Marriage things.

Kenapa seringkali orang-orang bercita-cita mendapatkan kekasih dari suku tertentu dan tidak ingin dengan suku lainnya? Mungkin karena stereotipe, ya. Suku A begini, tidak baik karena nanti setelah menikah akan jadi begitu. Suku B begitu, lebih baik karena nanti setelah menikah akan jadi begini. 

Saya lantas percaya karena memang kebanyakan orang-orang berkata demikian, sehingga saya juga termasuk orang yang berpikir seperti di atas tadi. Tapi kan sebetulnya soal kesukuan bukan pertimbangan utama. Di dalam Islam, petunjuk memilih pasangan pernikahan dilihat dari kecantikan (rupa), kekayaan (harta), keturunan/ silsilah keluarga (nasab), dan ketaatan thd agama (iman). Di antara empat hal tersebut, memilih karena agama menjadi poin penting yg diutamakan. 

“Wanita biasanya dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya (keislamannya). Kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” HR. Bukhari & Muslim

Kesukuan bisa jadi poin pertimbangan ketika memilih pasangan pernikahan, yaitu berkaitan dengan nasabnya. Namun, ada penegasan khusus bagi seorang muslim/ah, yaitu agamanya. Apabila calon pasangan memang menjalankan keislamannya dengan baik, hal-hal buruk yg menjadi stereotipe thd sukunya tidak akan muncul sebagai kepribadiannya. Bisa saja dia berwatak keras sebagaimana kultur suku-suku di wilayah Indonesia Timur, tetapi jika dia muslim/ah yg taat maka watak kerasnya ditunjukkan sesuai peraturan & adab di dalam Islam. Sekeras apapun wataknya, di dalam Islam dilarang berbuat kasar apalagi dzalim.

Saya perlu bercermin lebih jelas lagi. Sebenarnya apakah yg dicari di dalam sebuah pernikahan? Hal penting apa yg perlu dipertimbangkan ketika hendak memilih pasangan pernikahan? 

Hheuf. Dulu ibunda Maryam kira-kira sempat galau-in cowok tertentu nggak, ya, sebelum mengandung Nabi Isa as.? Semoga Allah Swt. merahmati beliau, aamiin yra. 

Advertisements

.

Yaa Rasulullah..kian hari dadaku kian sesak hingga terasa hampir habis nafas dan seakan ingin pecah. Aku semakin menyadari bahwa aku terlalu jauh dari cita2ku untuk berjumpa denganmu. Aku kehilangan orientasi pokok dalam hidupku. Ini susah sekali ternyata. Apakah aku sudah sangat terlambat untuk menyadari ini semua, ya Allah?

Honesty.

Apa susahnya berpura-pura kuat? Kita selalu seperti itu sejauh ini. Yang sulit hanyalah berterus-terang kepadamu, bahwa aku sudah sejengkal perjalanan lagi untuk menyerah. Tapi kemudian, aku memilih bungkam dan terus memupuk peduli.

Bagaimana jika kita buat adil saja..? Begini, kita padamkan pelita itu dan hentikan semua skenario secara bersamaan.

Ya, aku tahu…tidak ada yang bisa melenyapkan harapan. Apakah dengan begitu skenario ini akan tetap berjalan?

Skies.

Hi someone out there! Please look at the sky right now. There’s a moon shining brightly, just like your smile. I love it.

Bulannya berbeda ternyata ketika dilihat dari Jakarta. Sewaktu di Bandung, bulannya terlihat kecil pada saat ‘supermoon’ seperti saat ini, meskipun aku mengamati dari ketinggian lantai tiga.

Selain itu, masih ada hal yang berbeda. Sampai sekarang ada banyak hal yang hilang. Apakah karena tertinggal di Bandung? Apakah karena aku tidak menyelesaikannya? Ataukah, karena memang Jakarta selalu hambar ketika dipeluk lama?

Tidak. Aku rasa satu-satunya penyebab adalah karena aku kehilangan konektivitas berhargaku. Di sini, aku benar-benar tidak merasakan kesyahduan walaupun sedang sendirian.  Apakah yang sedang terjadi padaku saat ini?

Oh iya. Ini sih out of the topic. Tapi, aku ingin ceritakan (maaf, kalau sekiranya tidak dapat dipahami). Jadi, sebelum peristiwa beberapa waktu lalu yang menurutku sangat memalukan itu terjadi, aku merasakan sensasi berbeda. Aku menyesali kecorobohanku. Aku kehilangan sensasi itu sekarang. Tapi, yaudah sih ya…. Hikmahnya adalah semua jadi lebih jelas sekarang dan nantinya. Yah meskipun aku tidak bisa membayangkan bagaimana efek kedepannya :/

Hi someone there! Kalau kamu lihat bulan saat ini, sesungguhnya wajah kita sedang bertatap. Barangkalo kau di sana juga asyik menikmati cahayanya. Aku selalu berdoa agar suatu saat nanti aku bisa berkesempatan ditemani olehmu menikmati rembulan sampai pagi..sampai kerlip-kerlip gemintang samar dilapisi cahaya keemasan matahari.

Menjangkaumu lewat huruf-huruf yang usang.

Aku tidak akan bertanya bagaimana kabarmu saat ini. Aku selalu percaya bahwa engkau akan selalu baik-baik saja, bahkan dalam keadaan yang sulit sekalipun. Itulah keahlian istimewamu, dan mungkin engkau tidak sadar.

“Siapakah ‘engkau’?”, tanya mereka.

“Inilah engkau”, jawabku.

Aku memuji diriku sendiri karena terlalu pandai melakukan kesalahan dengan berkali-kali. Aku selalu menuliskan tentang engkau yang mereka tidak perlu tahu–dan tidak perlu mengira-ngira siapa, yaitu sejak ada rindu kepadamu yang mengisi hati. Rindu itu bagai tinta yang menetes terus-menerus mengisi sebuah pena sehingga harus dialirkan untuk dituliskan lewat cerita, jika tidak akan tumpah berantakan.

Hari ini kerinduan itu tidak jua berubah bentuk. Akan tetapi, aku mulai ragu untuk menuliskannya. Iya, benar…rindu itu kini tumpah berantakan. Apa yang hari ini aku lakukan adalah membaca setiap cerita yang pernah aku tuliskan sewaktu dulu.

“Mengapa tertawa?”, tanya mereka lagi.

“Aku malu. Sampai saat ini semuanya sia-sia belaka”, jawabku.

Hhm…baiklah, aku akan berusaha menepati janjiku. Aku akan mengumpulkan semua yang sia-sia ini. Hei, apakah engkau ada ide bagaimana menyusun ulang alurnya?

Ada yang pernah ada.

Ada yang pernah ada, namun kini hilang. Kita dengar kesulitan seseorang yang amat pelik. Lalu, hanya sebuah komentar yang terlontar: “Apakah presiden kita tahu hal ini? Tidak ada yang peduli dengannya.”  

Ya. Barangkali aku masih belum merasakan hidup yang sebenarnya, yaitu penuh onak dan duri. Tapi, aku ingin sekali berkhayal…andaikata kita semua kembali kepada prinsip gotong royong, apakah komentar ini akan tetap terlontar?