Menjangkaumu lewat huruf-huruf yang usang.

Aku tidak akan bertanya bagaimana kabarmu saat ini. Aku selalu percaya bahwa engkau akan selalu baik-baik saja, bahkan dalam keadaan yang sulit sekalipun. Itulah keahlian istimewamu, dan mungkin engkau tidak sadar.

“Siapakah ‘engkau’?”, tanya mereka.

“Inilah engkau”, jawabku.

Aku memuji diriku sendiri karena terlalu pandai melakukan kesalahan dengan berkali-kali. Aku selalu menuliskan tentang engkau yang mereka tidak perlu tahu–dan tidak perlu mengira-ngira siapa, yaitu sejak ada rindu kepadamu yang mengisi hati. Rindu itu bagai tinta yang menetes terus-menerus mengisi sebuah pena sehingga harus dialirkan untuk dituliskan lewat cerita, jika tidak akan tumpah berantakan.

Hari ini kerinduan itu tidak jua berubah bentuk. Akan tetapi, aku mulai ragu untuk menuliskannya. Iya, benar…rindu itu kini tumpah berantakan. Apa yang hari ini aku lakukan adalah membaca setiap cerita yang pernah aku tuliskan sewaktu dulu.

“Mengapa tertawa?”, tanya mereka lagi.

“Aku malu. Sampai saat ini semuanya sia-sia belaka”, jawabku.

Hhm…baiklah, aku akan berusaha menepati janjiku. Aku akan mengumpulkan semua yang sia-sia ini. Hei, apakah engkau ada ide bagaimana menyusun ulang alurnya?

Advertisements

Ada yang pernah ada.

Ada yang pernah ada, namun kini hilang. Kita dengar kesulitan seseorang yang amat pelik. Lalu, hanya sebuah komentar yang terlontar: “Apakah presiden kita tahu hal ini? Tidak ada yang peduli dengannya.”  

Ya. Barangkali aku masih belum merasakan hidup yang sebenarnya, yaitu penuh onak dan duri. Tapi, aku ingin sekali berkhayal…andaikata kita semua kembali kepada prinsip gotong royong, apakah komentar ini akan tetap terlontar?

Hidup Itu Kudu Berjuang!

“Aku membenci perspektif Owen yang melihat bahwa hidup ini sungguhan seperti air mengalir. Sering sekali aku ingin membedah otaknya dan membenarkan cara berpikirnya yang membuat dirinya semakin tak acuh.” 

— Jana, di malam hari tepat setelah cahaya matahari tersapu sinar redup sepotong rembulan.

Jatuh cinta.

“Karena tersadar bahwa aku lebih dari mengharapkanmu, maka aku diam. Aku sudah jatuh cinta dengan cara yang tak terduga, dan juga dengan jalan yang tak pernah kukira. Adapun bagaimana akhirnya, aku tak ingin menerka-nerka. Bersamamu atau tidak, kini bukan lagi perihal genting. Menyaksikan engkau berbahagia dengan pilihanmu, itu adalah final perasaanku. Aku jatuh cinta padamu, juga pada pilihan mencintai pilihanmu.”

— Owen, di pagi hari menuju siang yang tak begitu terik seperti biasanya.

Welcome back!

Selamat datang kembali, wahai penulis yang tak kunjung mahir menulis! Mari kita ramaikan lagi jagat maya di wordpress ini. Oiya, Alhamdulillah….saya sekarang sudah kembali lagi ke Cibubur, Jakarta. Empat tahun terasa begitu cepat dilalui saat semua berhasil diakhiri dengan rasa syukur dan suka-cita pada tanggal 3 Oktober yang lalu.

Baiklah, mulai dari sini kita kembali bercerita soal apa saja tentang kepulanganku. Semoga saya bisa lebih konsisten menuliskannya di sini. Maaf kalau ada beberapa bagian tulisan bersambung yang belum berlanjut, ehehehehe. 😜

</3

Siapa yang tidak akan jatuh cinta kepada jalan dakwah dan orang-orang yang menekuninya? Bahkan dari orang yang paling keras hati atau keras pikiran juga bisa merasakannya. Lalu, kenapa aku berhenti?

Katanya, duduklah bersama orang-orang yang banyak menyebut Asma’ Allah. Katanya, duduklah bersama orang shalih. Katanya, tukang minyak wangi seperti orang shalih yang mudah menyebarkan bekas harumnya.

Iya, katanya.

Akan tetapi, entah apa yang aku lakukan. 😦 😦