Hujan dan Aku.

Aku ingin menikmati hujan ini tidak dengan bersama siapa-siapa, kecuali bersama dengan kenangan tentangmu.

Aku suka saat bulir deras hujan mengaliri wajahku, menyegarkan otot yang kaku karena lelah bersandiwara.

Aku kadang takut tatkala hujan sedang berseteru dengan gemuruh, sehingga melahirkan badai yang ribut.

Namun, ada yang paling kutunggu kala hujan, yaitu bagaimana aku bisa mengubah setiap tetes airnya menjadi tulisan, seperti saat ini.

Aku tetap menyukai hujan, walaupun esok hari harus kerepotan karena demam atau menahan kerinduan.

Kau tahu kenapa hujan begitu istimewa?

Bagiku hujan adalah wajah langit yang paling ekspresif dan mewakili perasaan kita semua.

Advertisements

Honesty.

Apa susahnya berpura-pura kuat? Kita selalu seperti itu sejauh ini. Yang sulit hanyalah berterus-terang kepadamu, bahwa aku sudah sejengkal perjalanan lagi untuk menyerah. Tapi kemudian, aku memilih bungkam dan terus memupuk peduli.

Bagaimana jika kita buat adil saja..? Begini, kita padamkan pelita itu dan hentikan semua skenario secara bersamaan.

Ya, aku tahu…tidak ada yang bisa melenyapkan harapan. Apakah dengan begitu skenario ini akan tetap berjalan?

Aneh.

Saya merasa aneh ketika ada laki-laki yang mengatakan, “Sabar aja, nanti juga dapet jodohnya”. Heeeiii! Apalagi kesalahan saya di medsos yang bikin kakak laki-laki saya itu berkata demikian? Rasanya saya tidak lagi banyak mengumbar like atau unggahan berbau pernikahan, jodoh, suami, dsb. =_= 

Yhaa okey lah, kalau sesekali sih mungkin.

Aneh rasanya ketika yang meledek saya adalah laki-laki dibandingkan perempuan. Sepertinya, jika laki-laki yang meledek menampakkan kesan pada saya rasa iba dirinya. Padahal, saya enjoy aja not so much worries. Yha…saya juga percaya jodoh akan datang dengan waktu yang sudah dikehendaki 🙂

Oh, yes! Saya baru menyadari bahwa belakangan ini saya suka sekali like unggahan foto keluarga yang sangat terlihat bahagia. Lalu, berhubung saya sedang ‘liburan’ di rumah maka saya sering bermain dengan adik keponakan yang masih balita. Yha, mungkin saja dua hal ini mengesankan saya yang terlihat ‘ngebet’ nikah. Padahal mah enggak, ENGGAK DAH. 

Fakta sebaliknya, sepertinya dalam prinadi saya mulai tumbuh ‘commitment issues’. Jadi, saya merasa menikah itu bukan suatu hal yang saya ingin-inginkan seperti dahulu. Setelah saya berkontemplasi, menjalani kehidupan mandiri sepertinya cocok untuk kepribadian saya. *saking lamanya ngejomblo kali yha jadinya terbayang enakan sendiri

Begitulah. Belum lagi ditambah  experiences sebagai anak terakhir yang mengalami dinamika kehidupan rumah tangga kakak-kakaknya semakin membuat keraguan untuk menikah. Insecure.

Eh tapi, kalau jodohnya ternyata emang dateng pada suatu hari, saya berdoa semoga dia bisa tangguh dan sabar. Ehehe. Hidup saya penuh keraguan……….

Masih

Masih lagi-lagi tentang kita

Yang amat menyukai hujan

Walaupun juga tak begitu senang jika kehujanan.

Masih lagi-lagi tentang kita

Yang mengagumi sisa rintik

Kala lebat hendak reda

Lalu diam-diam menyisipkan mantera kangen sebelum pergi.

Sumber: Line Deco

Masih lagi-lagi tentang kita

Yang berselisih dalam sangka

Walaupun juga ternyata selalu akrab ketika berjumpa tatap.

Besok, yang entah sampai kapan

Akankah semua masih lagi-lagi tentang kita?