Sepasang Pagi dan Petang

Menantikan hari esok jadi pekerjaan paling asyik dilakukan bagi Owen. Akhir-akhir ini ia berhasil berdamai terhadap alergiknya akan kata kerja menunggu. Ada suatu momen yang mendorong Owen mulai terbiasa menyimpan harapan kepada hari-hari yang berganti bersamaan dengan merekahnya rona matahari pada awal pagi.

“Aku tak bisa hanya menyukai senja, lalu membenci pagi, Jana. Sepasang doa dan dzikir saja terikat pada dua waktu, pagi dan petang”, kata Owen kepada Jana yang tengah sibuk menalikan sepatunya. Kelihatannya Jana menyimak dengan baik, meskipun tak begitu tertarik dengan tema pembahasan Owen.

“Mencintai pagi harus dengan kegigihan, sementara mencintai senja harus dengan ketulusan. Mungkin kamu juga harus memahami ini, Owen. Begitulah pandangaku untuk menganggapi pernyataanmu.” Jana sudah bersiap pergi karena siang hari itu masih ada jadwal mata kuliah lain. Owen tak berkeinginan menanggapi apa-apa dan membiarkan Jana berpamit lebih awal mendahuluinya.

Setelah jarak mereka cukup berjauhan, Owen masih tetap berada dalam alam pikirannya. Ia sedang berusaha menyelami kata-kata yang diucapkan Jana tadi. Owen kemudian menyunggingkan senyum—amat—tipis. Menurutnya, Jana terlalu bijak untuk membuat kesalahan dalam menanggapi hal seperti ini. Owen membenarkan pandangan Jana, dan berterima kasih kepadanya dalam hati. 

=====::::=====

Ramadhan 1438 H

Marhaban yaa Ramadhan.

Marhaban yaa Karim.

Alhamdulillah alhamdulillah alhamdulillahi rabbil ‘alamin, terima kasih yaaAllah telah menyampaikanku pada bulan kemuliaan ini. Semoga sesak haru yang bergemuruh di dalam dada ini senantiasa bergema hingga takbir kemenangan berkumandang. Aamiin allahumma aamiin.

YaaAllah tenangkanlah hati yang penuh ketergesaan ini hingga ia bisa merasakan setiap Keagungan-Mu lebih peka lagi. Semoga Engkau menuntun kecemasan-kecemasan ke dalam gelagat iman sehingga akhirnya ia menghimpun segala bahagia. YaaAllah, aku bertawakkal kepada-Mu…jadikanlah kami termasuk golongan bertaqwa. Aamiin allahumma aamiin.
♡♡♡

Early morning activity.

Aktivitas pada sepagi hari ini (25/05) sungguh rempong. Bahkan, kerempongan ini sudah dimulai sejak semalam tadi. Apakah penyebabnya? Arisan.

YaaAllah, aku akan mencoba belajar memasak. Tolong bantu aku. Aku akhirnya menyadari bahwa se-enggak kompeten apapun perempuan untuk menjadi isteri, minimal yang harus dipunyai adalah semangat belajar dan dukungan suami. 

“Panggil tetangga aja, Ma buat masakin. Daripada nanti rasanya nggak karuan”, kata seorang suami kepada isteri. Sang isteri hanya menjawab dengan diam.

Aku bisa merasakan hati sang isteri merasa sedikit tersinggung. “Ah, memang gak bakat masak”, sang isteri bergumam di hadapanku setelah menyicipi hidangan eksperimennya sendiri. Aku hanya menatap jerih, waduh gimana dong aku juga gak bisa masak


Ayolah, para suami…

Dukunglah para isteri meningkatkan kemampuan memasaknya. Sama seperti kesenian, memasak juga butuh bakat dan potensi yang perlu ditumbuhkan.

“Yang ini kok belum jadi dimasak?”, tanyaku sambil menunjuk kuali besar berisi ayam kampung yang sudah diungkep sang isteri.

“Nanti aja nunggu Mama Nita yang masak. Nanti dimarahin lagi sama bapakmu kalau ga enak”.

