Aneh.

Saya merasa aneh ketika ada laki-laki yang mengatakan, “Sabar aja, nanti juga dapet jodohnya”. Heeeiii! Apalagi kesalahan saya di medsos yang bikin kakak laki-laki saya itu berkata demikian? Rasanya saya tidak lagi banyak mengumbar like atau unggahan berbau pernikahan, jodoh, suami, dsb. =_= 

Yhaa okey lah, kalau sesekali sih mungkin.

Aneh rasanya ketika yang meledek saya adalah laki-laki dibandingkan perempuan. Sepertinya, jika laki-laki yang meledek menampakkan kesan pada saya rasa iba dirinya. Padahal, saya enjoy aja not so much worries. Yha…saya juga percaya jodoh akan datang dengan waktu yang sudah dikehendaki 🙂

Oh, yes! Saya baru menyadari bahwa belakangan ini saya suka sekali like unggahan foto keluarga yang sangat terlihat bahagia. Lalu, berhubung saya sedang ‘liburan’ di rumah maka saya sering bermain dengan adik keponakan yang masih balita. Yha, mungkin saja dua hal ini mengesankan saya yang terlihat ‘ngebet’ nikah. Padahal mah enggak, ENGGAK DAH. 

Fakta sebaliknya, sepertinya dalam prinadi saya mulai tumbuh ‘commitment issues’. Jadi, saya merasa menikah itu bukan suatu hal yang saya ingin-inginkan seperti dahulu. Setelah saya berkontemplasi, menjalani kehidupan mandiri sepertinya cocok untuk kepribadian saya. *saking lamanya ngejomblo kali yha jadinya terbayang enakan sendiri

Begitulah. Belum lagi ditambah  experiences sebagai anak terakhir yang mengalami dinamika kehidupan rumah tangga kakak-kakaknya semakin membuat keraguan untuk menikah. Insecure.

Eh tapi, kalau jodohnya ternyata emang dateng pada suatu hari, saya berdoa semoga dia bisa tangguh dan sabar. Ehehe. Hidup saya penuh keraguan……….

Beauty

Globalisasi membuat setiap informasi jadi mudah diakses banyak orang. Informasinya bisa dalam bentuk yang bervariasi, mulai dari gambar, gambar bergerak/video, rekaman suara, film, tulisan, atau juga siaran langsung. Saya termasuk sering mengakses informasi berbentuk gambar, video, dan tulisan. Salah satunya nih yang sedang banyak dilihat dan banyak tersebar adalah beauty tutorial. 

Saya menyadari kalau saya ngga berbakat melukis, apalagi melukis wajah a.k.a bikin make up. Tapi, saya senang melihat (untuk menambah wawasan sebagai perempuan, wkwkwk) video make up tutorial. Aku akui bahwa mereka beauty blogger/vlogger—sebutannya— sangat sangat sangat cantikk! Mereka cantik bahkan sejak sebelum melakukan make up! Kadang terpikirkan, ngapain ya mereka pakai make up kalau polos aja cantiknya udah parah begitu. 

Belum lagi mereka sering mempromosikan lulur, masker, maupun krim. Lalu saya terpikirkan lagi, heeuu, efeknya sebelah mana ya….perasaan nggak ada bedanya sebelum pake sesudahnya, sama-sama cantik dan kinclong banget. Tapi, yaaa bebas aja namanya juga orang cantik. Hahaha. Saya malah lebih fokus mengagumi sebelum mereka pakai make up. Yampun ada yaa orang dilahirin cantik kaya gitu, masyaaAllah hidungnya, bulu matanya, senyumnya, giginya, kulitnya, dll. Sambil menyadari saya yang hahahaha cuma bisa ketawain diri sendiri aja.

Ada hal lain yang akhirnya saya sadari. Di Indonesia ukuran kecantikan tuh putih-langsing-tinggi-rambut lurus-imut dengan dibuktikan dari setiap iklan dan sinetron/film isinya adalah perempuan-perempuan dengan kriteria cantik tsb. Terkadang saya agak terganggu dengan hal itu karena merasa minder. Tapi, saya juga memikirkan hal lain.

Kenapa kita ngga bisa percaya diri aja dengan tubuh kita sendiri? Kenapa harus wajib kudu ahli make up untuk bisa dikategorikan cantik? Kenapa saya lebih bisa memuji orang lain yang tanpa make up dan selalu minder thd tubuh saya yang dengan atau tanpa make up? Apakah yang sedang ada di dalam pikiran kita semua di dunia ini tentang definisi cantik, sebenarnya? Kenapa televisi tidak memulai untuk menampilkan perbedaan itu sebagai kecantikan yang sebenarnya?

