Beauty

Globalisasi membuat setiap informasi jadi mudah diakses banyak orang. Informasinya bisa dalam bentuk yang bervariasi, mulai dari gambar, gambar bergerak/video, rekaman suara, film, tulisan, atau juga siaran langsung. Saya termasuk sering mengakses informasi berbentuk gambar, video, dan tulisan. Salah satunya nih yang sedang banyak dilihat dan banyak tersebar adalah beauty tutorial. 

Saya menyadari kalau saya ngga berbakat melukis, apalagi melukis wajah a.k.a bikin make up. Tapi, saya senang melihat (untuk menambah wawasan sebagai perempuan, wkwkwk) video make up tutorial. Aku akui bahwa mereka beauty blogger/vlogger—sebutannya— sangat sangat sangat cantikk! Mereka cantik bahkan sejak sebelum melakukan make up! Kadang terpikirkan, ngapain ya mereka pakai make up kalau polos aja cantiknya udah parah begitu. 

Belum lagi mereka sering mempromosikan lulur, masker, maupun krim. Lalu saya terpikirkan lagi, heeuu, efeknya sebelah mana ya….perasaan nggak ada bedanya sebelum pake sesudahnya, sama-sama cantik dan kinclong banget. Tapi, yaaa bebas aja namanya juga orang cantik. Hahaha. Saya malah lebih fokus mengagumi sebelum mereka pakai make up. Yampun ada yaa orang dilahirin cantik kaya gitu, masyaaAllah hidungnya, bulu matanya, senyumnya, giginya, kulitnya, dll. Sambil menyadari saya yang hahahaha cuma bisa ketawain diri sendiri aja.

Ada hal lain yang akhirnya saya sadari. Di Indonesia ukuran kecantikan tuh putih-langsing-tinggi-rambut lurus-imut dengan dibuktikan dari setiap iklan dan sinetron/film isinya adalah perempuan-perempuan dengan kriteria cantik tsb. Terkadang saya agak terganggu dengan hal itu karena merasa minder. Tapi, saya juga memikirkan hal lain.

Kenapa kita ngga bisa percaya diri aja dengan tubuh kita sendiri? Kenapa harus wajib kudu ahli make up untuk bisa dikategorikan cantik? Kenapa saya lebih bisa memuji orang lain yang tanpa make up dan selalu minder thd tubuh saya yang dengan atau tanpa make up? Apakah yang sedang ada di dalam pikiran kita semua di dunia ini tentang definisi cantik, sebenarnya? Kenapa televisi tidak memulai untuk menampilkan perbedaan itu sebagai kecantikan yang sebenarnya?

Banyak sekali pertanyaan saya tentang hal ini. Saya cukup terpengaruh dengan suatu karya tulis Tere Liye di dalam sebuah bukunya yang saya lupa apa judulnya. Katanya yang saya pahami adalah bahwa uatu saat kalau akhirnya semua perempuan menjadi cantik dalam satu definisi maka yang terjadi semuanya akan nampak biasa-biasa saja. Lalu, Tere Liye mengilustrasikan kembali yang lainnya, kira-kira begini: “lalu, muncul seorang perempuan berkulit gelap, pendek, gemuk berisi, dan berambut keriting di antara perempuan cantik tsb. Akhirnya, laki-laki pun mulai tertarik dengan si perempuan aneh itu. Kemudian, definisi kecantikan berubah kembali. Begitu seterusnya.”

Yep, menjadi tubuh kita seperti seseorang lain tak menjadikan kita cantik. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s