Aku tersenyum simpul sambil terkekeh kecil kepada sang isteri yang tak lain adalah mamakku. Ya ampun jadi isteri begini banget dramanya yah…

😂😂😂😂😂

Jejak Jalan Di Atas Lembar Halaman (b) 

Seperti sudah jadi hal yang umum, membaca dijadikan banyak orang sebagai hobinya—sebagai hobi sesungguhnya atau sekadar formalitas karena bingung harus mengisi apa pada kolom hobi lembar Biodata. Aku menobatkan diri berada dalam orang-orang itu. Jika diminta menyebutkan hobi ketika perkenalan diri, aku selalu akan katakan, “Nama saya Yuri, hobi saya membaca”. 

Tidak spesifik, kan yah? Ha ha.

Yep. Aku hanya menjadikan hobi membaca sebagai kedok semata-mata karena tak menemukan apa yang menarik bagiku. Akan tetapi, hal ini berubah seiring akhirnya aku dan jejeran rak buku saling menemukan.

Usiaku saat itu sepantar murid SMP kelas VII. Karena salah satu spot paling nyaman di seluruh ruangan gedung sekolah adalah Perpustakaan, maka sekitar pada semester kedua kelas VII saat itu aku mulai kerangjingan mengunjungi Perpustakaan. 

Saat aku datang terlalu cepat, atau saat jadwal hari itu berakhir lebih pagi dan saat itu kalian ingin menemuiku maka janganlah kebingungan. Temui saja aku di sudut-sudut Perpustakaan. Jika beruntung kalian akan menemukanku dalam keadaan tersadar (tidak ketiduran).

Itulah detik-detik menentukan dalam proses keakrabanku dengan hobi membaca. 

Selain karena faktor itu, mata pelajaran Bahasa Indonesia menjadi penentu lainnya. Berkat penugasan meringkas maka akhirnya aku untuk pertama kalinya membeli novel mini. Beruntungnya, novel mini tersebut ‘kebetulan’ termasuk karya sastra yang bagus dan sangat menarik dengan isi cerita yang kuat. Sejak itulah, akhirnya keberadaanku di Perpustakaan tak lagi hanya sekadar numpang ngadem, tetapi juga mulai memburu macam-macam buku bacaan yang isinya menarik. Dalam dua pekan, aku bisa 3 sampai 4 kali mendaftarkan diri sebagai peminjam buku-buku di Perpustakaan.

Aku beruntung buku yang aku beli saat itu adalah buku yang berkualitas. Bagi pemula, yang minim pengetahuan tentang mana buku bagus dan mana buku biasa, hal ini adalah rezeki. Jodoh. He he. 

Di kemudian hari, aku tahu bahwa memang penulis buku yang kubeli pertama kali itu adalah penulis yang hebat; Gol A Gong dan juga isterinya, Tias Tatanka. Izinkan aku mengucap terima kasih untuk keduanya sebagai bagian dari rasa syukurku kepada Allah Swt. Terima kasih, Penulis! Alhamdulillah!

Setelah saat itu, aku tak lantas gila belanja buku. Hal ini justeru baru muncul belakangan ini saja. Akan tetapi, yang kugarisbawahi adalah kalau buku dan seseorang berjodoh akan tetap bertemu, *loh* ha ha.

Hhmm…

Sebetulnya ada lagi yang mendorongku untuk mencintai sastra. Aku memiliki kakak-kakak yang pandai menuliskan diary dengan indah. Aku yang saat itu masih piyik—masih labil dan suka ikut-ikutan—tergugah perasaannya untuk bisa melakukan hal yang sama. Dari situlah aku mulai iseng menulis-nulis puisi dan menyusun diary (entah sekarang wujudnya sudah musnah atau masih ada di gudang).

Aku pikir, menulis dan membaca akan selalu berkolerasi. Lalu, aku berkesimpulan bahwa jika aku ingin menulis diary dengan indah maka harus banyak membaca karangan buku yang indah-indah juga. Begitulah, kira-kira.
Next?

