Sepasang Pagi dan Petang

Menantikan hari esok jadi pekerjaan paling asyik dilakukan bagi Owen. Akhir-akhir ini ia berhasil berdamai terhadap alergiknya akan kata kerja menunggu. Ada suatu momen yang mendorong Owen mulai terbiasa menyimpan harapan kepada hari-hari yang berganti bersamaan dengan merekahnya rona matahari pada awal pagi.

“Aku tak bisa hanya menyukai senja, lalu membenci pagi, Jana. Sepasang doa dan dzikir saja terikat pada dua waktu, pagi dan petang”, kata Owen kepada Jana yang tengah sibuk menalikan sepatunya. Kelihatannya Jana menyimak dengan baik, meskipun tak begitu tertarik dengan tema pembahasan Owen.

“Mencintai pagi harus dengan kegigihan, sementara mencintai senja harus dengan ketulusan. Mungkin kamu juga harus memahami ini, Owen. Begitulah pandangaku untuk menganggapi pernyataanmu.” Jana sudah bersiap pergi karena siang hari itu masih ada jadwal mata kuliah lain. Owen tak berkeinginan menanggapi apa-apa dan membiarkan Jana berpamit lebih awal mendahuluinya.

Setelah jarak mereka cukup berjauhan, Owen masih tetap berada dalam alam pikirannya. Ia sedang berusaha menyelami kata-kata yang diucapkan Jana tadi. Owen kemudian menyunggingkan senyum—amat—tipis. Menurutnya, Jana terlalu bijak untuk membuat kesalahan dalam menanggapi hal seperti ini. Owen membenarkan pandangan Jana, dan berterima kasih kepadanya dalam hati. 

=====::::=====

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s