahasiswa lain adalah ajang paling menyenangkan dan berkesan bersama masyarakat. Bagiku, apa yang kudapatkan adalah hal yang berbeda dan tidak didapatkan mahasiswa lainnya.

Aku belajar dari anggota tim ini bahwa bagi kita mendoa kepada Allah Swt Yang Maha Mengetahui segala ternampak dan tersembunyi adalah amat penting. Bukannya Allah, illah semesta alam, tak tahu apa yang kita mau. Tapi, adakah kita patut sombong dan besar diri dengan tidak berdoa kepada-Nya?

Dua praktikum ke belakang, aku benar-benar memasrahkan diri terhadap ketentuan baik dan buruk-Nya. Hasilnya, yaa memang sangat menguji. Ditampakkan kepadaku apa yang kuharap bisa kulihat. Ternyata, rasa penasaranku tak sebanding kuat dengan keimanan. Akan tetapi, semua itu menjadi pengalaman besar.

Praktikum terakhir ini, aku sungguh-sungguh berdoa. Aku berdoa atas kelelahanku yang tengah hampir mencapai klimaks. Ya Allah, aku sangat berharap diberikan kelompok yang aman. Aku mengatakan ‘aman’ untuk menggambarkan kondisi kesalihan kelompok, kekompakan kelompok, dan kebaikan2 lainnya yang tak aku punya pada kelompok sebelumnya. 

Hasilnya, masih sama, yaitu sangat menguji. Justeru dengan kenyamanan yang kudapatkan, aku menjadi lalai. Akan tetapi, aku mendapatkan sesuatu yang berharga yakni kebersihan hati dan batin. Aku tak lagi banyak mengeluh, mengomel, atau membatin jelek. Hatiku tenang, alhamdulillah. Dan lagi…proyek pembenahan diriku ikut terdorong dengan kondisi tersebut. Aku sangat bersyukur.

Memang sih, hasil kegiatanku tidak lebih memuaskan ketika pada praktikum 2 yang amat kuusahakan. Aku sangat puas dengan hasil kegiatan praktikum 2. Aku juga sangat puas dengan ketenteraman batin dari praktikum 3. Kalau praktikum 1, aku sangat puas dengan kebahagiaan sederhana bertemu sosok2 hebat di masyarakat.

Kalian tahu?

Aku menyimpulkan dari kesemuanya, doa itu adalah harapan yang nyata. Doa itu menghangatkan segala kebekuan. Doa itu meleburkan apa yang kaku tak bersendi. Doa menempatkan diri pada kedekatan antara yang fana dan kekal. Doa menjadi wasilah bertambah keimanan. 

Doa terkabul, itu ujian
Doa ditunda, itu ujian

Juga apa-apa selain dari doa,

Semua adalah ujian,

Selamat menempuh perjalanan keimanan!

Bagi orang beriman, ujian adalah nikmat perjuangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s