Aku ingin bercerita kelanjutannya lagi dalam unggahan yang berbeda insyaAllah   😀😀😂. *udah mulai kesal karena keypad telepon genggam ini tidak kooperatif* 

Jejak Jalan di Atas Lembar Halaman (a)

Kuberi tahu kepadamu, salah satu kesukaan terbesarku adalah membaca. Aku komitmen dengan kesukaanku ini sejak pertama kali ia tumbuh bertunas hingga sekarang. Perjalananku masih panjang untuk menyempurnakan komitmenku ini. Meskipun demikian, aku yakin aku akan mencapai titik itu sepanjang apapun jarak yang harus kutempuh.

Sebelum aku ungkapkan mengapa aku memilih komitmen dengan kesukaan terbasarku ini, aku ingin mengawali segmen pertama judul tulisan ini dengan perkenalan awal seorang ‘Yuri’ dengan kesukaannya, yakni ‘membaca’.

Aku mulai menyukai membaca buku sejak SD, kira-kira kelas V SD. Buku yang kusukai saat itu adalah buku teks pelajaran IPA. Buku teks tersebut sangat warna-warni penuh ilustrasi, sangat membantuku memahami isinya. Aku ingat sekali bab favoritku adalah tentang bab tumbuh-tumbuhan. Aku selalu berhenti lama sekali pada halaman-halaman yang memuat gambar bunga, struktur bunga, atau chart penyerbukan bunga. Aku selalu mengulang membaca buku teks IPA tersebut jika sedang bosan atau tak ada permainan seperti biasanya. Jika aku tak salah, aku telah tiga kali mengkhatamkan buku setebal antara 100-an halaman itu. Sampai-sampai, aku bisa hapal harus menuju halaman mana ketika Pak Guru meminta membuka bab pembahasan tertentu. 

Ada hal lucu lagi, pada saat Pak Guru mengadakan ulangan harian IPA—metode ujian pilihan ganda dan esai pada era 2000-an saat itu— aku nyaris mendapatkan nilai sempurna. Pada hari penilaian itu, aku sudah bisa membawa pulang nilai 100 sebagai nilai tertinggi satu-satunya di angkatan kelas V, jika saja aku tidak mengoreksi jawabanku sendiri yang keliru. Nilai 100 itu sangat prestisius, lho! Pak Guru kami itu dikenal memang suka sekali menyusun soal yang susah.

Pada siang hari itu, sekolah kami sudah lengang dari aktivitas murid-murid dan juga guru-guru. Gedung sekolah kami terbagi menjadi pagi dan siang antara SDN 05 dan SDN 08. Nah, tepat di ruang kelas V-A, tersisa tiga murid dan Pak Guru IPA. Aku menjadi salah satu murid yang tersisa itu. Kami bertugas membantu Pak Guru memeriksa seluruh hasil ulangan IPA kelas V seangkatan, yaitu V-A dan V-B. Aku sungguh senang sekali bisa dipercaya Pak Guru. Aku sangat senang sampai tak bisa merasakan lapar atau mengantuk seperti setiap pulang sekolah pada siang hari biasanya.

Tugas kami siang itu sudah beres pada pukul 14.00 WIB. Sisanya yang harus dilakukan adalah merapikan seperti semula. Kami boleh membawa pulang kertas hasil kami sendiri sembari memilah-milah sesuai kelas dan barisan tempat duduk. Saat itu aku penasaran dan langsung terkejut saat tahu aku mendapat nilai sempurna sendirian. Aku tak percaya. Aku periksa ulang semua dengan amat teliti. Aku mendapatkan satu nomer pada soal esai yang kuisi dengan jawaban ngawur. Aku tanya temanku dengan sedikit kebingungan, “Bagaimana ini, Dian?”

Dian, temanku yang memang terkenal sangat pintar hampir pada setiap pelajaran itu dengan santai menjawab, “Bilang sana ke Pak Guru kalo mau. Nggak apa-apa. Punya kita mah yang periksa Pak Guru langsung. Gue aja cuma 90 nih.”

