Selaksa Hati.

Beberapa bulan lalu aku tekun sekali menggeluti mimpi berumah tangga.

Hari ini justeru asik saja tersenyum berkata..ah, mungkin masih belum dalam waktu dekat segera.

Saatnya mendoa.

Tatkala perasaan ini sedang tak mencondongkan pada satu deret nama, aku rasa berdoa menjadi pilihan tepat.

Advertisements

Mengentaskan Masalah Penanggulangan

image

Nampaknya penanggulangan masih membenihkan butir-butir permasalahan, khususnya tentang problematika HIV/AIDS. Mungkin, saat ini kita belum siap untuk mengentaskan. Akhirnya, legalitas cannabis, lokalisasi, kondom, jarum suntik steril, dll dianggap efektif dilakukan daripada berdiam, bahkan membuang tenaga dan tenggelam dalam api orasi.

Di sisi lain, mungkin para elit pemikir (praktisi, akademisi, dkk) sudah menyadari sebetulnya masalah sosial memiliki banyak pendekatan strategis. Dan bagiku, pendekatan agama itulah kesempatan besarnya. Bolehlah aku argumentasikan Pancasila ayat Satu agar tak terkesan apa-apa. Selagi para kaum agamis belum terkontaminasi kepentingan. Selagi juga kaum generasi konservatif-agamis masih berjaya di depan hidung anak-anak zaman modern-liberalis. Dosa dan pahala masih relevan disahkan sebagai hukum sakral. Sebab segala apa yang asli dahulu, kini telah banyak bermetamorfosa. Sebelum akhirnya zaman menggulirkan kuasanya kepada generasi yang berhukum pada untung dan rugi

Lihat saja, kini kaum pemikir yang lahir dari rahim norma-norma etis mulai gelisah dengan moral anak bangsa. Rasanya mereka patut merasa bertanggung jawab, sebab moral anak bangsa zaman sekarang lebih dominan diasuh dan ditimang oleh bias reformasi. Bukan mental modern yang terbina, tapi justru gegar budaya yang terjadi. Pendidikan karakter dititahkan di atas kepala pendidik di seluruh penjuru Ibu Pertiwi.

Aku hanya berdoa agar pendidikan karakter tsb diimbangi oleh penguatan agama supaya tidak terjadi monopoli yang lebih parah. Bagaimanapun, agama itu asli. Bukan karakter yang dapat dipolitisisasi oleh ujung pena magis milik penguasa. Jangan sampai sudah materi dimonopoli, karakterpun terjadi demikian.

Pertanyaan kita: belum atau tidak siap?

#indonesiasadar #tanpastigma #aidsawareness #tauhidlife

Tunas Harapan.

Kita yang kini sedang tumbuh dewasa pernah atau masih menjadi tunas harapan. Adakah kita ingat dulu kita mengucap 1001 bermacam cita-cita? Dokter, Polisi, Tentara, Perawat, Bidan, Guru, Insinyur, dan lain-lain. Pasti kita pernah menyebut satu atau bahkan semua nama profesi tersebut karena memang sedari dini kita selalu ditanyakan, “Kalau sudah besar ingin menjadi apa, Nak?”. Artinya, sedari dini kita diharapkan bisa mulai melihat suatu masa secara jauh ke depan.

Tapi, apakah semata-mata kemudian ‘kita cilik’ akan meraih apa yang kita cita-citakan disebabkan usaha kita sendirian? Kenyataannya, justru peran orang tua akan membentuk bagaimana ‘kita cilik’ di masa dewasa. Apa yang akan ‘kita cilik’ raih di masa dewasa adalah hasil yang cukup bisa mempresentasikan proses bagaimana orang tua kita ‘menumbuhkan harapan’. Sebab, kitalah sebenarnya tunas harapan itu, dan yang merawat kita bukanlah sesiapa lain melainkan orang tua kita. 

image
Kartini Muda Cibuntu

Apakah kita kini berpijak mendalami ilmu kesehatan karena pernah diajarkan orang tua untuk menolong orang lain yang kesakitan?

Apakah kita kini berpijak mendalami ilmu militer karena pernah diajarkan orang tua untuk melindungi orang lain yang tidak mendapat keamanan?

Apakah kita kini berpijak mendalami ilmu sosial karena pernah diajarkan untuk membantu kesusahan hidup seseorang di dalam lingkungannya?

Pada akhirnya, kita ini adalah tunas harapan yang telah ditumbuhkan dan dirawat sedemikian rupa oleh orang tua. Kita tidak dengan serta-merta tumbuh begitu saja tanpa rawatan dan perhatian dari luar diri kita sebagai individu. Dan akan menjadi sangat lucu saat akhirnya orang tua tidak mendapatkan apa yang ia inginkan dari tunas yang telah ia besarkan. Inilah fenomena yang umum terjadi, iya bukan?

