Menjadi Makna

Sumer: Pinterest (diedit)

Bagaimana bersepakat denganmu soal cinta? Kita tetap butuh kata-kata untuk diungkap—paling tidak—agar bisa diingat. Bagiku, mencintaimu sama seperti menjagamu dalam hati; tempat di mana ia bisa berubah, tapi selalu kembali karena doa. Banyak yang terjadi di antara kita, dan semuanya kuharap menjadi kelayakan istimewa bagiku.

Mungkin aku bukan sosok yang cocok (apalagi tepat). Mungkin bukan juga sosok yang sepadan (apalagi pantas).

Mungkin…

Ketika mendapatimu masih di sisi dengan semua kemungkinan itu, tak ada yang bisa kuungkap, kecuali syukur. Syukur atas segala maklum yang terhadiahkan. Syukur atas setiap pesan yang membaikkan. Syukur atas usaha-usaha gigih nan manis yg dilakukan kepadaku untuk mem-back up kelemahan. Apalagi yang bisa kusampaikan dan ingin kaudengar? 

===○○===

Biarkanlah karena doa yang akan menjawab sisanya untuk kita. 🌹🌹🌹

Ways of love

Jangan musuhi aku karena berpayung menghindari rintik hujan, disaat dirimu tahu aku menyukai hujan.

Hey, menyukai sesuatu itu tidak perlu berlebihan. Kita ‘kan juga harus tahu batas normal dan tidak normal dalam bersikap. Masa iya sih, mau mendzalimi orang yang gampang kena flu dengan menyuruhnya menikmati hujan dengan caramu—main hujan-hujanan?

Kita bisa menyukai—kebaikan—apapun. Seberapa besarnya kita yang mengendalikan. Dia kaya kendaraan yang punya banyak rambu-rambu. Peringatan #1: jangan dzalim! Well, kita diperintahkan untuk jadi umat pertengahan. Selamat mengemudi dan menikmati perasaan suka~

Astrophile-Selenophile-Nyctophile 

Kau tahu apa yang kusedihkan dari rusaknya kamera sebagai salah satu fitur telepon genggamku? Aku tak bisa mengabadikan momen-momen manis yang istimewa. Malam ini tepat pada malam ke-12 Ramadhan langit tampak sangat indah. 

Saat ini aku tengah mengetik sambil memperhatikan angkasa yang tidak berawan, tidak berangin, sejuk, dan cerah. Aku memutar pandanganku ke segala arah, kudapati banyak sekali kerlip-kerlip bintang yang terlihat mungil dari lantai tiga kosanku ini. 

Bintang-gemintang itu seperti manik-manik ketika terpapar cahaya. Mengerlip-ngerlip imut. Rembulan lebih dari separuh potong itu (hampir penuh) bersinar-sinar terang, putih cerah. Merona bahagia. Gelap malam saat ini sangat indah. Kau harus tahu ini!

Haaa yaampuuunnnn aku senang sekaliii lihat pemandangan semacam ini~~ masyaaAllah <3<3<3

Aku suka banget. Banget. Banget. Bangett!

Saat ini rembulan itu tepat berada di atas kepalaku. Kamu melihatnya? Cantik ya! :)) Kau juga suka kan? Iya…aku juga ingin segera bertemu denganmu. Nanti, kau harus janji tak akan protes menemaniku berlama-lama memandangi langit malam yang indah semacam ini. Ok.

Paradoxically

You will find some paradoxical things in me, always. I will say thank you for every tears i made because of you, even though this heart breaks into very little pieces. I will say okay for every your arguments i disagreed, even though this emotion seethe into very maximum level it may possible. You may to know that i hate to hurt people’s feelings. So did i do to you. I’m trying to be honest, but it’s so hard to do. Because your smile always be my main priority before all the feelings behind it. If it’s hard for you to accept these paradoxes, so at least please pardon my English. You know, i’m just trying to explain these things through different way that because i think it may-seems-not-so-directly-addressing to anyone.