Aku memang mengalami sindrom cemas yang agak merepotkan. Aku tak terbiasa bicara dengan orang asing atau orang yang kuhormati. Aku selalu gugup. Tapi, aku ingat kata-kata Mamaku. Aku harus selalu jujur dalam apapun konteksnya (utamanya hal-hal prinsipil). Aku tak pernah menyontek—tapi sering disontek—saat ulangan, aku selalu jujur berapa kembalian yang kuterima saat disuruh berbelanja di warung, aku juga belum pernah melebihkan jumlah uang untuk membeli suatu keperluan sekolah. Tapi, aku juga suka tak berani jujur pada beberapa hal kecil lain. He he he. Meskipun begitu, hal ini mendorongku memberanikan diri untuk bilang ke Pak Guru tentang kekeliruan yang tak sengaja terjadi, dan memberanikan diri untuk kehilangan nilai sempurna.

“Oh, memang apa jawaban seharusnya?”, kata Pak Guru dengan tenang. Ini membuatku sangat lega setelah menghadapi ketakutan-ketakutan sebelumnya.
“Ini, Pak. Di buku ini ada penjelasannya terhadap soal ini. Jadi, jawaban saya salah”, jawabku sambil membawa buku teks pelajaran IPA yang memang dibawa untuk jadwal hari itu.
“Oh, iya”, kata Pak Guru setelah meneliti beberapa saat, “Berarti cek ulang lagi jawaban semuanya, Juariah. Bapak tadi pakai sampel hasil ulangan kamu. Kalau ada jawaban yang sama, kamu ubah nilai nya berarti ya.”

Aku kembali kepada teman-temanku dan memberitahukan intruksi Pak Guru. Aku merasa senang dan menyesal secara bersamaan. Pertama, senang karena aku telah berbuat jujur dan karena tahu ternyata Pak Guru memakai sampel dari hasilku. Kedua, menyesal karena membuat teman-temanku kerja lagi dan karena dikemudian hari aku tahu Pak Guru tak lagi menggunakan hasilku sebagai sampel. Ha ha ha.

Akhirnya, siang itu aku tetap pulang ke rumah dengan membawa kesempurnaan kebahagiaan. Satu, karena Pak Guru sudah mempercayaiku. Dua, karena aku bahagia telah berbuat jujur dan kupikir karena kejujuran ini akhirnya membuat Pak Guru tetap mempercayaiku pada hari-hari berikutnya. Tiga, aku sadar membaca itu sangat berguna seperti kata pepatah, “Buku Jendela Dunia”. Asalkan kita tekun membaca maka ilmu kita akan banyak bertambah-tambah.

Mulai dari hari itu, tekadku untuk mencintai buku mulai bertunas. Mulai dari hari itu juga, aku mengembangkan wejangan Bu Guru waktu kelas III SD yang bilang bahwa, “Bacalah apapun yang bisa dibaca, di manapun jika masih memungkinkan terbaca” menjadi wejangan yang lebih luas. Aku katakan pada diriku sendiri bahwa aku tak akan pernah berhenti membaca.

Begitulah, awal kali salah satu kesukaan terbesarku mulai terbina; membaca. Aku memulai dengan sesuatu yang sederhana. Tapi, aku juga mengerti bahwa suatu hal besar selalu dimulao dari hal yang amat sekali sederhana. Lalu, bagaimana dengan alasan dibalik aku memilih kesukaan ini? Next aku ceritakan, insyaAllah ya! ✌😁

Kangen

​Habis baca Happy Little Soul karya iboknya baby cat kirana, trus kangen sm rembol. Kebayang gmn bahagianya ibok. Hhaa~ bulek kangen rembol.

Masih seneng buka2in video pertama kali jalan, nyanyi2 gaje, bilang nyuwun maaci camacama, kata2 yg kebalik2, nangis gara2 idungnya pura2 dibuang, nangis gara2 film nemo, iseng nyuci piring sendiri, ngerusuh pas Uti masak, bilang “meong mana?”, ngejar2in ayam, ngelawak, nangis gara2 ga terima aku anaknya uti, rebutan ‘nabung’ di kotak amal, main rebutan karakter upin&ipin, daaan lain2. Eh anaknya sekarang udah jd galak 😦 

Rahma pas mulain centil-gatau umur berapa

Mboool….bulek sayang rahma ♡ 

Maafin bulek nggak nemenin terus setelah bulek di Bandung.