Banyak sekali pertanyaan saya tentang hal ini. Saya cukup terpengaruh dengan suatu karya tulis Tere Liye di dalam sebuah bukunya yang saya lupa apa judulnya. Katanya yang saya pahami adalah bahwa uatu saat kalau akhirnya semua perempuan menjadi cantik dalam satu definisi maka yang terjadi semuanya akan nampak biasa-biasa saja. Lalu, Tere Liye mengilustrasikan kembali yang lainnya, kira-kira begini: “lalu, muncul seorang perempuan berkulit gelap, pendek, gemuk berisi, dan berambut keriting di antara perempuan cantik tsb. Akhirnya, laki-laki pun mulai tertarik dengan si perempuan aneh itu. Kemudian, definisi kecantikan berubah kembali. Begitu seterusnya.”

Yep, menjadi tubuh kita seperti seseorang lain tak menjadikan kita cantik. 

Hari Blokir Nasional

Hari ini ada sebuah berita yang sedang hangat diperbincangkan. Terkait dengan isu dan fenomena terorisme yang banyak terjadi di Indonesia saat ini, akhirnya pemerintah semakin serius untuk menangani hal ini. Dikeluarkannya Perppu No. 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Masyarakat saya rasa menjadi titik mula terpicunya reaksi pro dan kontra di antara masyarakat. Katanya, kok kebebasan masyarakat dikekang kaya waktu Orba sih! Apakah pemerintah mulai menunjukkan sistem totaliternya?





Biasanya, Perppu dikeluarkan untuk situasi darurat. Tapi, menurut saya sih…isu ini masih belom terlalu darurat. Hehehe. Peace out, Pak Joko! Maksud saya, apa segitu terancamnya Indonesia sampai betul2 itu Perppu akhirnya tetap dikeluarkan padahal ketika masih menjadi wacana sebelumnya, ide ini lebih banyak yang kontra. 

Selanjutnya nih, ada hal lagi kontroversi yang menyusul diterbitkannya Perppu, yaitu pemblokiran situs-situs media sosial yang terindikasi sebagai sumber penyebarluasan paham radikal dan teroris. Otomatis laaa~ netizen spontan bereaksi macam-macam. Pada umumnya, netizen tidak mendukung langkah pemerintah ini. Yeep! Bukan nggak mungkin pemerintah tidak memprediksi sampai ke sini. Kita tinggal tunggu aja langkah antisipasi dari pemerintah dari akibat yang akan muncul disebabkan kebijakannya yang unik ini.

Lucu sih, ketimbang menggunakan kata-kata makian, di timeline twitter saya justeru ramai cuitan sarkas/satir. Saya yang tadinya mulai gerah, perlahan jadi merasa sejuk kembali setelah tertawa-tawa membaca cuitan-cuitan tersebut. Diantara cuitan yang lucu ini berisi kata-kata yang meniru pernyataan pemerintah. Seolah bumerang. Besok nasi akan diblokir karena teroris ‘kan makan nasi. Teroris juga hidup karena udara, blokir udara! Blokir angkot karena sarangnya copet! Kondektur dihapus aja soalnya hobi nggak kasih kembalian!





Tadaaa~ jadilah Hari Blokir Nasional berkat Perppu yang hari ini trending!


Okelah, saya memang nggak ahli soal hukum…tapi, nggak apa-apa ya jika saya memahami sesuai cara berpikir saya berdasarkan apa yang saya selami. Itu ajasih. Trus kenapa saya sampai posting di blog? Biar blog saya mencatat peristiwa bersejarah ajaa EHEHE!

Reflect 

Sumber: ig @actforhumanity

Allahummagfirlahu warhamhu wa’afihi wafu’anhu. YaaAllah, artinya beliau sudah di Aleppo sejak usia 18 tahun. Usia dimana saya waktu itu sedang sibuk galau tentang sekolah, lalu kini seringkali galau tentang pasangan hidup. Beliau membuat saya malu, sekaligus merasa iri. Beliau seolah menyadarkan tentang bagaimana dulu saya ingin berada di posisi beliau. Namun, kini sepertinya beliau menyadarkan bahwa mungkin selama ini saya memang tak pernah serius tentang azzam saya. </3

At Impression

Yep. Aku termasuk orang yang mudah gak suka kalau lihat penampilan orang yang urakan, serem, sangar, atau beringas. Sebelum kenal lebih jauh, aku bakal ketakutan lebih dulu dan menjauh. Tapi, ada beberapa orang yang emang penampilannya begitu dan hatinya masih pada fitrahnya; lembut. Katanya orang yang begini disebut wajah preman, tapi hati hello kitty.