Menjangkaumu lewat huruf-huruf yang usang.

Aku tidak akan bertanya bagaimana kabarmu saat ini. Aku selalu percaya bahwa engkau akan selalu baik-baik saja, bahkan dalam keadaan yang sulit sekalipun. Itulah keahlian istimewamu, dan mungkin engkau tidak sadar.

“Siapakah ‘engkau’?”, tanya mereka.

“Inilah engkau”, jawabku.

Aku memuji diriku sendiri karena terlalu pandai melakukan kesalahan dengan berkali-kali. Aku selalu menuliskan tentang engkau yang mereka tidak perlu tahu–dan tidak perlu mengira-ngira siapa, yaitu sejak ada rindu kepadamu yang mengisi hati. Rindu itu bagai tinta yang menetes terus-menerus mengisi sebuah pena sehingga harus dialirkan untuk dituliskan lewat cerita, jika tidak akan tumpah berantakan.

Hari ini kerinduan itu tidak jua berubah bentuk. Akan tetapi, aku mulai ragu untuk menuliskannya. Iya, benar…rindu itu kini tumpah berantakan. Apa yang hari ini aku lakukan adalah membaca setiap cerita yang pernah aku tuliskan sewaktu dulu.

“Mengapa tertawa?”, tanya mereka lagi.

“Aku malu. Sampai saat ini semuanya sia-sia belaka”, jawabku.

Hhm…baiklah, aku akan berusaha menepati janjiku. Aku akan mengumpulkan semua yang sia-sia ini. Hei, apakah engkau ada ide bagaimana menyusun ulang alurnya?

Advertisements

You Go Ahead (:

Kita sebetulnya kompak. Minimal, kita pernah begitu. Lalu, ada angin lewat & kita terpisah masing2. Aku salah tak mencoba menyelamatkan dgn serius. Kemudian, kita benar2 hilang.Waktu bergulir hingga kamu menghubungiku lagi. Ini lucu, haha.

Bukankah terakhir kali dirimu tidak menanggapi beberapa pesan yg sengaja kukirim? Aku senang, terlebih lagi merasa bingung. Ada hal penting apakah gerangan? Tapi, aku tidak merisaukan kebingunganku. Aku berharap kita bisa kompak seperti dulu. Beberapa kali kita berbincang, bertukar pendapat, dan bernostalgia.

Sebenarnya aku tidak terlalu mempedulikan apakah ada alasan khusus yang membuat dirimu menghubungiku pertama kali dengan sedemikian ramah dan luwes (seperti layaknya baru satu hari tidak berkabar). Spekulasiku masih belum terbukti hingga saat ini. Tapi, aku yakin itulah alasan terbesarmu. 

Bagaimana aku yakin, katamu?

Tentu saja itu karena aku merunut2 apa yang sekiranya bersambung dan berpotongan di antara alur kisah kita masing2. Entah mengapa aku yakin dengan pengamatanku ini. Angkanya mencapau sebesar 75%. Meskipun demikian, aku tidak masalah jika spekulasiku kenyataannya tidak te– eh, kurang tepat.

Satu hal yang ingin aku kabarkan kepadamu bahwa aku tidak akan berupaya mengambil kebahagiaan orang lain, walaupun aku sendiri ingin memilikinya. Aku ingin kmu melihatku sama seperti pertama kali kita berkenalan; kmu terlihat mempercayaiku krn kita punya beberapa kesukaan yg serupa. Hal ini berharga bagiku. Kamu tahu, aku lebih mmpercayaimu untuk memiliki kebahagiaan itu dibandingkan jika aku yg memilikinya. Di dalam bayangan pikiranku saja hal itu mustahil pantas aku miliki. Standar kelayakanku tidak sebanding dgn levelmu yg lbh tinggi. Terlebih lagi, kalian berdua sudah cocok!

Jadi, tolong jangan hiraukan saja aku. Aku akan lebih tenang jika berjalan demikian. Aku mendukungmu sebagai mantan partner perjuangan yg dulu penuh gejolak 😁😁😁.

Ada yang pernah ada.

Ada yang pernah ada, namun kini hilang. Kita dengar kesulitan seseorang yang amat pelik. Lalu, hanya sebuah komentar yang terlontar: “Apakah presiden kita tahu hal ini? Tidak ada yang peduli dengannya.”  

Ya. Barangkali aku masih belum merasakan hidup yang sebenarnya, yaitu penuh onak dan duri. Tapi, aku ingin sekali berkhayal…andaikata kita semua kembali kepada prinsip gotong royong, apakah komentar ini akan tetap terlontar?

Welcome back!

Selamat datang kembali, wahai penulis yang tak kunjung mahir menulis! Mari kita ramaikan lagi jagat maya di wordpress ini. Oiya, Alhamdulillah….saya sekarang sudah kembali lagi ke Cibubur, Jakarta. Empat tahun terasa begitu cepat dilalui saat semua berhasil diakhiri dengan rasa syukur dan suka-cita pada tanggal 3 Oktober yang lalu.

Baiklah, mulai dari sini kita kembali bercerita soal apa saja tentang kepulanganku. Semoga saya bisa lebih konsisten menuliskannya di sini. Maaf kalau ada beberapa bagian tulisan bersambung yang belum berlanjut, ehehehehe. 😜

Beauty

Globalisasi membuat setiap informasi jadi mudah diakses banyak orang. Informasinya bisa dalam bentuk yang bervariasi, mulai dari gambar, gambar bergerak/video, rekaman suara, film, tulisan, atau juga siaran langsung. Saya termasuk sering mengakses informasi berbentuk gambar, video, dan tulisan. Salah satunya nih yang sedang banyak dilihat dan banyak tersebar adalah beauty tutorial. 

