Ways of love

Jangan musuhi aku karena berpayung menghindari rintik hujan, disaat dirimu tahu aku menyukai hujan.

Hey, menyukai sesuatu itu tidak perlu berlebihan. Kita ‘kan juga harus tahu batas normal dan tidak normal dalam bersikap. Masa iya sih, mau mendzalimi orang yang gampang kena flu dengan menyuruhnya menikmati hujan dengan caramu—main hujan-hujanan?

Kita bisa menyukai—kebaikan—apapun. Seberapa besarnya kita yang mengendalikan. Dia kaya kendaraan yang punya banyak rambu-rambu. Peringatan #1: jangan dzalim! Well, kita diperintahkan untuk jadi umat pertengahan. Selamat mengemudi dan menikmati perasaan suka~

Next Welcoming

Bulan Ramadhan tahun ini sangat banyak hikmah. Aku benar-benar merasakan banyak sekali kejadian yang mengharukan, mengesankan, dan membahagiakan. Aku tahu…aku hanya bisa membohongi diri sendiri dengan kata-kata happy seperti begitu. Apa tujuannya? Ya supaya menyugesti diri agar berbahagia. Tepat begitu seharusnya, kan? 😆

Bulan Ramdhan ini aku mencari banyak sekali kalimat “Selamat Datang”. Aku tahu, kita bukan saling meninggalkan. Aku tahu, kita hanya sekadar berpindah kendaraan. Tujuan kita tetap sama, tidak sedikit juga berubah. Aku hanya harus menunggu kalimat “Selamat Datang” dengan lebih sabar.

Haha…aku sebenarnya merasa sangat bersedih. Akan tetapi, hal itu tak cukup kuat menggantikan perasaan bahagia di sisi lainnya. Ya, aku berusaha sebijak mungkin mengimbangi keduanya.

Astrophile-Selenophile-Nyctophile 

Kau tahu apa yang kusedihkan dari rusaknya kamera sebagai salah satu fitur telepon genggamku? Aku tak bisa mengabadikan momen-momen manis yang istimewa. Malam ini tepat pada malam ke-13 Ramadhan langit tampak sangat indah. 

Saat ini aku tengah mengetik sambil memperhatikan angkasa yang tidak berawan, tidak berangin, sejuk, dan cerah. Aku memutar pandanganku ke segala arah, kudapati banyak sekali kerlip-kerlip bintang yang terlihat mungil dari lantai tiga kosanku ini. 

Bintang-gemintang itu seperti manik-manik ketika terpapar cahaya. Mengerlip-ngerlip imut. Rembulan lebih dari separuh potong itu (hampir penuh) bersinar-sinar terang, putih cerah. Merona bahagia. Gelap malam saat ini sangat indah. Kau harus tahu ini!

Haaa yaampuuunnnn aku senang sekaliii lihat pemandangan semacam ini~~ masyaaAllah <3<3<3

Aku suka banget. Banget. Banget. Bangett!

Saat ini rembulan itu tepat berada di atas kepalaku. Kamu melihatnya? Cantik ya! :)) Kau juga suka kan? Iya…aku juga ingin segera bertemu denganmu. Nanti, kau harus janji tak akan protes menemaniku berlama-lama memandangi langit malam yang indah semacam ini. Ok.

Memperkarakan Aduan

Kesalahan pertama yang selalu diciptakan manusia adalah mengingat makhluk terlebih dulu sebelum mengingat Sang Khaliq. 

“Aku sedih banget. Ingin segera bertemu si A dan mencurahkan isi hatiku yang gelisah ini. Aku butuh teman untuk mendengarkan”.

“Aku senang sekali karena hal X. Sudah nggak sabar menceritakannya kepada si B. Hatiku sangat berbunga-bunga.”

Aku menginsyafi diri sungguh-sungguh bahwa dua hal ini selalu terjadi. Apakah aku merasa sedih atau senang, aku selalu ingin segera menceritakannya pada teman terdekatku. Katarsis; orang bilang begitu.

Padahal semestinya pihak pertama tempat kita bercerita adalah Sang Khaliq. Dzat yang menciptakan segala, termasuk rasa-rasa yang sedang melanda kita saat itu juga. Maka sepatutnya jika kita bersedih, banyaklah bertaubat dan istigfar untuk melapangkan hati dari dosa2. Biarlah sebab kesedihan itu berkurang oleh kasih sayang Allah Swt. yang memberi keluasan ampunan. Maka sepatutnya jika kita bersedih, banyaklah bertawakal dan bertahmid untuk membahagiakan hati dari kejumudan. Biarlah sebab kebahagiaan itu bertambah dari sisi Allah Swt. yang kepada-Nya segala berpulang.

