Hujan dan Aku.

Aku ingin menikmati hujan ini tidak dengan bersama siapa-siapa, kecuali bersama dengan kenangan tentangmu.

Aku suka saat bulir deras hujan mengaliri wajahku, menyegarkan otot yang kaku karena lelah bersandiwara.

Aku kadang takut tatkala hujan sedang berseteru dengan gemuruh, sehingga melahirkan badai yang ribut.

Namun, ada yang paling kutunggu kala hujan, yaitu bagaimana aku bisa mengubah setiap tetes airnya menjadi tulisan, seperti saat ini.

Aku tetap menyukai hujan, walaupun esok hari harus kerepotan karena demam atau menahan kerinduan.

Kau tahu kenapa hujan begitu istimewa?

Bagiku hujan adalah wajah langit yang paling ekspresif dan mewakili perasaan kita semua.

Advertisements

Purnama.

Beberapa hari yg lalu aku baru saja melewati purnama ke-12 sejak pertama aku merawatmu di dalam doa, sujud, sesak, tawa, rindu, dan bahagia.

Begitu penuh rasanya hati ini terisi rasa semacam rindu yg membuat purnama malam itu terlihat cemerlang khas seperti senyumanmu. Aku melihatmu. Tidak apa, pasti kau ragu.

3 Apr 2018

Marriage things.

Kenapa seringkali orang-orang bercita-cita mendapatkan kekasih dari suku tertentu dan tidak ingin dengan suku lainnya? Mungkin karena stereotipe, ya. Suku A begini, tidak baik karena nanti setelah menikah akan jadi begitu. Suku B begitu, lebih baik karena nanti setelah menikah akan jadi begini. 

Saya lantas percaya karena memang kebanyakan orang-orang berkata demikian, sehingga saya juga termasuk orang yang berpikir seperti di atas tadi. Tapi kan sebetulnya soal kesukuan bukan pertimbangan utama. Di dalam Islam, petunjuk memilih pasangan pernikahan dilihat dari kecantikan (rupa), kekayaan (harta), keturunan/ silsilah keluarga (nasab), dan ketaatan thd agama (iman). Di antara empat hal tersebut, memilih karena agama menjadi poin penting yg diutamakan. 

“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” HR. Bukhari & Muslim

Kesukuan bisa jadi poin pertimbangan ketika memilih pasangan pernikahan, yaitu berkaitan dengan nasabnya. Namun, ada penegasan khusus bagi seorang muslim/ah, yaitu agamanya. Apabila calon pasangan memang menjalankan keislamannya dengan baik, hal-hal buruk yg menjadi stereotipe thd sukunya tidak akan muncul sebagai kepribadiannya. Bisa saja dia berwatak keras sebagaimana kultur suku-suku di wilayah Indonesia Timur, tetapi jika dia muslim/ah yg taat maka watak kerasnya ditunjukkan sesuai peraturan & adab di dalam Islam. Sekeras apapun wataknya, di dalam Islam dilarang berbuat kasar apalagi dzalim.

Saya perlu bercermin lebih jelas lagi. Sebenarnya apakah yg dicari di dalam sebuah pernikahan? Hal penting apa yg perlu dipertimbangkan ketika hendak memilih pasangan pernikahan? 

Hheuf. Dulu ibunda Maryam kira-kira sempat galau-in cowok tertentu nggak, ya, sebelum mengandung Nabi Isa as.? Semoga Allah Swt. merahmati beliau, aamiin yra. 

.

Yaa Rasulullah..kian hari dadaku kian sesak hingga terasa hampir habis nafas dan seakan ingin pecah. Aku semakin menyadari bahwa aku terlalu jauh dari cita2ku untuk berjumpa denganmu. Aku kehilangan orientasi pokok dalam hidupku. Ini susah sekali ternyata. Apakah aku sudah sangat terlambat untuk menyadari ini semua, ya Allah?

Honesty.

Apa susahnya berpura-pura kuat? Kita selalu seperti itu sejauh ini. Yang sulit hanyalah berterus-terang kepadamu, bahwa aku sudah sejengkal perjalanan lagi untuk menyerah. Tapi kemudian, aku memilih bungkam dan terus memupuk peduli.

Bagaimana jika kita buat adil saja..? Begini, kita padamkan pelita itu dan hentikan semua skenario secara bersamaan.

Ya, aku tahu…tidak ada yang bisa melenyapkan harapan. Apakah dengan begitu skenario ini akan tetap berjalan?

Skies.

Hi someone out there! Please look at the sky right now. There’s a moon shining brightly, just like your smile. I love it.

Bulannya berbeda ternyata ketika dilihat dari Jakarta. Sewaktu di Bandung, bulannya terlihat kecil pada saat ‘supermoon’ seperti saat ini, meskipun aku mengamati dari ketinggian lantai tiga.

Selain itu, masih ada hal yang berbeda. Sampai sekarang ada banyak hal yang hilang. Apakah karena tertinggal di Bandung? Apakah karena aku tidak menyelesaikannya? Ataukah, karena memang Jakarta selalu hambar ketika dipeluk lama?

Tidak. Aku rasa satu-satunya penyebab adalah karena aku kehilangan konektivitas berhargaku. Di sini, aku benar-benar tidak merasakan kesyahduan walaupun sedang sendirian.  Apakah yang sedang terjadi padaku saat ini?

Oh iya. Ini sih out of the topic. Tapi, aku ingin ceritakan (maaf, kalau sekiranya tidak dapat dipahami). Jadi, sebelum peristiwa beberapa waktu lalu yang menurutku sangat memalukan itu terjadi, aku merasakan sensasi berbeda. Aku menyesali kecorobohanku. Aku kehilangan sensasi itu sekarang. Tapi, yaudah sih ya…. Hikmahnya adalah semua jadi lebih jelas sekarang dan nantinya. Yah meskipun aku tidak bisa membayangkan bagaimana efek kedepannya :/

Hi someone there! Kalau kamu lihat bulan saat ini, sesungguhnya wajah kita sedang bertatap. Barangkalo kau di sana juga asyik menikmati cahayanya. Aku selalu berdoa agar suatu saat nanti aku bisa berkesempatan ditemani olehmu menikmati rembulan sampai pagi..sampai kerlip-kerlip gemintang samar dilapisi cahaya keemasan matahari.