Saya menyadari kalau saya ngga berbakat melukis, apalagi melukis wajah a.k.a bikin make up. Tapi, saya senang melihat (untuk menambah wawasan sebagai perempuan, wkwkwk) video make up tutorial. Aku akui bahwa mereka beauty blogger/vlogger—sebutannya— sangat sangat sangat cantikk! Mereka cantik bahkan sejak sebelum melakukan make up! Kadang terpikirkan, ngapain ya mereka pakai make up kalau polos aja cantiknya udah parah begitu. 

Belum lagi mereka sering mempromosikan lulur, masker, maupun krim. Lalu saya terpikirkan lagi, heeuu, efeknya sebelah mana ya….perasaan nggak ada bedanya sebelum pake sesudahnya, sama-sama cantik dan kinclong banget. Tapi, yaaa bebas aja namanya juga orang cantik. Hahaha. Saya malah lebih fokus mengagumi sebelum mereka pakai make up. Yampun ada yaa orang dilahirin cantik kaya gitu, masyaaAllah hidungnya, bulu matanya, senyumnya, giginya, kulitnya, dll. Sambil menyadari saya yang hahahaha cuma bisa ketawain diri sendiri aja.

Ada hal lain yang akhirnya saya sadari. Di Indonesia ukuran kecantikan tuh putih-langsing-tinggi-rambut lurus-imut dengan dibuktikan dari setiap iklan dan sinetron/film isinya adalah perempuan-perempuan dengan kriteria cantik tsb. Terkadang saya agak terganggu dengan hal itu karena merasa minder. Tapi, saya juga memikirkan hal lain.

Kenapa kita ngga bisa percaya diri aja dengan tubuh kita sendiri? Kenapa harus wajib kudu ahli make up untuk bisa dikategorikan cantik? Kenapa saya lebih bisa memuji orang lain yang tanpa make up dan selalu minder thd tubuh saya yang dengan atau tanpa make up? Apakah yang sedang ada di dalam pikiran kita semua di dunia ini tentang definisi cantik, sebenarnya? Kenapa televisi tidak memulai untuk menampilkan perbedaan itu sebagai kecantikan yang sebenarnya?

Banyak sekali pertanyaan saya tentang hal ini. Saya cukup terpengaruh dengan suatu karya tulis Tere Liye di dalam sebuah bukunya yang saya lupa apa judulnya. Katanya yang saya pahami adalah bahwa uatu saat kalau akhirnya semua perempuan menjadi cantik dalam satu definisi maka yang terjadi semuanya akan nampak biasa-biasa saja. Lalu, Tere Liye mengilustrasikan kembali yang lainnya, kira-kira begini: “lalu, muncul seorang perempuan berkulit gelap, pendek, gemuk berisi, dan berambut keriting di antara perempuan cantik tsb. Akhirnya, laki-laki pun mulai tertarik dengan si perempuan aneh itu. Kemudian, definisi kecantikan berubah kembali. Begitu seterusnya.”

Yep, menjadi tubuh kita seperti seseorang lain tak menjadikan kita cantik. 

Hari Blokir Nasional

Hari ini ada sebuah berita yang sedang hangat diperbincangkan. Terkait dengan isu dan fenomena terorisme yang banyak terjadi di Indonesia saat ini, akhirnya pemerintah semakin serius untuk menangani hal ini. Dikeluarkannya Perppu No. 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Masyarakat saya rasa menjadi titik mula terpicunya reaksi pro dan kontra di antara masyarakat. Katanya, kok kebebasan masyarakat dikekang kaya waktu Orba sih! Apakah pemerintah mulai menunjukkan sistem totaliternya?





Biasanya, Perppu dikeluarkan untuk situasi darurat. Tapi, menurut saya sih…isu ini masih belom terlalu darurat. Hehehe. Peace out, Pak Joko! Maksud saya, apa segitu terancamnya Indonesia sampai betul2 itu Perppu akhirnya tetap dikeluarkan padahal ketika masih menjadi wacana sebelumnya, ide ini lebih banyak yang kontra. 

Selanjutnya nih, ada hal lagi kontroversi yang menyusul diterbitkannya Perppu, yaitu pemblokiran situs-situs media sosial yang terindikasi sebagai sumber penyebarluasan paham radikal dan teroris. Otomatis laaa~ netizen spontan bereaksi macam-macam. Pada umumnya, netizen tidak mendukung langkah pemerintah ini. Yeep! Bukan nggak mungkin pemerintah tidak memprediksi sampai ke sini. Kita tinggal tunggu aja langkah antisipasi dari pemerintah dari akibat yang akan muncul disebabkan kebijakannya yang unik ini.

Lucu sih, ketimbang menggunakan kata-kata makian, di timeline twitter saya justeru ramai cuitan sarkas/satir. Saya yang tadinya mulai gerah, perlahan jadi merasa sejuk kembali setelah tertawa-tawa membaca cuitan-cuitan tersebut. Diantara cuitan yang lucu ini berisi kata-kata yang meniru pernyataan pemerintah. Seolah bumerang. Besok nasi akan diblokir karena teroris ‘kan makan nasi. Teroris juga hidup karena udara, blokir udara! Blokir angkot karena sarangnya copet! Kondektur dihapus aja soalnya hobi nggak kasih kembalian!





Tadaaa~ jadilah Hari Blokir Nasional berkat Perppu yang hari ini trending!


Okelah, saya memang nggak ahli soal hukum…tapi, nggak apa-apa ya jika saya memahami sesuai cara berpikir saya berdasarkan apa yang saya selami. Itu ajasih. Trus kenapa saya sampai posting di blog? Biar blog saya mencatat peristiwa bersejarah ajaa EHEHE!