Hari Blokir Nasional

Hari ini ada sebuah berita yang sedang hangat diperbincangkan. Terkait dengan isu dan fenomena terorisme yang banyak terjadi di Indonesia saat ini, akhirnya pemerintah semakin serius untuk menangani hal ini. Dikeluarkannya Perppu No. 2 Tahun 2017 tentang Organisasi Masyarakat saya rasa menjadi titik mula terpicunya reaksi pro dan kontra di antara masyarakat. Katanya, kok kebebasan masyarakat dikekang kaya waktu Orba sih! Apakah pemerintah mulai menunjukkan sistem totaliternya?





Biasanya, Perppu dikeluarkan untuk situasi darurat. Tapi, menurut saya sih…isu ini masih belom terlalu darurat. Hehehe. Peace out, Pak Joko! Maksud saya, apa segitu terancamnya Indonesia sampai betul2 itu Perppu akhirnya tetap dikeluarkan padahal ketika masih menjadi wacana sebelumnya, ide ini lebih banyak yang kontra. 

Selanjutnya nih, ada hal lagi kontroversi yang menyusul diterbitkannya Perppu, yaitu pemblokiran situs-situs media sosial yang terindikasi sebagai sumber penyebarluasan paham radikal dan teroris. Otomatis laaa~ netizen spontan bereaksi macam-macam. Pada umumnya, netizen tidak mendukung langkah pemerintah ini. Yeep! Bukan nggak mungkin pemerintah tidak memprediksi sampai ke sini. Kita tinggal tunggu aja langkah antisipasi dari pemerintah dari akibat yang akan muncul disebabkan kebijakannya yang unik ini.

Lucu sih, ketimbang menggunakan kata-kata makian, di timeline twitter saya justeru ramai cuitan sarkas/satir. Saya yang tadinya mulai gerah, perlahan jadi merasa sejuk kembali setelah tertawa-tawa membaca cuitan-cuitan tersebut. Diantara cuitan yang lucu ini berisi kata-kata yang meniru pernyataan pemerintah. Seolah bumerang. Besok nasi akan diblokir karena teroris ‘kan makan nasi. Teroris juga hidup karena udara, blokir udara! Blokir angkot karena sarangnya copet! Kondektur dihapus aja soalnya hobi nggak kasih kembalian!





Tadaaa~ jadilah Hari Blokir Nasional berkat Perppu yang hari ini trending!


Okelah, saya memang nggak ahli soal hukum…tapi, nggak apa-apa ya jika saya memahami sesuai cara berpikir saya berdasarkan apa yang saya selami. Itu ajasih. Trus kenapa saya sampai posting di blog? Biar blog saya mencatat peristiwa bersejarah ajaa EHEHE!

Advertisements

Reflect 

Sumber: ig @actforhumanity

Allahummagfirlahu warhamhu wa’afihi wafu’anhu. YaaAllah, artinya beliau sudah di Aleppo sejak usia 18 tahun. Usia dimana saya waktu itu sedang sibuk galau tentang sekolah, lalu kini seringkali galau tentang pasangan hidup. Beliau membuat saya malu, sekaligus merasa iri. Beliau seolah menyadarkan tentang bagaimana dulu saya ingin berada di posisi beliau. Namun, kini sepertinya beliau menyadarkan bahwa mungkin selama ini saya memang tak pernah serius tentang azzam saya. </3

At Impression

Yep. Aku termasuk orang yang mudah gak suka kalau lihat penampilan orang yang urakan, serem, sangar, atau beringas. Sebelum kenal lebih jauh, aku bakal ketakutan lebih dulu dan menjauh. Tapi, ada beberapa orang yang emang penampilannya begitu dan hatinya masih pada fitrahnya; lembut. Katanya orang yang begini disebut wajah preman, tapi hati hello kitty. 

Menjadi Makna

Sumer: Pinterest (diedit)

Bagaimana bersepakat denganmu soal cinta? Kita tetap butuh kata-kata untuk diungkap—paling tidak—agar bisa diingat. Bagiku, mencintaimu sama seperti menjagamu dalam hati; tempat di mana ia bisa berubah, tapi selalu kembali karena doa. Banyak yang terjadi di antara kita, dan semuanya kuharap menjadi kelayakan istimewa bagiku.

Mungkin aku bukan sosok yang cocok (apalagi tepat). Mungkin bukan juga sosok yang sepadan (apalagi pantas).

Mungkin…

Ketika mendapatimu masih di sisi dengan semua kemungkinan itu, tak ada yang bisa kuungkap, kecuali syukur. Syukur atas segala maklum yang terhadiahkan. Syukur atas setiap pesan yang membaikkan. Syukur atas usaha-usaha gigih nan manis yg dilakukan kepadaku untuk mem-back up kelemahan. Apalagi yang bisa kusampaikan dan ingin kaudengar? 

===○○===

Biarkanlah karena doa yang akan menjawab sisanya untuk kita. 🌹🌹🌹

Ways of love

Jangan musuhi aku karena berpayung menghindari rintik hujan, disaat dirimu tahu aku menyukai hujan.

Hey, menyukai sesuatu itu tidak perlu berlebihan. Kita ‘kan juga harus tahu batas normal dan tidak normal dalam bersikap. Masa iya sih, mau mendzalimi orang yang gampang kena flu dengan menyuruhnya menikmati hujan dengan caramu—main hujan-hujanan?

Kita bisa menyukai—kebaikan—apapun. Seberapa besarnya kita yang mengendalikan. Dia kaya kendaraan yang punya banyak rambu-rambu. Peringatan #1: jangan dzalim! Well, kita diperintahkan untuk jadi umat pertengahan. Selamat mengemudi dan menikmati perasaan suka~

Next Welcoming

Bulan Ramadhan tahun ini sangat banyak hikmah. Aku benar-benar merasakan banyak sekali kejadian yang mengharukan, mengesankan, dan membahagiakan. Aku tahu…aku hanya bisa membohongi diri sendiri dengan kata-kata happy seperti begitu. Apa tujuannya? Ya supaya menyugesti diri agar berbahagia. Tepat begitu seharusnya, kan? 😆

Bulan Ramdhan ini aku mencari banyak sekali kalimat “Selamat Datang”. Aku tahu, kita bukan saling meninggalkan. Aku tahu, kita hanya sekadar berpindah kendaraan. Tujuan kita tetap sama, tidak sedikit juga berubah. Aku hanya harus menunggu kalimat “Selamat Datang” dengan lebih sabar.

Haha…aku sebenarnya merasa sangat bersedih. Akan tetapi, hal itu tak cukup kuat menggantikan perasaan bahagia di sisi lainnya. Ya, aku berusaha sebijak mungkin mengimbangi keduanya.