Jejak Jalan Di Atas Lembar Halaman (b) 

Seperti sudah jadi hal yang umum, membaca dijadikan banyak orang sebagai hobinya—sebagai hobi sesungguhnya atau sekadar formalitas karena bingung harus mengisi apa pada kolom hobi lembar Biodata. Aku menobatkan diri berada dalam orang-orang itu. Jika diminta menyebutkan hobi ketika perkenalan diri, aku selalu akan katakan, “Nama saya Yuri, hobi saya membaca”. 

Tidak spesifik, kan yah? Ha ha.

Yep. Aku hanya menjadikan hobi membaca sebagai kedok semata-mata karena tak menemukan apa yang menarik bagiku. Akan tetapi, hal ini berubah seiring akhirnya aku dan jejeran rak buku saling menemukan.

Usiaku saat itu sepantar murid SMP kelas VII. Karena salah satu spot paling nyaman di seluruh ruangan gedung sekolah adalah Perpustakaan, maka sekitar pada semester kedua kelas VII saat itu aku mulai kerangjingan mengunjungi Perpustakaan. 

Saat aku datang terlalu cepat, atau saat jadwal hari itu berakhir lebih pagi dan saat itu kalian ingin menemuiku maka janganlah kebingungan. Temui saja aku di sudut-sudut Perpustakaan. Jika beruntung kalian akan menemukanku dalam keadaan tersadar (tidak ketiduran).

Itulah detik-detik menentukan dalam proses keakrabanku dengan hobi membaca. 

Selain karena faktor itu, mata pelajaran Bahasa Indonesia menjadi penentu lainnya. Berkat penugasan meringkas maka akhirnya aku untuk pertama kalinya membeli novel mini. Beruntungnya, novel mini tersebut ‘kebetulan’ termasuk karya sastra yang bagus dan sangat menarik dengan isi cerita yang kuat. Sejak itulah, akhirnya keberadaanku di Perpustakaan tak lagi hanya sekadar numpang ngadem, tetapi juga mulai memburu macam-macam buku bacaan yang isinya menarik. Dalam dua pekan, aku bisa 3 sampai 4 kali mendaftarkan diri sebagai peminjam buku-buku di Perpustakaan.

Aku beruntung buku yang aku beli saat itu adalah buku yang berkualitas. Bagi pemula, yang minim pengetahuan tentang mana buku bagus dan mana buku biasa, hal ini adalah rezeki. Jodoh. He he. 

Di kemudian hari, aku tahu bahwa memang penulis buku yang kubeli pertama kali itu adalah penulis yang hebat; Gol A Gong dan juga isterinya, Tias Tatanka. Izinkan aku mengucap terima kasih untuk keduanya sebagai bagian dari rasa syukurku kepada Allah Swt. Terima kasih, Penulis! Alhamdulillah!

Setelah saat itu, aku tak lantas gila belanja buku. Hal ini justeru baru muncul belakangan ini saja. Akan tetapi, yang kugarisbawahi adalah kalau buku dan seseorang berjodoh akan tetap bertemu, *loh* ha ha.

Hhmm…

Sebetulnya ada lagi yang mendorongku untuk mencintai sastra. Aku memiliki kakak-kakak yang pandai menuliskan diary dengan indah. Aku yang saat itu masih piyik—masih labil dan suka ikut-ikutan—tergugah perasaannya untuk bisa melakukan hal yang sama. Dari situlah aku mulai iseng menulis-nulis puisi dan menyusun diary (entah sekarang wujudnya sudah musnah atau masih ada di gudang).

Aku pikir, menulis dan membaca akan selalu berkolerasi. Lalu, aku berkesimpulan bahwa jika aku ingin menulis diary dengan indah maka harus banyak membaca karangan buku yang indah-indah juga. Begitulah, kira-kira.
Next?

Aku ingin bercerita kelanjutannya lagi dalam unggahan yang berbeda insyaAllah   😀😀😂. *udah mulai kesal karena keypad telepon genggam ini tidak kooperatif* 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s