Lalu, apakah salah saat dulu orang tua mengharapkan kelak dewasa kita harus bisa membantu orang lain yang kesusahan dan akhirnya kita tumbuh menjadi ‘pribadi ulur tangan’ dibandingkan ‘pribadi ulur dana’? Dan kita memilih hal berbeda; mungkin menjadi relawan pro tak berbayar atau akuntan pro selangit berbayar. Meskipun keduanya bisa satu makna, yaitu mampu membantu orang susah, namun jalan tempuh yang dipilih berbeda. Sehingga aku memaknai, sesungguhnya cita-cita terletak bukan pada bentuk profesi melainkan pada tujuan dibalik profesi yang dijalankan tersebut. Dan bisa saja ternyata selama ini kita hanya salah melihat untuk kemudian menyimpulkan bahwa ‘tunas harapan’ ini gagal terbentuk hanya karena profesi yang berbeda. Sekiranya orang tua perlu memahami ini sehingga tidak menghukum ‘tunas harapan’ dengan memberikan cap ‘gagal’.

@Butas361, 01.27 WIB

Little Tripvaganza

image

Saat ini aku sedang mengetik di satu wahana rekreasi rakyat namanya Teras Cikapundung. Sebetulnya ini dadakan aja karena tadinya mau ke DT untuk donor darah. Dan sesuai prediksi, gagal deui donor darahnya. Sekalian lewat, ke sini aja deh.

Di sini entah darimana ide pak RK untuk modifikasi sungai yang tadinya nggak seindah sekarang jadi wahana rekreasi. Merakyat pula. Biaya bahagia jadi murah. Heheh. Biasanya untuk masuk wahana rekreasi itu mahal, di sini sih cuman Rp3.000,00. Yaa lumayanlah yaa. Eh tapi itu di luar biaya ongkos.

Di sini juga ada badut-badut yang sebetulnya kalo di jalanan bebas trlihat nggak ada prestige nya sama sekali. Tapi pas di sini, badut-badut jadi kelihatan “usaha kesenian” yang lebih bermartabat, rapi, dan bersih. Ada bumble bee, iron man, doraemon, elsa, hello kitty, spongebob udah kayak nonton disney deh. Masih dengan pakai kostum, mereka saling ngobrol satu sama lain bahkan juga ngobrol dengan ‘human’ yg minta foto-foto. Hahahh iya sih ini imajinasi aja. Tapi aku malah trlempar dr dunia nyata untuk menikmati dunia yg ada di depan mata saat ini.

Kalau aku di posisi pak RK, aku bakalan bahagia ngelihat rakyat juga bahagia. Tersenyum, interaksi luwes, tertawa, dll. Tapi aku bukan pak RK. Aku hanya jadi warga sementara pak RK aja. Dan hal yang bisa kulakukan adalah mengucapkan terima kasih pak RK!

Terima kasih sudah mengupayakan badut itu tersenyum ceria, terima kasih sudah membuat anak-anak kecil berkesempatan digandeng oleh ibu bapaknya berkeliling dg bahagia, terima kasih sudah memberikan kesempatan aki nenek tertawa, terima kasih sudah memberikan ruang muda-mudi berekspresi, terima kasih sudah mengenalkan cinta kepada kota…terima kasih 💞

Cikapundung, 10.50 WIB

Kesabaran.

Bisakah aku seperti Nuh yang tak bergeming meskipun orang-orang tercintanya tak patuh?
Bisakah aku seperti Yunus yang terus bertahan sampai diuji dengan tiga kegelapan?
Bisakah aku seperti Muhammad yang tak putus menyalakan cahaya meskipun didustakan?

Akankah aku hanya jadi penoreh luka dalam sejarah, sebab kuakui aku terlalu banyak lelah..
Akankah aku hanya jadi penoreh luka dalam sejarah, sebab kuakui aku terlalu mudah marah..
Akankah aku hanya jadi penoreh luka sejarah, sebab kuakui aku terlalu suka merasa jengah..

Siang ini dalam agenda pekanan pengisian daya ruh, aku tersuruk oleh kenyataan. Seluruh emosi negatif yang mendorongku untuk bergeming dan menjauh beberapa waktu ini adalah satu macam rasa dakwah yang kuharus kecap dan cerna. Tak aku ingkari bahwa semua itu begitu greget dan sebal dijalani.. tapi, yang perlu dipelajari adalah harus صبر dan شكر ! Kini kunikmati Islam sebab Muhammad dan Sahabatnya tak pernah lelah bersabar dan senantiasa menikmati setiap syukur. Biarlah siang tadi menjadi sebab aku kembali menata kerangka sabar dan syukurku.

Kau takkan pernah tersuruk kecuali dengannya kau diharuskan terbangun.

Butas 361, 23.58 WIB