Next Welcoming

Bulan Ramadhan tahun ini sangat banyak hikmah. Aku benar-benar merasakan banyak sekali kejadian yang mengharukan, mengesankan, dan membahagiakan. Aku tahu…aku hanya bisa membohongi diri sendiri dengan kata-kata happy seperti begitu. Apa tujuannya? Ya supaya menyugesti diri agar berbahagia. Tepat begitu seharusnya, kan? ๐Ÿ˜†

Bulan Ramdhan ini aku mencari banyak sekali kalimat “Selamat Datang”. Aku tahu, kita bukan saling meninggalkan. Aku tahu, kita hanya sekadar berpindah kendaraan. Tujuan kita tetap sama, tidak sedikit juga berubah. Aku hanya harus menunggu kalimat “Selamat Datang” dengan lebih sabar.

Haha…aku sebenarnya merasa sangat bersedih. Akan tetapi, hal itu tak cukup kuat menggantikan perasaan bahagia di sisi lainnya. Ya, aku berusaha sebijak mungkin mengimbangi keduanya.

Astrophile-Selenophile-Nyctophileย 

Kau tahu apa yang kusedihkan dari rusaknya kamera sebagai salah satu fitur telepon genggamku? Aku tak bisa mengabadikan momen-momen manis yang istimewa. Malam ini tepat pada malam ke-12 Ramadhan langit tampak sangat indah. 

Saat ini aku tengah mengetik sambil memperhatikan angkasa yang tidak berawan, tidak berangin, sejuk, dan cerah. Aku memutar pandanganku ke segala arah, kudapati banyak sekali kerlip-kerlip bintang yang terlihat mungil dari lantai tiga kosanku ini. 

Bintang-gemintang itu seperti manik-manik ketika terpapar cahaya. Mengerlip-ngerlip imut. Rembulan lebih dari separuh potong itu (hampir penuh) bersinar-sinar terang, putih cerah. Merona bahagia. Gelap malam saat ini sangat indah. Kau harus tahu ini!

Haaa yaampuuunnnn aku senang sekaliii lihat pemandangan semacam ini~~ masyaaAllah <3<3<3

Aku suka banget. Banget. Banget. Bangett!

Saat ini rembulan itu tepat berada di atas kepalaku. Kamu melihatnya? Cantik ya! :)) Kau juga suka kan? Iya…aku juga ingin segera bertemu denganmu. Nanti, kau harus janji tak akan protes menemaniku berlama-lama memandangi langit malam yang indah semacam ini. Ok.

Memperkarakan Aduan

Kesalahan pertama yang selalu diciptakan manusia adalah mengingat makhluk terlebih dulu sebelum mengingat Sang Khaliq. 

“Aku sedih banget. Ingin segera bertemu si A dan mencurahkan isi hatiku yang gelisah ini. Aku butuh teman untuk mendengarkan”.

“Aku senang sekali karena hal X. Sudah nggak sabar menceritakannya kepada si B. Hatiku sangat berbunga-bunga.”

Aku menginsyafi diri sungguh-sungguh bahwa dua hal ini selalu terjadi. Apakah aku merasa sedih atau senang, aku selalu ingin segera menceritakannya pada teman terdekatku. Katarsis; orang bilang begitu.

Padahal semestinya pihak pertama tempat kita bercerita adalah Sang Khaliq. Dzat yang menciptakan segala, termasuk rasa-rasa yang sedang melanda kita saat itu juga. Maka sepatutnya jika kita bersedih, banyaklah bertaubat dan istigfar untuk melapangkan hati dari dosa2. Biarlah sebab kesedihan itu berkurang oleh kasih sayang Allah Swt. yang memberi keluasan ampunan. Maka sepatutnya jika kita bersedih, banyaklah bertawakal dan bertahmid untuk membahagiakan hati dari kejumudan. Biarlah sebab kebahagiaan itu bertambah dari sisi Allah Swt. yang kepada-Nya segala berpulang.

Berdoalah….

Beritakan segala perkaramu pada Rabb Maha Adil. Luaskan lisanmu bercerita kepada-Nya, menyebut-nyebut Asma’-Nya, mengagungkan-Nya. Mudah-mudahan yang demikian menjadi wasilah keimanan bagi kita. Aamiin allahumma aamiin.

Suatu Subuh

Kepada pagi hari yang masih suci, tatkala subuh menjadi kesejukan sejati bagi setiap jiwa..sesungguhnya ia amat banyak dilewatkan begitu saja oleh manusia, bahkan bagi mereka yang masih terjaga oleh kesibukan dunya.

Hai jiwa!

Begitu tak hingga hajat dan keinginanmu kepada Dzat Maha Esa dan Maha Sibuk.

Begitu tak hingga visi dan cita-cita eksistensialmu yang dirimu minta-mintakan kepada Dzat Maha Esa dan Maha Kaya.

Begitu banyak remeh temeh kebutuhan yang dirimu rajuk kepada Dzat Maha Esa dan Maha Tahu.

Tapi, begitu banyak istigfar dan hisab yang dirimu lewatkan. Padahal, dirimu sepatutnya menginsyafi bahwa setiap dosa itu menghalangi berhimpunnya keberkahan Allah dalam diri seseorang.

Maka, semoga setelah ini istigfar dan hisab terlebih-lebih dirimu kuatkan lagi sebelum sekian banyak hajat dan keinginan itu dirimu minta-mintakan kepada Allahu rabbil’alamin. Semoga Allah mempertemukan setiap jiwa yang diridhai Allah dengan sebaik-baik pertemuan yang dijanjikan-Nya kelak.  Semoga kesemuanya Allah perkenankan kepadamu. Aamiin allahumma aamiin.

====:::====

Oh, Allah aku tak mengerti bagaimana menyepadankan setiap Keagungan Asma’-Mu dalam setiap kata-kata komunikasi kepada-Mu. Oleh sebab karena aku sangat memahami setiap Asma’-Mu adalah Keagungan. Harap hamba bahwa Engkau mengampuni. Aamiin.

Early morning activity.

Aktivitas pada sepagi hari ini (25/05) sungguh rempong. Bahkan, kerempongan ini sudah dimulai sejak semalam tadi. Apakah penyebabnya? Arisan.

YaaAllah, aku akan mencoba belajar memasak. Tolong bantu aku. Aku akhirnya menyadari bahwa se-enggak kompeten apapun perempuan untuk menjadi isteri, minimal yang harus dipunyai adalah semangat belajar dan dukungan suami. 

“Panggil tetangga aja, Ma buat masakin. Daripada nanti rasanya nggak karuan”, kata seorang suami kepada isteri. Sang isteri hanya menjawab dengan diam.

Aku bisa merasakan hati sang isteri merasa sedikit tersinggung. “Ah, memang gak bakat masak”, sang isteri bergumam di hadapanku setelah menyicipi hidangan eksperimennya sendiri. Aku hanya menatap jerih, waduh gimana dong aku juga gak bisa masak


Ayolah, para suami…

Dukunglah para isteri meningkatkan kemampuan memasaknya. Sama seperti kesenian, memasak juga butuh bakat dan potensi yang perlu ditumbuhkan.

“Yang ini kok belum jadi dimasak?”, tanyaku sambil menunjuk kuali besar berisi ayam kampung yang sudah diungkep sang isteri.

“Nanti aja nunggu Mama Nita yang masak. Nanti dimarahin lagi sama bapakmu kalau ga enak”.

Aku tersenyum simpul sambil terkekeh kecil kepada sang isteri yang tak lain adalah mamakku. Ya ampun jadi isteri begini banget dramanya yah…

๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