Sepasang Pagi dan Petang

Menantikan hari esok jadi pekerjaan paling asyik dilakukan bagi Owen. Akhir-akhir ini ia berhasil berdamai terhadap alergiknya akan kata kerja menunggu. Ada suatu momen yang mendorong Owen mulai terbiasa menyimpan harapan kepada hari-hari yang berganti bersamaan dengan merekahnya rona matahari pada awal pagi.

“Aku tak bisa hanya menyukai senja, lalu membenci pagi, Jana. Sepasang doa dan dzikir saja terikat pada dua waktu, pagi dan petang”, kata Owen kepada Jana yang tengah sibuk menalikan sepatunya. Kelihatannya Jana menyimak dengan baik, meskipun tak begitu tertarik dengan tema pembahasan Owen.

“Mencintai pagi harus dengan kegigihan, sementara mencintai senja harus dengan ketulusan. Mungkin kamu juga harus memahami ini, Owen. Begitulah pandangaku untuk menganggapi pernyataanmu.” Jana sudah bersiap pergi karena siang hari itu masih ada jadwal mata kuliah lain. Owen tak berkeinginan menanggapi apa-apa dan membiarkan Jana berpamit lebih awal mendahuluinya.

Setelah jarak mereka cukup berjauhan, Owen masih tetap berada dalam alam pikirannya. Ia sedang berusaha menyelami kata-kata yang diucapkan Jana tadi. Owen kemudian menyunggingkan senyum—amat—tipis. Menurutnya, Jana terlalu bijak untuk membuat kesalahan dalam menanggapi hal seperti ini. Owen membenarkan pandangan Jana, dan berterima kasih kepadanya dalam hati. 

=====::::=====

Early morning activity.

Aktivitas pada sepagi hari ini (25/05) sungguh rempong. Bahkan, kerempongan ini sudah dimulai sejak semalam tadi. Apakah penyebabnya? Arisan.

YaaAllah, aku akan mencoba belajar memasak. Tolong bantu aku. Aku akhirnya menyadari bahwa se-enggak kompeten apapun perempuan untuk menjadi isteri, minimal yang harus dipunyai adalah semangat belajar dan dukungan suami. 

“Panggil tetangga aja, Ma buat masakin. Daripada nanti rasanya nggak karuan”, kata seorang suami kepada isteri. Sang isteri hanya menjawab dengan diam.

Aku bisa merasakan hati sang isteri merasa sedikit tersinggung. “Ah, memang gak bakat masak”, sang isteri bergumam di hadapanku setelah menyicipi hidangan eksperimennya sendiri. Aku hanya menatap jerih, waduh gimana dong aku juga gak bisa masak


Ayolah, para suami…

Dukunglah para isteri meningkatkan kemampuan memasaknya. Sama seperti kesenian, memasak juga butuh bakat dan potensi yang perlu ditumbuhkan.

“Yang ini kok belum jadi dimasak?”, tanyaku sambil menunjuk kuali besar berisi ayam kampung yang sudah diungkep sang isteri.

“Nanti aja nunggu Mama Nita yang masak. Nanti dimarahin lagi sama bapakmu kalau ga enak”.

Aku tersenyum simpul sambil terkekeh kecil kepada sang isteri yang tak lain adalah mamakku. Ya ampun jadi isteri begini banget dramanya yah…

😂😂😂😂😂

Kangen

​Habis baca Happy Little Soul karya iboknya baby cat kirana, trus kangen sm rembol. Kebayang gmn bahagianya ibok. Hhaa~ bulek kangen rembol.

Masih seneng buka2in video pertama kali jalan, nyanyi2 gaje, bilang nyuwun maaci camacama, kata2 yg kebalik2, nangis gara2 idungnya pura2 dibuang, nangis gara2 film nemo, iseng nyuci piring sendiri, ngerusuh pas Uti masak, bilang “meong mana?”, ngejar2in ayam, ngelawak, nangis gara2 ga terima aku anaknya uti, rebutan ‘nabung’ di kotak amal, main rebutan karakter upin&ipin, daaan lain2. Eh anaknya sekarang udah jd galak 😦 

Rahma pas mulain centil-gatau umur berapa

Mboool….bulek sayang rahma ♡ 

Maafin bulek nggak nemenin terus setelah bulek di Bandung.