Berdoalah….

Beritakan segala perkaramu pada Rabb Maha Adil. Luaskan lisanmu bercerita kepada-Nya, menyebut-nyebut Asma’-Nya, mengagungkan-Nya. Mudah-mudahan yang demikian menjadi wasilah keimanan bagi kita. Aamiin allahumma aamiin.

Paradoxically

You will find some paradoxical things in me, always. I will say thank you for every tears i made because of you, even though this heart breaks into very little pieces. I will say okay for every your arguments i disagreed, even though this emotion seethe into very maximum level it may possible. You may to know that i hate to hurt people’s feelings. So did i do to you. I’m trying to be honest, but it’s so hard to do. Because your smile always be my main priority before all the feelings behind it. If it’s hard for you to accept these paradoxes, so at least please pardon my English. You know, i’m just trying to explain these things through different way that because i think it may-seems-not-so-directly-addressing to anyone.

Suatu Subuh

Kepada pagi hari yang masih suci, tatkala subuh menjadi kesejukan sejati bagi setiap jiwa..sesungguhnya ia amat banyak dilewatkan begitu saja oleh manusia, bahkan bagi mereka yang masih terjaga oleh kesibukan dunya.

Hai jiwa!

Begitu tak hingga hajat dan keinginanmu kepada Dzat Maha Esa dan Maha Sibuk.

Begitu tak hingga visi dan cita-cita eksistensialmu yang dirimu minta-mintakan kepada Dzat Maha Esa dan Maha Kaya.

Begitu banyak remeh temeh kebutuhan yang dirimu rajuk kepada Dzat Maha Esa dan Maha Tahu.

Tapi, begitu banyak istigfar dan hisab yang dirimu lewatkan. Padahal, dirimu sepatutnya menginsyafi bahwa setiap dosa itu menghalangi berhimpunnya keberkahan Allah dalam diri seseorang.

Maka, semoga setelah ini istigfar dan hisab terlebih-lebih dirimu kuatkan lagi sebelum sekian banyak hajat dan keinginan itu dirimu minta-mintakan kepada Allahu rabbil’alamin. Semoga Allah mempertemukan setiap jiwa yang diridhai Allah dengan sebaik-baik pertemuan yang dijanjikan-Nya kelak.  Semoga kesemuanya Allah perkenankan kepadamu. Aamiin allahumma aamiin.

====:::====

Oh, Allah aku tak mengerti bagaimana menyepadankan setiap Keagungan Asma’-Mu dalam setiap kata-kata komunikasi kepada-Mu. Oleh sebab karena aku sangat memahami setiap Asma’-Mu adalah Keagungan. Harap hamba bahwa Engkau mengampuni. Aamiin.

Sepasang Pagi dan Petang

Menantikan hari esok jadi pekerjaan paling asyik dilakukan bagi Owen. Akhir-akhir ini ia berhasil berdamai terhadap alergiknya akan kata kerja menunggu. Ada suatu momen yang mendorong Owen mulai terbiasa menyimpan harapan kepada hari-hari yang berganti bersamaan dengan merekahnya rona matahari pada awal pagi.

“Aku tak bisa hanya menyukai senja, lalu membenci pagi, Jana. Sepasang doa dan dzikir saja terikat pada dua waktu, pagi dan petang”, kata Owen kepada Jana yang tengah sibuk menalikan sepatunya. Kelihatannya Jana menyimak dengan baik, meskipun tak begitu tertarik dengan tema pembahasan Owen.

“Mencintai pagi harus dengan kegigihan, sementara mencintai senja harus dengan ketulusan. Mungkin kamu juga harus memahami ini, Owen. Begitulah pandangaku untuk menganggapi pernyataanmu.” Jana sudah bersiap pergi karena siang hari itu masih ada jadwal mata kuliah lain. Owen tak berkeinginan menanggapi apa-apa dan membiarkan Jana berpamit lebih awal mendahuluinya.

Setelah jarak mereka cukup berjauhan, Owen masih tetap berada dalam alam pikirannya. Ia sedang berusaha menyelami kata-kata yang diucapkan Jana tadi. Owen kemudian menyunggingkan senyum—amat—tipis. Menurutnya, Jana terlalu bijak untuk membuat kesalahan dalam menanggapi hal seperti ini. Owen membenarkan pandangan Jana, dan berterima kasih kepadanya dalam hati. 

=====::::=====