Jejak Jalan di Atas Lembar Halaman (a)

Kuberi tahu kepadamu, salah satu kesukaan terbesarku adalah membaca. Aku komitmen dengan kesukaanku ini sejak pertama kali ia tumbuh bertunas hingga sekarang. Perjalananku masih panjang untuk menyempurnakan komitmenku ini. Meskipun demikian, aku yakin aku akan mencapai titik itu sepanjang apapun jarak yang harus kutempuh.

Sebelum aku ungkapkan mengapa aku memilih komitmen dengan kesukaan terbasarku ini, aku ingin mengawali segmen pertama judul tulisan ini dengan perkenalan awal seorang ‘Yuri’ dengan kesukaannya, yakni ‘membaca’.

Aku mulai menyukai membaca buku sejak SD, kira-kira kelas V SD. Buku yang kusukai saat itu adalah buku teks pelajaran IPA. Buku teks tersebut sangat warna-warni penuh ilustrasi, sangat membantuku memahami isinya. Aku ingat sekali bab favoritku adalah tentang bab tumbuh-tumbuhan. Aku selalu berhenti lama sekali pada halaman-halaman yang memuat gambar bunga, struktur bunga, atau chart penyerbukan bunga. Aku selalu mengulang membaca buku teks IPA tersebut jika sedang bosan atau tak ada permainan seperti biasanya. Jika aku tak salah, aku telah tiga kali mengkhatamkan buku setebal antara 100-an halaman itu. Sampai-sampai, aku bisa hapal harus menuju halaman mana ketika Pak Guru meminta membuka bab pembahasan tertentu. 

Ada hal lucu lagi, pada saat Pak Guru mengadakan ulangan harian IPA—metode ujian pilihan ganda dan esai pada era 2000-an saat itu— aku nyaris mendapatkan nilai sempurna. Pada hari penilaian itu, aku sudah bisa membawa pulang nilai 100 sebagai nilai tertinggi satu-satunya di angkatan kelas V, jika saja aku tidak mengoreksi jawabanku sendiri yang keliru. Nilai 100 itu sangat prestisius, lho! Pak Guru kami itu dikenal memang suka sekali menyusun soal yang susah.

Pada siang hari itu, sekolah kami sudah lengang dari aktivitas murid-murid dan juga guru-guru. Gedung sekolah kami terbagi menjadi pagi dan siang antara SDN 05 dan SDN 08. Nah, tepat di ruang kelas V-A, tersisa tiga murid dan Pak Guru IPA. Aku menjadi salah satu murid yang tersisa itu. Kami bertugas membantu Pak Guru memeriksa seluruh hasil ulangan IPA kelas V seangkatan, yaitu V-A dan V-B. Aku sungguh senang sekali bisa dipercaya Pak Guru. Aku sangat senang sampai tak bisa merasakan lapar atau mengantuk seperti setiap pulang sekolah pada siang hari biasanya.

Tugas kami siang itu sudah beres pada pukul 14.00 WIB. Sisanya yang harus dilakukan adalah merapikan seperti semula. Kami boleh membawa pulang kertas hasil kami sendiri sembari memilah-milah sesuai kelas dan barisan tempat duduk. Saat itu aku penasaran dan langsung terkejut saat tahu aku mendapat nilai sempurna sendirian. Aku tak percaya. Aku periksa ulang semua dengan amat teliti. Aku mendapatkan satu nomer pada soal esai yang kuisi dengan jawaban ngawur. Aku tanya temanku dengan sedikit kebingungan, “Bagaimana ini, Dian?”

Dian, temanku yang memang terkenal sangat pintar hampir pada setiap pelajaran itu dengan santai menjawab, “Bilang sana ke Pak Guru kalo mau. Nggak apa-apa. Punya kita mah yang periksa Pak Guru langsung. Gue aja cuma 90 nih.”

Aku memang mengalami sindrom cemas yang agak merepotkan. Aku tak terbiasa bicara dengan orang asing atau orang yang kuhormati. Aku selalu gugup. Tapi, aku ingat kata-kata Mamaku. Aku harus selalu jujur dalam apapun konteksnya (utamanya hal-hal prinsipil). Aku tak pernah menyontek—tapi sering disontek—saat ulangan, aku selalu jujur berapa kembalian yang kuterima saat disuruh berbelanja di warung, aku juga belum pernah melebihkan jumlah uang untuk membeli suatu keperluan sekolah. Tapi, aku juga suka tak berani jujur pada beberapa hal kecil lain. He he he. Meskipun begitu, hal ini mendorongku memberanikan diri untuk bilang ke Pak Guru tentang kekeliruan yang tak sengaja terjadi, dan memberanikan diri untuk kehilangan nilai sempurna.

“Oh, memang apa jawaban seharusnya?”, kata Pak Guru dengan tenang. Ini membuatku sangat lega setelah menghadapi ketakutan-ketakutan sebelumnya.
“Ini, Pak. Di buku ini ada penjelasannya terhadap soal ini. Jadi, jawaban saya salah”, jawabku sambil membawa buku teks pelajaran IPA yang memang dibawa untuk jadwal hari itu.
“Oh, iya”, kata Pak Guru setelah meneliti beberapa saat, “Berarti cek ulang lagi jawaban semuanya, Juariah. Bapak tadi pakai sampel hasil ulangan kamu. Kalau ada jawaban yang sama, kamu ubah nilai nya berarti ya.”

Aku kembali kepada teman-temanku dan memberitahukan intruksi Pak Guru. Aku merasa senang dan menyesal secara bersamaan. Pertama, senang karena aku telah berbuat jujur dan karena tahu ternyata Pak Guru memakai sampel dari hasilku. Kedua, menyesal karena membuat teman-temanku kerja lagi dan karena dikemudian hari aku tahu Pak Guru tak lagi menggunakan hasilku sebagai sampel. Ha ha ha.

Akhirnya, siang itu aku tetap pulang ke rumah dengan membawa kesempurnaan kebahagiaan. Satu, karena Pak Guru sudah mempercayaiku. Dua, karena aku bahagia telah berbuat jujur dan kupikir karena kejujuran ini akhirnya membuat Pak Guru tetap mempercayaiku pada hari-hari berikutnya. Tiga, aku sadar membaca itu sangat berguna seperti kata pepatah, “Buku Jendela Dunia”. Asalkan kita tekun membaca maka ilmu kita akan banyak bertambah-tambah.

Mulai dari hari itu, tekadku untuk mencintai buku mulai bertunas. Mulai dari hari itu juga, aku mengembangkan wejangan Bu Guru waktu kelas III SD yang bilang bahwa, “Bacalah apapun yang bisa dibaca, di manapun jika masih memungkinkan terbaca” menjadi wejangan yang lebih luas. Aku katakan pada diriku sendiri bahwa aku tak akan pernah berhenti membaca.

Begitulah, awal kali salah satu kesukaan terbesarku mulai terbina; membaca. Aku memulai dengan sesuatu yang sederhana. Tapi, aku juga mengerti bahwa suatu hal besar selalu dimulao dari hal yang amat sekali sederhana. Lalu, bagaimana dengan alasan dibalik aku memilih kesukaan ini? Next aku ceritakan, insyaAllah ya! ✌😁

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s